Kamis, 20 November 2014

Tuhan selalu punya cara

(catatan inspirasi dari refleksi spiritual)

“Kau slalu punya cara, untuk menolongku… Kau slalu punya jalan keajaiban-MU… Kau dasyat dalam segala perbuatan-MU… Dan ku tenang di dalam cara-MU...” (penggalan lagu dari seorang remaja: Engel Pieters)

Hidup adalah sebuah perjalanan menyusuri lorong-lorong waktu dan tempat. Manusia yang menjalaninya diciptakan dengan satu sistim kehidupan yang utuh, termasuk sistim sosial dimana manusia membutuhkan relasi-relasi sosial dengan sesamanya. Itu cara Tuhan yang sangat Ilahi mengatur hidup kita. Tidak seorang pun dapat menjalani hidupnya tanpa orang lain. Siapa yang dapat membantah pernyataan ini. Tidak ada! Orang lahir ke dunia ini pun sebagai buah cinta dan hubungan biologis antara dua makluk, laki-laki dan perempuan. Jadi sudah benar memang apa yang diajarkan waktu kita SD dulu, manusia adalah makluk sosial. Sejak lahir, sampai nanti meninggalkan dunia, tidak dapat terlepas dari ketergantungan pada hubungan sosial.

Kadang ketergantung itu terlihat biasa. Tetapi ada saat-saat dan moment-moment tertentu kita merasa seorang yang hadir dalam hidup kita terlalu bermakna, kita tidak dapat mengelak dari berkata: “oh God, terima kasih untuk mengirimkan dia menjadi sahabat saya”. Seseorang yang hadir sebagai sahabat menyentuh wilayah emosional dari kepribadian kita. Hal ini biasanya terjadi pada saat dimana kita sedang pada lorong waktu yang kelam, yaitu saat kita sedang menghadapi cobaan yang sangat berat. 

Ketika mulai melangkah masuk lorong kelam, spiritualitas kita tergoncang hingga rongga batiniah kita pun terasa penuh sesak dengan berjuta gumam atau bahkan gerutu kepada Tuhan, seperti: “Tuhan, Engkau ada dalam hidupku, bukan? Engkau sanggup menolongku, bukan? Tolonglah Aku ya Tuhan.” Dan Tuhan pun punya banyak cara untuk menolong kita. Satu diantaranya adalah, mengirim sahabat datang berdiri di sisi kita. Waktunya selalu tepat ketika kita butuh, sehingga lorong kelam pun tak ragu kita lewati karena kita tidak sendiri. Kita jadi kuat melangkah.

Kemarin adalah lorong waktu yang cukup kelam buat saya. Tetapi saya bersyukur,  di Bawaslu saya punya sahabat. Tuhan mengirimkan seorang ‘Ida’ tepat pada waktu yang saya butuhkan. Kehadiran Ida menambah jumlah malaikat penolong yang DIA hadirkan dlam hidup saya, selain papi, buah hati semata wayangku, adik-adik dan dia yang mencintaiku.  Saat malaikat-malaikat ini menolongku dari jauh, ada Ida yang dikirimNYA ke tempat dimana aku melangkah menyusuri lorong itu, kemarin.

Mungkin kita bisa menganggap, kehadiran sahabat di sisi kita pada saat demikian adalah satu kebetulan. Bisa saja. Tapi saya punya anggapan terbalik dan sudah menjadi pemahaman imani saya bahwa tidak ada yang kebetulan terjadi dalam hidup ini. Saya yakin ada satu common believe, apapun agama kita, bahwa hidup kita ada yang mengatur, yaitu Tuhan Sang Pemilik hidup.

DIA mengatur hidup ini sungguh luar biasa, memberi kekuatan kepada umatNYA untuk menyusuri lorong-lorong waktu dengan caraNYA yang sungguh ajaib, tak terselami dengan pikiran manusia. 
Mari jalani hidup dalam kepasrahan dan iman. Ikuti saja bagaimana DIA mengatur dan menuntun kita. Yakini bahwa kebahagiaan dan keselamatan ada di hujung setiap lorong waktu. Amin!