Sejak beberapa waktu lalu, Kota Ambon
diramaikan dengan berseliwerannya isu tak sedap terkait hubungan sosial antar
warga. Hal mana menunjukan masih ada sekelompok manusia yang
masih ingin mencoba merongrong ketentraman hidup warga kota ini. Isu-isu
itu memunculkan kekuatiran dan ketakutan warga, mengingat kita semua di kota
dan daerah ini punya pengalaman pahit dari konflik 1999. Syukurlah bahwa orang
semakin sadar akan pentingnya menghindarkan komunitas bentrokan sehingga setiap isu disikapi
secara dewasa dan arif. Syukurlah juga bahwa dalam setiap komunitas seperti
Gunung Nona, Air Salobar, Batu Gantung, Waringin, Talake, Waihaong dan lainnya
ada figur-figur yang dapat memainkan peran untuk merasionalkan situasi dan menenangkan warganya. Walaupun
tidak sampai terjadi hal-hal bernuansa kekerasan antar warga, namun kekuatiran
itu sempat membuat sebagian orang menjadi ragu – ragu untuk berbaur dengan
komunitas yang berbeda dengannya.
Pemerintah Propinsi Maluku dengan sigap mengambil langkah mendialogkan
upaya-upaya strategis untuk menyikapi hal tersebut, mencegah berubahnya isu
menjadi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan . Demikian juga Pemerintah Kota
Ambon. Dialog-dialog itu dibangun di tingkat elit-elit pemerintahan dan
keamanan.
Lain halnya dengan gerakan masyarakat sipil. Yayasan LAPPAN,
salah satu lembaga non pemerintah berbasis masyarakat sipil, mendorong terbangunnya saling percaya antar
warga dengan menggelar temu anak komunitas dalam rangka perayaan Hari Anak
Nasional. Temu anak itu diselenggarakan pada tanggal 25 Juli 2015, mengambil
tempat di gedung gereja lama Jemaat Betabara Kayu TIga, Ambon. Hadir dalam kegiatan itu anak-anak dampingan LAPPAN dari Air
Salobar, Air Besar, Lorong Andreas Ahuru dan Kayu Tiga sendiri. Air Salobar dan
Air Besar adalah komunitas muslim sedangkan Lorong Andreas dan Kayu Tiga adalah
komunitas Kristen.
Mereka saling berbaur, bermain dan berdiskusi bersama.
Anak-anak ini berdialog dengan ibu Jaksa tentang bentuk-bentuk kekerasan
terhadap anak yang terjadi dalam kehidupan mereka di rumah, di lingkungan
temapt tinggal dan di sekolah. Ibu Jaksa memberikan penjelasan tentang hak anak
untuk bebas dari segala bentuk kekerasan, tentnag undang-undang perlindungan
anak dan tentang sistim peradilan anak. Walaupun bukan merupakan informasi yang
baru bagi anak-anak komunitas ini, namun mendiskusikannya langsung dengan ibu
Jaksa sebagai Aparat Penegak Hukum memberikan mereka pengalaman yang baru.
Dengan ibu Onna Far-far, anak-anak mendialogkan
kesulitan-kesulitan mengakses fasilitas public seperti anak lorong andreas
mengeluhkan tidak adanya mobil angkutan umum di daerah tempat tinggalnya yang
sehingga orang tua harus membayar mahal untuk ke sekolah setiap harinya. Anak
dari Air Besar yang mengeluhkan kesulitan air bersih untuk kebutuhan hidup
sehari-hari.
Jika kesulitan-kesulitan seperti itu dikemukakan oleh orang
tua, mungkin hal itu kedengarannya biasa-biasa saja. Tetapi ketika keluhan itu
keluar dari bibir mulut anak-anak usia SD dan SMP secara polos tanpa rekayasa,
hal ini tentu sesuatu yang luar biasa. Mereka
merasakan kesulitan itu sehari-hari, menyimpannya dan kemudian begitu
ada kesempatan bertemu dengan figure anggota DPRD Kota mereka tergerak
sendirinya untuk menyuarakan.
Dengan atraksi-atraksi seni, selain mereka mendapatkan
hiburan dalam bentuk sederhana, mereka belajar untuk saling memberikan
penghormatan atas atraksi-atraksi seni berbasis Muslim dan Kristen yang
ditampilkan. Inilah aspek terpenting yang perlu terus dikembangkan yaitu
menanamkan benih saling menghormati dan menghargai perbedaan yang dimiliki
setiap orang dan setiap kelompok dalam masyarakat kita.
Menguatnya orientasi politik di negara ini ke level
komunitas yang membuka ruang-ruang eksploitasi isu keberagaman untuk
kepentingan politik, apalagi bila perkembangan pikiran-pikiran primordial tidak
dapat dikelola dengan baik atau malah dipolitisir. Hal ini memunculkan
kekhawatiran kelompok civil society yang
melihat sebuah tantangan besar menghadang bangsa ini di masa depan. Tantangan
itu adalah bagaimana membangun imunitas masyarakat terhadap konflik kepentingan
dalam heterogenitas dan dinamika politik yang ada; Olehnya, sejak dini kita
sudah harus memikirkan langkah-langkah strategis untuk memperkuat ketahanan
sosial dan integrasi komunitas dalam berbagai keberagaman yang ada. Pendampingan
anak sebagai pemilik masa depan adalah salah satu segmen strategis untuk itu. Hal
ini yang mendorong LAPPAN untuk merayakan HAN 2015 dalam format demikian, dan
berkomitmen untuk terus mendorong kegiatan-kegiatan berbasis komunitas dalam
berbagai bentuk.
Merefleksi apa yang terjadi di Kota Ambon belakangan ini dan
komitmen masyarakat sipil di HAN 2015, menurut kami pemerintah mestinya
mendorong dan memfasilitasi penyelenggaraan kegiatan-kegiatan kolaboratif
berbasis komunitas seperti ini. Tidak hanya berhenti pada dialog-dialog populis
yang sesungguhnya tidak menyentuh langsung eksistensi dan kebutuhan masyarakat
atau mungkin akan panjang jalannya untuk sampai ke masyarakat. Kegiatan-kegiatan
ini akan membangun benteng ketahanan sosial dari masyarakat, yang pada akhirnya
akan terbangun mekanisme pengelolaan isu di kota ini. Semoga demikian.
