“Kau slalu punya cara,
untuk menolongku… Kau slalu punya jalan keajaiban-MU… Kau dasyat dalam segala perbuatan-MU…
Dan ku tenang di dalam cara-MU...” (penggalan lagu dari seorang remaja: Engel
Pieters)
Hidup adalah sebuah perjalanan menyusuri lorong-lorong waktu
dan tempat. Manusia yang menjalaninya diciptakan dengan satu sistim kehidupan
yang utuh, termasuk sistim sosial dimana manusia membutuhkan relasi-relasi
sosial dengan sesamanya. Itu cara Tuhan yang sangat Ilahi mengatur hidup kita. Tidak
seorang pun dapat menjalani hidupnya tanpa orang lain. Siapa yang dapat
membantah pernyataan ini. Tidak ada! Orang lahir ke dunia ini pun sebagai buah
cinta dan hubungan biologis antara dua makluk, laki-laki dan perempuan. Jadi
sudah benar memang apa yang diajarkan waktu kita SD dulu, manusia adalah makluk
sosial. Sejak lahir, sampai nanti meninggalkan dunia, tidak dapat terlepas dari
ketergantungan pada hubungan sosial.
Kadang ketergantung itu terlihat biasa. Tetapi ada saat-saat
dan moment-moment tertentu kita merasa seorang yang hadir dalam hidup kita
terlalu bermakna, kita tidak dapat mengelak dari berkata: “oh God, terima kasih
untuk mengirimkan dia menjadi sahabat saya”. Seseorang yang hadir sebagai
sahabat menyentuh wilayah emosional dari kepribadian kita. Hal ini biasanya
terjadi pada saat dimana kita sedang pada lorong waktu yang kelam, yaitu saat
kita sedang menghadapi cobaan yang sangat berat.
Ketika mulai melangkah masuk lorong kelam, spiritualitas
kita tergoncang hingga rongga batiniah kita pun terasa penuh sesak dengan
berjuta gumam atau bahkan gerutu kepada Tuhan, seperti: “Tuhan, Engkau ada
dalam hidupku, bukan? Engkau sanggup menolongku, bukan? Tolonglah Aku ya Tuhan.”
Dan Tuhan pun punya banyak cara untuk menolong kita. Satu diantaranya adalah,
mengirim sahabat datang berdiri di sisi kita. Waktunya selalu tepat ketika kita
butuh, sehingga lorong kelam pun tak ragu kita lewati karena kita tidak sendiri.
Kita jadi kuat melangkah.
Kemarin adalah lorong waktu yang cukup kelam buat saya.
Tetapi saya bersyukur, di Bawaslu saya
punya sahabat. Tuhan mengirimkan seorang ‘Ida’ tepat pada waktu yang saya
butuhkan. Kehadiran Ida menambah jumlah malaikat penolong yang DIA hadirkan
dlam hidup saya, selain papi, buah hati semata wayangku, adik-adik dan dia yang
mencintaiku. Saat malaikat-malaikat ini
menolongku dari jauh, ada Ida yang dikirimNYA ke tempat dimana aku melangkah
menyusuri lorong itu, kemarin.
Mungkin kita bisa menganggap, kehadiran sahabat di sisi kita pada saat demikian adalah satu kebetulan. Bisa saja. Tapi saya punya
anggapan terbalik dan sudah menjadi pemahaman imani saya bahwa tidak ada yang
kebetulan terjadi dalam hidup ini. Saya yakin ada satu common believe, apapun
agama kita, bahwa hidup kita ada yang mengatur, yaitu Tuhan Sang Pemilik hidup.
DIA mengatur hidup ini sungguh luar biasa, memberi kekuatan
kepada umatNYA untuk menyusuri lorong-lorong waktu dengan caraNYA yang sungguh
ajaib, tak terselami dengan pikiran manusia.
Mari jalani hidup dalam kepasrahan dan iman. Ikuti saja bagaimana
DIA mengatur dan menuntun kita. Yakini
bahwa kebahagiaan dan keselamatan ada di hujung setiap lorong waktu. Amin!