Oleh Julia Novrita*
Janganlah kau tinggalkan diriku, takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa, kau adalah darahku
Hanya bersamamu ku akan bisa, kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah
hidup ku, lengkapi
diriku
Oh sayang,
engkau begitu sempurna ... (Andra and The Backbone)
“In, selamat
ya...sudah naik tulisan resensi bukunya, mantap!” demikian isi SMS yang
dikirimkan Dev siang ini, yang membuat In langsung melompat kegirangan. Betapa tidak, sudah berbulan-bulan yang lalu
In menjanjikan sang penulis buku, yang kebetulan juga temannya untuk mereview
buku terbitan pertamanya. Dan janji itu turun terus peringkat
prioritas untuk dipenuhinya bersamaan dengan bertambahnya tugas-tugas kantor.
Ketika akhir pekan tiba, In pun mempunyai alasan lain yaitu tugas bersih-bersih
rumah atau keluar kota. Saat waktu luang itu ada, In pun berkilah dengan blank mode on, hingga suatu hari Dev
menyinggungnya, “In, ale su mulai
tulis resensi buku teman kita itu ka? Come
on dear, you can do it...” In pun tersadar, ada janji yang sudah lama belum
dia penuhi. In pun segera memotivasi dirinya sendiri, “Temanku sudah menulis
buku, dan itu butuh komitmen yang kuat, sedangkan aku, yang cuma buat resensi
dari buku yang sudah ditulis saja, tidak selesai-selesai. Semangaaaatttt
Innnn..!!!” demikian tekadnya.
Dan hari ini In
sangat gembira mengetahui tulisan resensi buku karangan temannya dipublikasikan
disalah satu koran lokal di Ambon. “Dev, beta
belum lihat, great! Bagaimana seng mantap, Dev yang jadi reviewernya. Beta paling semangat ini,
rasanya mau menembus badai, pengen kasih Dev big hug! This news means a
lot to me Dev. Ini tulisan kedua beta yang masuk koran, setelah yang
pertama kalau tidak salah tahun 1998 di Hello Magazine.” In membalas panjang SMS-nya
Dev sambil tersenyum sangat puas, ditengah derasnya suara hujan yang terus
mengguyur Ambon dalam beberapa hari terakhir ini. In dan Dev pun memutuskan untuk bertemu sore
ini, menembus deras hujan untuk merayakan pencapaiannya dan brainstorming untuk memulai proyek tulisan
kreatif berikutnya, ditemani pisang goreng kenari dan saraba di warung langganan
mereka.
Setelah melepas
kegembiraannya, In mulai mengenang proses yang telah dilaluinya hingga akhirnya
tulisan itu bisa dibaca oleh masyarakat Ambon. Tulisan yang In yakin akan
membuat temannya, sang penulis senang sekali, mengetahui bukunya diperkenalkan juga
melalui koran lokal di Ambon, tidak hanya sebatas posting di Facebook dengan mentag
namanya. In menyadari, tanpa Dev yang mengingatkan dan memotivasinya, mungkin
dia tidak akan segera mulai menulis. Bahkan lebih dari itu, kritikan Dev yang sangat
konstruktif untuk draf tulisannya telah memotivasi In untuk menyempurnakannya.
In menyadari, sebelum Dev memberi feedbacknya,
tulisan itu sendiri sudah cukup bagus. Jika analoginya ini adalah tugas kuliah,
maka In akan memperoleh nilai B dan menurut In, itu sudah cukup mengingat dia
mengerjakannya disela-sela kesibukan lain yang lumayan menyita waktu. In tahu
ada pesan lain yang ingin disampaikan temannya melalui bukunya, jika ia mau
menggali lebih dalam dan itu tentu saja akan membuat hasil resensinya lebih
berkualitas. In sangat tahu itu, namun ia seperti sudah pasrah dengan kualitas
nilai B itu, hingga In membaca feedback
dari Dev yang isinya persis seperti yang In pikirkan sebelumnya, yang intinya ia
harus menyempurnakan bagian yang hilang itu. Feedback dari Dev itulah yang menjadi semangat bagi In untuk meluangkan
waktu kembali bagi penyempurnaan tulisannya. Dan hasil akhirnya, tulisannya pun
terkesan menjadi lebih kaya dan lebih dalam pesannya, yang In sendiri tak bosan
membacanya. Jika kembali lagi ke analogi
diatas, In pasti akan mendapat nilai A untuk tulisannya yang sudah dia
sempurnakan ini, dan A+ untuk
keberhasilannya menambah daftar tulisan yang dipublikasi setelah lebih dari
sepuluh tahun yang lalu.
