Benarkah orang Ambon identik dengan kekerasan? Pertanyaan
ini muncul di halamannya Grup Diskusi ASK di facebook dan cukup ramai didiskusikan kawan-kawanku di sana. Berbeda
dengan ASK ( lihat http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/17/gerakan-itu-bernama-ask/
) yang anggotanya hampir menembus angka 2000, Diskusi ASK hanya terdiri dari
50an orang, karena grup kecil ini dimaksudkan sebagai wadah untuk mendiskusikan
rencana-rencana aksi untuk berhijrah dari dunia maya ke dunia nyata dari
orang-orang yang commited to a
non-violence world.
Kembali ke topik tadi. Sebagian orang memang mengamininya
sebagai sebuah kebenaran bahwa orang Ambon identik dengan kekerasan (Scope kekerasan di sini adalah pada
perilaku atau sikap dan gaya berbicara)
bahkan hal itu dianggap sebagai fitrahnya
orang Ambon. Kebenaran yang kemudian melahirkan stereotype yang melekat
langsung dengan diri orang Ambon. Tetapi benarkan begitu? Hmmm… saya pribadi
tidak setuju sama sekali.
Baru sebulan yang lalu, saya dan beberapa staf Dinas
Pendidikan Kota Ambon mendampingi seorang professor dari Hiroshima Unversity di
Jepang dalam mengsosialsasi pendidikan damai praktis kepada seluruh warga
sekolah SMP Negeri 10 Ambon. Seorang bapak dengan lantangnya mengajukan
pendapatnya pada sesi tanya jawab; Begini: “ibu, serunya kepada sang professor,
saya pesimis bahwa orang Ambon bisa mempraktekkan apa yang baru saja ibu
sampaikan. Karakter kami orang Maluku tidak sama dengan orang Jepang. Kami
tidak punya kebiasaan berbicara yang lemah lembut…” panjang lebar si bapak,
sebut saja Pak Sasar, ini memberikan argumennya yang hanya merupakan
perbantahan terhadap apa yang baru saja disampaikan oleh sang professor tentang
bagaimana proses memutuskan rantai kekerasan; yaitu dengan memulainya sekarang
di rumah. Orang tua mesti menjadi pelaku utama, memberi contoh dalam bagaimana
berbicara yang ramah, mengontrol emosi terhadap anak, apa dampaknya terhadap
pertumbuhan pribadi termasuk karakter anak bila ia dididik dalam kekerasan; Kalau
marah jangan lebih dari 1 menit. Demikian beberapa hal yang dapat disimpulkan
dari penjelasannya. Kuping si bapak Sasar gatal rupanya, mendengar penjelasan
professor. Menurutnya orang Ambon akan terlihat seperti badut, bisa berperilaku
seperti itu.
Dari tempat duduk yang berhadapan dengan peserta pertemuan,
saya mengamati satu per satu wajah peserta pertemuan yang lain… ternyata tidak
semua orang setuju dengan apa yang disampaikan oleh Pak Sasar. Seorang ibu
paruh baya ketika mendapatkan kesempatan berbicara, dia sekalian menanggapi apa
yang disampaikan oleh Pak Sasar tadi. “tidak semua orang Ambon begitu, pak.
Buktinya guru-guru kami di sini…..! Tak kalah panjang dan lebar dia mengulas
pendapatnya. Dan saya 100% setuju dengan dia. Bagian yang paling menarik adalah
“tidak semua orang Ambon begitu”.
Jelas bahwa ada sebagian orang Ambon yang memiliki kebiasaan
berbicara dengan nada yang kasar ataupun dengan volume suara yang keras.….
Kedengaran seperti sedang melampiaskan kemarahan dengan kata-kata, padahal
sebetulnya tidak. Gaya berucapnya yang memang kasar. Di keluarga saya, ayah
saya memiliki kebiasaan berbicara demikian. Kami anak-anaknya sendiri tidak
nyaman dengan gayanya itu dan beliau selalu membela diri: “maklumlah papi besar
di pinggir pantai di bibir Laut Banda, selalu beradu dengan ombak sehingga
ngomong harus keras biar kedengaran”. Ternyata kebiasaan beliau berbicara seperti itu dibentuk oleh alam.
Sejak kecil saya paham bahwa orang Ambon, khususnya yang
berasal dari daerah di pesisir pantai pasti memiliki ciri berbicara dengan dialek bergelombang, aksen yang tegas
dan volume yang tinggi. Ada pula yang berbicara dengan mimik yang tidak sejalan
dengan perkataan; lagi ngomong yang manis-manis tetapi wajah seperti sedang
marahan. Hal ini mungkin juga didukung oleh bentuk wajah orang Ambon yang
menampakkan kesan kasar atau sangar. Apalagi yang lelaki dengan kumis hitam
tebal, rambut keriting, tatapan mata yang tajam, warna kulit yang gelap
membungkus tubuh yang kekar… lengkaplah! Makin kuat alasan orang untuk
mengidentikkan orang Ambon dengan kekerasan.
Saya pikir identifikasi semacam ini telah berlangsung selama
berabad-abad. Mungkin juga bermula dari masa kolonialisasi oleh para Hollander
dulu. Kapitan Jonker, misalnya, yang
terkenal sebagai orang perkasa (kasar/keras) secara perawakan maupun karakter
sehingga si bangsa penjajah dulu memakainya sebagai pembantu perang VOC melawan
koloni-koloninya di Nusantara saat itu (http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitan_Jonker)
. Politik bangsa penjajah itu rupanya yang memainkan andil memperkenalkan
kepada dunia bahwa orang Ambon adalah orang yang kasar/keras, dan itu
terpelihara dari generasi ke generasi hingga kini.
Selama ini yang terbangun adalah generalisasi. Kebiasaan
ataupun karakter orang-orang tertentu dalam mayarakat dijadikan sebagai sesuatu
yang common dan berlaku umum, untuk
semua orang.Padahal masih banyak manusia Ambon yang berbicara dengan petuturan
dan gaya bahasa lembut alias santun. Masih banyak orang yang jauh dari perilaku
kasar dan yang namanya kekerasan.
Hal yang lebih dapat diterima adalah bahwa orang Ambon
memiliki kebiasaan berbicara secara
blak-blakan. Senang langsung dikatakan senang. Setuju yah setuju. Kalau tidak
setuju, dibuatlah menjadi pertentangan kata-kata sampai mendapat kata sepakat.
Bukan mengatakan setuju padahal dalam hati dan pikiran sesungguhnya
bertentangan. Dan biasanya untuk maksud “mencari kata sepakat itu”, orang lalu
menggunakan intonasi dan volume yang tinggi, sehingga biasanya terdengar
seperti sebuah perkelahian atau adu mulut yang hebat. Memang ada yang demikian.
Namun ini bukan fitrahnya orang Ambon. Akan lebih tepat kalau dikatakan
kebiasaan yang demikian merupakan hasil bentukan sistim sosial kita.
Mari kita lihat sisi lain, bahwa perkembangan pengetahuan
dan akses pergaulan yang makin membuka pembauran dengan orang dengan berbagai
bentuk karakter dewasa ini telah banyak mereduksi kebiasaan-kebiasaan yang
demikian. Saya melihat kebiasaan-kebiasaan yang saya gambarkan tadi masih
dengan mudah ditemui di wilayah peripheral
(sedikit menggunakan konsep pembagian wilayah dalam studi pembangunan). Semakin
ke wilayah core, kebiasaan-kebiasaan
itu makin jarang kita temui.
Dengan demikian, tidak dapat diterima secara sosial kalau
masih ada yang memberikan label “kasar” atau “keras” kepada orang Ambon tanpa
pandang buluh.
Saya berharap tulisan sederhana ini menjadi pencerahan bagi
mereka yang masih ada dalam pemahaman atau anggapan yang keliru tentang kami,
Orang Ambon. Sejalan dengan itu saya pun
berharap tulisan ini dibaca oleh orang Ambon sendiri yang masih memegang label “kekerasan”
pada dirinya, untuk tidak menganggap itu sebagai label bersama. “Ale pung baju belum tentu pas voor beta”
peribahasa yang sering dipakai oleh orang-orang tua kita yang maknanya adalah
bahwa tiap-tiap orang terbentuk dengan karakternya sendiri-sendiri, jangan
digeneralisir.
Sebelum disudahi, saya harus menjawab dulu pertanyaan yang
saya tuliskan sebagai kalimat pembuka artikel ini yang juga adalah pertanyaan
kawan di Diskusi ASK: benarkah orang Ambon itu identik dengan kekerasan?
Jawaban saya: Tidak!
(Lusi, 21 November 2011)