Sabtu, 15 November 2014

Orang Ambon tidak identik dengan kekerasan (kritik terhadap generalisasi label yang keliru)

(tulisan ini adalah tulisan lama, ditulis pada bulan November 2011 dan langsung diposting di http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/21/orang-ambon-tidak-identik-dengan-kekerasan-kritik-terhadap-generalisasi-label-yang-keliru-414316.html )

Benarkah orang Ambon identik dengan kekerasan? Pertanyaan ini muncul di halamannya Grup Diskusi ASK di facebook dan cukup ramai didiskusikan kawan-kawanku di sana. Berbeda dengan ASK ( lihat http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/17/gerakan-itu-bernama-ask/ ) yang anggotanya hampir menembus angka 2000, Diskusi ASK hanya terdiri dari 50an orang, karena grup kecil ini dimaksudkan sebagai wadah untuk mendiskusikan rencana-rencana aksi untuk berhijrah dari dunia maya ke dunia nyata dari orang-orang yang commited to a non-violence world.

Kembali ke topik tadi. Sebagian orang memang mengamininya sebagai sebuah kebenaran bahwa orang Ambon identik dengan kekerasan (Scope kekerasan di sini adalah pada perilaku atau sikap dan gaya  berbicara) bahkan hal itu dianggap sebagai fitrahnya orang Ambon. Kebenaran yang kemudian melahirkan stereotype yang melekat langsung dengan diri orang Ambon. Tetapi benarkan begitu? Hmmm… saya pribadi tidak setuju sama sekali.

Baru sebulan yang lalu, saya dan beberapa staf Dinas Pendidikan Kota Ambon mendampingi seorang professor dari Hiroshima Unversity di Jepang dalam mengsosialsasi pendidikan damai praktis kepada seluruh warga sekolah SMP Negeri 10 Ambon. Seorang bapak dengan lantangnya mengajukan pendapatnya pada sesi tanya jawab; Begini: “ibu, serunya kepada sang professor, saya pesimis bahwa orang Ambon bisa mempraktekkan apa yang baru saja ibu sampaikan. Karakter kami orang Maluku tidak sama dengan orang Jepang. Kami tidak punya kebiasaan berbicara yang lemah lembut…” panjang lebar si bapak, sebut saja Pak Sasar, ini memberikan argumennya yang hanya merupakan perbantahan terhadap apa yang baru saja disampaikan oleh sang professor tentang bagaimana proses memutuskan rantai kekerasan; yaitu dengan memulainya sekarang di rumah. Orang tua mesti menjadi pelaku utama, memberi contoh dalam bagaimana berbicara yang ramah, mengontrol emosi terhadap anak, apa dampaknya terhadap pertumbuhan pribadi termasuk karakter anak bila ia dididik dalam kekerasan; Kalau marah jangan lebih dari 1 menit. Demikian beberapa hal yang dapat disimpulkan dari penjelasannya. Kuping si bapak Sasar gatal rupanya, mendengar penjelasan professor. Menurutnya orang Ambon akan terlihat seperti badut, bisa berperilaku seperti itu.

Dari tempat duduk yang berhadapan dengan peserta pertemuan, saya mengamati satu per satu wajah peserta pertemuan yang lain… ternyata tidak semua orang setuju dengan apa yang disampaikan oleh Pak Sasar. Seorang ibu paruh baya ketika mendapatkan kesempatan berbicara, dia sekalian menanggapi apa yang disampaikan oleh Pak Sasar tadi. “tidak semua orang Ambon begitu, pak. Buktinya guru-guru kami di sini…..! Tak kalah panjang dan lebar dia mengulas pendapatnya. Dan saya 100% setuju dengan dia. Bagian yang paling menarik adalah “tidak semua orang Ambon begitu”.

Jelas bahwa ada sebagian orang Ambon yang memiliki kebiasaan berbicara dengan nada yang kasar ataupun dengan volume suara yang keras.…. Kedengaran seperti sedang melampiaskan kemarahan dengan kata-kata, padahal sebetulnya tidak. Gaya berucapnya yang memang kasar. Di keluarga saya, ayah saya memiliki kebiasaan berbicara demikian. Kami anak-anaknya sendiri tidak nyaman dengan gayanya itu dan beliau selalu membela diri: “maklumlah papi besar di pinggir pantai di bibir Laut Banda, selalu beradu dengan ombak sehingga ngomong harus keras biar kedengaran”. Ternyata kebiasaan beliau berbicara  seperti itu dibentuk oleh alam.

Sejak kecil saya paham bahwa orang Ambon, khususnya yang berasal dari daerah di pesisir pantai pasti memiliki ciri berbicara  dengan dialek bergelombang, aksen yang tegas dan volume yang tinggi. Ada pula yang berbicara dengan mimik yang tidak sejalan dengan perkataan; lagi ngomong yang manis-manis tetapi wajah seperti sedang marahan. Hal ini mungkin juga didukung oleh bentuk wajah orang Ambon yang menampakkan kesan kasar atau sangar. Apalagi yang lelaki dengan kumis hitam tebal, rambut keriting, tatapan mata yang tajam, warna kulit yang gelap membungkus tubuh yang kekar… lengkaplah! Makin kuat alasan orang untuk mengidentikkan orang Ambon dengan kekerasan.

Saya pikir identifikasi semacam ini telah berlangsung selama berabad-abad. Mungkin juga bermula dari masa kolonialisasi oleh para Hollander dulu. Kapitan Jonker, misalnya, yang terkenal sebagai orang perkasa (kasar/keras) secara perawakan maupun karakter sehingga si bangsa penjajah dulu memakainya sebagai pembantu perang VOC melawan koloni-koloninya di Nusantara saat itu (http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitan_Jonker) . Politik bangsa penjajah itu rupanya yang memainkan andil memperkenalkan kepada dunia bahwa orang Ambon adalah orang yang kasar/keras, dan itu terpelihara dari generasi ke generasi hingga kini.

Selama ini yang terbangun adalah generalisasi. Kebiasaan ataupun karakter orang-orang tertentu dalam mayarakat dijadikan sebagai sesuatu yang common dan berlaku umum, untuk semua orang.Padahal masih banyak manusia Ambon yang berbicara dengan petuturan dan gaya bahasa lembut alias santun. Masih banyak orang yang jauh dari perilaku kasar dan yang namanya kekerasan.
Hal yang lebih dapat diterima adalah bahwa orang Ambon memiliki kebiasaan berbicara secara blak-blakan. Senang langsung dikatakan senang. Setuju yah setuju. Kalau tidak setuju, dibuatlah menjadi pertentangan kata-kata sampai mendapat kata sepakat. Bukan mengatakan setuju padahal dalam hati dan pikiran sesungguhnya bertentangan. Dan biasanya untuk maksud “mencari kata sepakat itu”, orang lalu menggunakan intonasi dan volume yang tinggi, sehingga biasanya terdengar seperti sebuah perkelahian atau adu mulut yang hebat. Memang ada yang demikian. Namun ini bukan fitrahnya orang Ambon. Akan lebih tepat kalau dikatakan kebiasaan yang demikian merupakan hasil bentukan sistim sosial kita.

Mari kita lihat sisi lain, bahwa perkembangan pengetahuan dan akses pergaulan yang makin membuka pembauran dengan orang dengan berbagai bentuk karakter dewasa ini telah banyak mereduksi kebiasaan-kebiasaan yang demikian. Saya melihat kebiasaan-kebiasaan yang saya gambarkan tadi masih dengan mudah ditemui di wilayah peripheral (sedikit menggunakan konsep pembagian wilayah dalam studi pembangunan). Semakin ke wilayah core, kebiasaan-kebiasaan itu makin jarang kita temui.  

Dengan demikian, tidak dapat diterima secara sosial kalau masih ada yang memberikan label “kasar” atau “keras” kepada orang Ambon tanpa pandang buluh.

Saya berharap tulisan sederhana ini menjadi pencerahan bagi mereka yang masih ada dalam pemahaman atau anggapan yang keliru tentang kami, Orang Ambon.  Sejalan dengan itu saya pun berharap tulisan ini dibaca oleh orang Ambon sendiri yang masih memegang label “kekerasan” pada dirinya, untuk tidak menganggap itu sebagai label bersama. “Ale pung baju belum tentu pas voor beta” peribahasa yang sering dipakai oleh orang-orang tua kita yang maknanya adalah bahwa tiap-tiap orang terbentuk dengan karakternya sendiri-sendiri, jangan digeneralisir.

Sebelum disudahi, saya harus menjawab dulu pertanyaan yang saya tuliskan sebagai kalimat pembuka artikel ini yang juga adalah pertanyaan kawan di Diskusi ASK: benarkah orang Ambon itu identik dengan kekerasan? Jawaban saya: Tidak!


(Lusi, 21 November 2011)