Seperti halnya
In, terkadang kita berhenti berusaha melakukan yang terbaik yang kita bisa
untuk mencapai target tertentu, bahkan yang lebih parah berhenti sebelum
memulainya sama sekali. Jadi masih sebatas niat baik saja. Mungkin ada yang berhasil
memulainya tapi kemudian terhenti ketika baru mencapai seperempat bagian saja
atau setengah bagian saja dari target tersebut. Intinya target tidak tercapai
dan hasil yang setengah-setengah tentu tidak akan membuat perbedaan, bahkan
mungkin bisa berakibat fatal. Bagi
mereka yang berhenti saat mencapai dua pertiga bagian dari yang ditargetkan
seperti yang sempat dialami oleh In, itu sudah cukup baik. Namun tentu saja akan jauh berbeda jika kita
tidak berhenti berusaha melakukan yang terbaik hingga hal yang kita targetkan
tercapai sepenuhnya, bahkan jika mungkin melampaui target tersebut. Jika hal
terakhir ini yang terjadi, maka kita akan membuat diri kita sendiri dan orang lain terkesan dengan capaian tersebut dan
itu akan menambah keyakinan diri bahwa kita bisa menghasilkan karya, apapun
itu, dengan kualitas yang terbaik. Namun kualitas terbaik itu akan sulit sekali
dicapai jika proses pencapaiannya dijalani seorang diri.
Ada banyak hal
yang terjadi disekeliling kita yang menjadi rintangan untuk berbuat yang
terbaik. Adakalanya rintangan itu bisa
kita atasi sendiri, namun interupsi lain pun datang mengalihkan perhatian. Akhirnya kita sering terjebak dalam excuses yang kita besar-besarkan sebagai
pembenaran mengapa kita putuskan berhenti sebelum target itu tercapai sempurna,
dan mengerjakan segala sesuatunya dengan asal jadi. Jadi tidak pantaslah kita terkejut ketika
kemudian melihat sekeliling lalu
menemukan begitu banyak hal yang kualitasnya diragukan. Kitapun menjadi tersadar bahwa kualitas hidup
kita juga telah ikut dipertanyakan, yang kita sendiri sebenarnya sudah tahu
jawabannya, yaitu berhenti sebelum waktunya.
Kita butuh sahabat,
yang setia memberikan kritikan konstruktif dan motivasi untuk tidak pernah berhenti
hingga kualitas terbaik itu kita capai.
Karena kesempurnaan itu datang setelah kritik yang sehat itu membuka
jalan. Kenyataan yang memprihatinkan saat ini adalah tidak banyak dari kita
yang memiliki persahabatan seperti yang dimiliki oleh In dan Dev, yaitu memiliki
sahabat yang mampu menjadikan sahabatnya sempurna. Situs BePenFriends.com dalam salah satu
artikelnya tentang hubungan persahabatan menyebutkan bahwa persahabatan sejati
itu mengandung keinginan atau hasrat untuk saling mendukung sehingga kedua
belah pihak merasa diuntungkan dan biasanya memiliki kesamaan dalam beberapa
hal. Namun yang terpenting dalam
persahabatan itu adalah rasa saling menyayangi dan saling memberi perhatian
sebagai wujud keinginan seorang sahabat untuk melihat sahabatnya yang lain
tumbuh dan berkembang serta pengharapan untuk kesuksesannya. Ditambahkan juga,
persahabatan sejati melibatkan aksi atau tindakan yang dilakukan untuk orang
lain tanpa mengharapkan balasan, yang berarti keikhlasan; berbagi pandangan dan
perasaan-perasaan tanpa ada rasa takut akan dihakimi atau mendapat
kritikan-kritikan yang tidak sehat. Kejujuran, kesetiaan dan kepercayaan
merupakan pondasi dasar dalam persahabatan.
Apa
yang harus kita lakukan untuk menemukan seorang sahabat sejati dalam hidup
kita? Jerry Lopper, penulis artikel-artikel tentang pengembangan pribadi dalam
situs Suite101.com, menyarankan bahwa kita sendiri yang harus menjadi modelnya.
Dalam artian sikap dan tindakan kita haruslah mencerminkan karakteristik
persahabatan sejati yang sedang kita cari. Menurut Lopper, saat kita menjadi
model bagi persahabatan sejati itu sendiri, orang-orang yang tidak sepakat
dengan nilai-nilai, sikap serta tindakan yang kita tampilkan akan merasa tidak
nyaman dan pergi dengan sendirinya. Ada
rasa kehilangan untuk sementara, yang tentunya tidak mengenakkan hati, tapi Lopper
berpendapat, hal ini diperlukan untuk membuat suatu ruang dalam hidup kita yang
akan diisi oleh sahabat-sahabat sejati yang yang sebenarnya, yang sesuai dengan
harapan kita.
Dari satu
episode kisah hubungan persahabatan antara In dan Dev diatas, dan ulasan
tentang karakteristik persahabatan sejati serta bagaimana menemukannya, dapatlah
kita simpulkan bahwa persahabatan sejati itu dihasilkan dari sebuah proses
hubungan interaksi kita dengan orang lain, yang mana nilai-nilai, sikap dan
tindakan kita sendirilah yang akan menentukan apakah kita akan dapat menemukan
sahabat sejati, sahabat yang mampu menjadikan sahabatnya sempurna.
(Tulisan inspiring ini ditulis oleh penuisnya pada Agustus 2011. Sudah lama juga. Saya temukan di salah satu folder kumpulan tulisan InDev. Menemukannya membuat saya kangen se kangen-kangennya sama penulisnya yang skarang lagi study di US... dia sahabat sejati yang membuatku merasa sempurna ketika mengurai benang-benang kusut di sebagian perjalanan hidup saya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar