Sabtu, 15 November 2014

Sahabat yang Menjadikan Sahabatnya Sempurna


Oleh Julia Novrita*


Janganlah kau tinggalkan diriku,  takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
, kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diriku
Oh sayang, engkau begitu sempurna ... (Andra and The Backbone)

“In, selamat ya...sudah naik tulisan resensi bukunya, mantap!” demikian isi SMS yang dikirimkan Dev siang ini, yang membuat In langsung melompat kegirangan.  Betapa tidak, sudah berbulan-bulan yang lalu In menjanjikan sang penulis buku, yang kebetulan juga temannya untuk mereview buku terbitan pertamanya.  Dan janji itu turun terus peringkat prioritas untuk dipenuhinya bersamaan dengan bertambahnya tugas-tugas kantor. Ketika akhir pekan tiba, In pun mempunyai alasan lain yaitu tugas bersih-bersih rumah atau keluar kota. Saat waktu luang itu ada, In pun berkilah dengan blank mode on, hingga suatu hari Dev menyinggungnya, “In, ale su mulai tulis resensi buku teman kita itu ka? Come on dear, you can do it...” In pun tersadar, ada janji yang sudah lama belum dia penuhi. In pun segera memotivasi dirinya sendiri, “Temanku sudah menulis buku, dan itu butuh komitmen yang kuat, sedangkan aku, yang cuma buat resensi dari buku yang sudah ditulis saja, tidak selesai-selesai. Semangaaaatttt Innnn..!!!” demikian tekadnya.
Dan hari ini In sangat gembira mengetahui tulisan resensi buku karangan temannya dipublikasikan disalah satu koran lokal di Ambon. “Dev, beta belum lihat, great! Bagaimana seng mantap, Dev yang jadi reviewernya.  Beta paling semangat ini, rasanya mau menembus badai, pengen kasih Dev big hug! This news means a lot to me Dev. Ini tulisan kedua beta yang masuk koran, setelah yang pertama kalau tidak salah tahun 1998 di Hello Magazine.” In membalas panjang SMS-nya Dev sambil tersenyum sangat puas, ditengah derasnya suara hujan yang terus mengguyur Ambon dalam beberapa hari terakhir ini.  In dan Dev pun memutuskan untuk bertemu sore ini, menembus deras hujan untuk merayakan pencapaiannya dan brainstorming untuk memulai proyek tulisan kreatif berikutnya, ditemani pisang goreng kenari dan saraba di warung langganan mereka.
Setelah melepas kegembiraannya, In mulai mengenang proses yang telah dilaluinya hingga akhirnya tulisan itu bisa dibaca oleh masyarakat Ambon. Tulisan yang In yakin akan membuat temannya, sang penulis senang sekali, mengetahui bukunya diperkenalkan juga melalui koran lokal di Ambon, tidak hanya sebatas posting di Facebook dengan mentag namanya. In menyadari, tanpa Dev yang mengingatkan dan memotivasinya, mungkin dia tidak akan segera mulai menulis. Bahkan lebih dari itu, kritikan Dev yang sangat konstruktif untuk draf tulisannya telah memotivasi In untuk menyempurnakannya. In menyadari, sebelum Dev memberi feedbacknya, tulisan itu sendiri sudah cukup bagus. Jika analoginya ini adalah tugas kuliah, maka In akan memperoleh nilai B dan menurut In, itu sudah cukup mengingat dia mengerjakannya disela-sela kesibukan lain yang lumayan menyita waktu. In tahu ada pesan lain yang ingin disampaikan temannya melalui bukunya, jika ia mau menggali lebih dalam dan itu tentu saja akan membuat hasil resensinya lebih berkualitas. In sangat tahu itu, namun ia seperti sudah pasrah dengan kualitas nilai B itu, hingga In membaca feedback dari Dev yang isinya persis seperti yang In pikirkan sebelumnya, yang intinya ia harus menyempurnakan bagian yang hilang itu. Feedback dari Dev itulah yang menjadi semangat bagi In untuk meluangkan waktu kembali bagi penyempurnaan tulisannya. Dan hasil akhirnya, tulisannya pun terkesan menjadi lebih kaya dan lebih dalam pesannya, yang In sendiri tak bosan membacanya.  Jika kembali lagi ke analogi diatas, In pasti akan mendapat nilai A untuk tulisannya yang sudah dia sempurnakan ini,  dan A+ untuk keberhasilannya menambah daftar tulisan yang dipublikasi setelah lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Seperti halnya In, terkadang kita berhenti berusaha melakukan yang terbaik yang kita bisa untuk mencapai target tertentu, bahkan yang lebih parah berhenti sebelum memulainya sama sekali. Jadi masih sebatas niat baik saja. Mungkin ada yang berhasil memulainya tapi kemudian terhenti ketika baru mencapai seperempat bagian saja atau setengah bagian saja dari target tersebut. Intinya target tidak tercapai dan hasil yang setengah-setengah tentu tidak akan membuat perbedaan, bahkan mungkin bisa berakibat fatal.  Bagi mereka yang berhenti saat mencapai dua pertiga bagian dari yang ditargetkan seperti yang sempat dialami oleh In, itu sudah cukup baik.  Namun tentu saja akan jauh berbeda jika kita tidak berhenti berusaha melakukan yang terbaik hingga hal yang kita targetkan tercapai sepenuhnya, bahkan jika mungkin melampaui target tersebut. Jika hal terakhir ini yang terjadi, maka kita akan membuat diri kita sendiri dan  orang lain terkesan dengan capaian tersebut dan itu akan menambah keyakinan diri bahwa kita bisa menghasilkan karya, apapun itu, dengan kualitas yang terbaik. Namun kualitas terbaik itu akan sulit sekali dicapai jika proses pencapaiannya dijalani seorang diri. 
Ada banyak hal yang terjadi disekeliling kita yang menjadi rintangan untuk berbuat yang terbaik.  Adakalanya rintangan itu bisa kita atasi sendiri, namun interupsi lain pun datang mengalihkan perhatian.  Akhirnya kita sering terjebak dalam excuses yang kita besar-besarkan sebagai pembenaran mengapa kita putuskan berhenti sebelum target itu tercapai sempurna, dan mengerjakan segala sesuatunya dengan asal jadi.  Jadi tidak pantaslah kita terkejut ketika kemudian melihat sekeliling  lalu menemukan begitu banyak hal yang kualitasnya diragukan.  Kitapun menjadi tersadar bahwa kualitas hidup kita juga telah ikut dipertanyakan, yang kita sendiri sebenarnya sudah tahu jawabannya, yaitu berhenti sebelum waktunya.
Kita butuh sahabat, yang setia memberikan kritikan konstruktif dan motivasi untuk tidak pernah berhenti hingga kualitas terbaik itu kita capai.  Karena kesempurnaan itu datang setelah kritik yang sehat itu membuka jalan. Kenyataan yang memprihatinkan saat ini adalah tidak banyak dari kita yang memiliki persahabatan seperti yang dimiliki oleh In dan Dev, yaitu memiliki sahabat yang mampu menjadikan sahabatnya sempurna.  Situs BePenFriends.com dalam salah satu artikelnya tentang hubungan persahabatan menyebutkan bahwa persahabatan sejati itu mengandung keinginan atau hasrat untuk saling mendukung sehingga kedua belah pihak merasa diuntungkan dan biasanya memiliki kesamaan dalam beberapa hal.  Namun yang terpenting dalam persahabatan itu adalah rasa saling menyayangi dan saling memberi perhatian sebagai wujud keinginan seorang sahabat untuk melihat sahabatnya yang lain tumbuh dan berkembang serta pengharapan untuk kesuksesannya. Ditambahkan juga, persahabatan sejati melibatkan aksi atau tindakan yang dilakukan untuk orang lain tanpa mengharapkan balasan, yang berarti keikhlasan; berbagi pandangan dan perasaan-perasaan tanpa ada rasa takut akan dihakimi atau mendapat kritikan-kritikan yang tidak sehat. Kejujuran, kesetiaan dan kepercayaan merupakan pondasi dasar dalam persahabatan. 
            Apa yang harus kita lakukan untuk menemukan seorang sahabat sejati dalam hidup kita? Jerry Lopper, penulis artikel-artikel tentang pengembangan pribadi dalam situs Suite101.com, menyarankan bahwa kita sendiri yang harus menjadi modelnya. Dalam artian sikap dan tindakan kita haruslah mencerminkan karakteristik persahabatan sejati yang sedang kita cari. Menurut Lopper, saat kita menjadi model bagi persahabatan sejati itu sendiri, orang-orang yang tidak sepakat dengan nilai-nilai, sikap serta tindakan yang kita tampilkan akan merasa tidak nyaman dan pergi dengan sendirinya.  Ada rasa kehilangan untuk sementara, yang tentunya tidak mengenakkan hati, tapi Lopper berpendapat, hal ini diperlukan untuk membuat suatu ruang dalam hidup kita yang akan diisi oleh sahabat-sahabat sejati yang yang sebenarnya, yang sesuai dengan harapan kita. 
Dari satu episode kisah hubungan persahabatan antara In dan Dev diatas, dan ulasan tentang karakteristik persahabatan sejati serta bagaimana menemukannya, dapatlah kita simpulkan bahwa persahabatan sejati itu dihasilkan dari sebuah proses hubungan interaksi kita dengan orang lain, yang mana nilai-nilai, sikap dan tindakan kita sendirilah yang akan menentukan apakah kita akan dapat menemukan sahabat sejati, sahabat yang mampu menjadikan sahabatnya sempurna.

*Penulis adalah Alumni IFP The Ford Foundation dan salah satu pendiri Organisasi InDev. 


(Tulisan inspiring ini ditulis oleh penuisnya  pada Agustus 2011. Sudah lama juga. Saya temukan di salah satu folder kumpulan tulisan InDev. Menemukannya membuat saya kangen se kangen-kangennya sama penulisnya yang skarang lagi study di US... dia sahabat sejati yang membuatku merasa sempurna ketika mengurai benang-benang kusut di sebagian perjalanan hidup saya)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar