Sering sekali terjadi perjumpaan yang tidak kita duga.
Seperti semalam, ketika saya berjumpa dengan seseorang… perempuan asal Kei,
Maluku Tenggara. Wajahnya sangat khas perempuan Maluku, tetapi saya tidak
mengenalinya, sampai dia mengingatkan saya tentang siapa dirinya.
“Ini ibu Lusi kan?” sapanya mengawali dan kemudian
menyambung dengan pertanyaan lain untuk lebih meyakinkan dirinya: “ibu lusi
yang dulu di Bawaslu kan?” Saya yang sedari sapaan awal menyambutnya dengan
senyum dan anggukkan penuh hormat kepadanya menjadi merasa bersalah karena
tidak mengenali perempuan yang nampaknya mengenali saya dengan baik. “Jang
marah Ibu, beta kayaknya lupa, ibu tolong kasih inga, beta deng ibu ketemu
dimana e?” Saya mencoba mencari tahu siapa beliau dengan cara dan dialek khas
Ambon yang menurut saya cukup santun. Beliau pun menjawab dan menceritakan
siapa beliau. “…. Beta di KPU Kabupaten Maluku Tenggara. Ibu di sana waktu
katong pemilihan bupati tahun lalu…” Saya baru teringat, bahwa sesungguhnya
saya kenal benar siapa beliau.
Si Ibu yang memang tipikal seorang yang talk active menceritakan kepada kami (ketika itu saya sedang
bersama dengan seorang kawan), perihal kerja saya dalam melakukan supervisi
pengawasan di tempat beliau, dimana kami pertama kali bertemu, tahun 2013 lalu.
“waktu itu ibu Lusi satu-satunya perempuan, di tengah-tengah massa ratusan
laki-laki….” Tuturnya. “kondisi panas waktu itu, tapi ibu Lusi memang….” Urainya
kemudian. Kami seperti sedang mendengar rekaman satu perstiwa yang diputar
ulang.
Saya hanya tersenyum. Kawan saya pun demikian. Tetapi sudah
tentu, dibenak saya pun memori itu bermunculan. Saat genting pada pelaksanaan
tahapan Pemungutan dan Perhitungan Suara Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati
Kabupaten Maluku Tenggara, yang belakangan diketahui sebagai sebuah rekayasa
politik yang terbilang canggih. Rekayasa yang diskenariokan oleh oknum-oknum
tidak bertanggung jawab, dimana Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwas) di
Kabupaten itu pun termasuk di dalamnya. Tergambar ulang bagaimana saya hampir
saja menangkap tangan bandit-bandit politik itu dalam scenario busuk untuk
kepentingannya. Terbersit di ingatan, bagaimana dengan tegasnya saya harus
mengendalikan jajaran pengawasan ketika itu dan seperti terngiang di telinga
saya gaya para bandit berusaha merasionalkan situasi dengan berbagai dalil
sehingga perbuatan kebanditannya yang sesungguhnya menggelikan itu tertutupi.
Kalau kawan saya mengamati senyuman saya, dia mesti
menangkap sebuah senyuman kebanggaan. Bangga bahwa saya dilihat sebagai
perempuan tangguh dalam kancah pengawalan proses demokrasi di daerah itu.
Saya, ketika itu adalah satu-satunya perempuan di
Penyelenggara Pemilu di tingkat Propinsi, tetapi saya mampu memainkan peran
yang cukup signifikan. Saat tahapan puncak dari proses pemilukada, saya tidak
duduk manis di Ambon. Saya justru ke daerah yang paling rawan dalam peta
potensi kerawanan penyelenggaraan pemilukada Propinsi Maluku. Dan puji Tuhan,
saya bisa menjadi seseorang yang cukup berarti di sana.
Apa yang saya petik dari pertemuan saya dengan Perempuan Kei
semalam adalah, orang akan mengingat sesuatu yang kita lakukan, apapun itu. So,
lakukanlah selalu hal-hal baik. Akan ada masanya, dimana apa yang baik itu akan
dituturkan dengan cara yang tidak kita duga, dan kita akan mengenangnya dalam
rona kebanggaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar