Rabu, 26 November 2014

Jadikan lelaki target strategi pencegahan kekerasan seksual

 (tulisan lama, dipublish di www.kompasiana.com bulan mei 2013)
Dunia semakin maju, peradaban pun begitu. Logikanya, manusia pada peradaban ini pun mesti semakin bermartabat. Tidak demikian, nyatanya, bagi sebagian kaum lelaki. Kebejatan moral membuat mereka tidak dapat digolongkan sebagai manusia bermartabat. Mereka adalah pelaku kekerasan seksual pada perempuan. Jumlah mereka semakin meningkat dari waktu ke waktu, di berbagai tempat.
Di Maluku pun demikian. Dari amatan saya, setiap dua hari sampai tiga hari sekali pasti ada kabar berita kekerasan seksual dalam berbagai bentuk menghiasai lembaran Koran-koran lokal. Yang paling dekat saja, empat hari lalu, tanggal 18, ada berita dengan judul: Lagi Cabul Menimpa Anak di Bawah Umur. Yang diberitakan adalah perbuatan bejad seorang lelaki renta 71 tahun terhadap gadis belia berusia 14 tahun. Kemarin, tanggal 21, muncul lagi berita: Lelaki Tua Cabuli Siswi SMP Hingga Hamil. Korban diperkosa beberapa bulan lalu dan baru setelah kehamilan korban berusia 5 bulan perbuatan bejat si tua 66 tahun itu terkuak. Sebelumnya disembunyikan karena rasa takut dan malu yang diderita si korban. Hari ini pun ada berita senada, yang pelakunya adalah seorang nelayan. Besok-besok, entah apa dan siapa lagi.
Siapapun pasti gerah bahkan geram. Begitu juga saya. Tulisan ini adalah ekspresi kegerahan saya. Di dalamnya saya tidak ingin berbicara tentang perempuan yang adalah korban, namun si pelaku, yaitu manusia-manusia tak bermoral, tak bermartabat.
Memang sudah banyak literature mengkonsepkan fenomena penyakit sosial ini dengan sangat baik termasuk mengklasifikasikan pelaku pelecehan seksual dalam 3 kelompok yaitu keluarga (orang yang memiliki hubungan darah), komunitas (orang dekat tetapi tidak memiliki hubungan darah) dan negara (aparat negara). Dari kasus-kasus yang telah terkuak dan terekpos, pelaku datang dari kelompok keluarga dan komunitas. Katakan saja seorang kakek yang walaupun tidak memiliki hubungan kekerabatan namun telah begitu akrabnya dengan keluarga korban, tetangga yang sudah seperti keluarga sendiri, guru kelas, dan lainnya.
Ini justru semakin merendahkan martabat lelaki. Padahal mereka ada dalam komunitas yang “katanya” terkonstruksi di atas norma dan etika yang bahkan dilegitimasi dengan pranata-pranata agama dan budaya. Perbuatan-perbuatan bejat mereka yang sulit diterima akal sehat itu terus terjadi dari waktu ke waktu. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)  pada tahun 2012 lalu merilis informasi adanya peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan yaitu sebanyak 4.293 kasus atau meningkat 4,35 persen dimana bentuk kekerasan terbanyak adalah kekerasan seksual dengan 2.521 kasus; 840 diantaranya adalah kasus pemerkosaan dan 780 kasus pencabulan. Saya yakin trennya semakin menanjak di tahun ini. Pada peringatan Hari Kartini tahun ini saja, Menteri Sosial mengungkapkan permasalahan perempuan dan anak saat ini sudah sampai pada titik yang mengkhawatirkan. Saya jadi berpikir, jangan-jangan Maluku merupakan kontributor penting bagi situasi mengkhawatirkan itu.
Idealnya, di Maluku yang, seperti saya katakan tadi, komunitasnya terbangun di atas fondasi norma dan etika agama maupun budaya, setiap orang memiliki mekanisme diri untuk mengontrol sikap dan perilakunya. Pada wilayah keluarga, terutama yang memiliki anak gadis, tentu membangun mekanisme proteksi bagi anaknya. Itu pasti. Namun sayangnya mekanisme itu justru dengan sangat mudah diruntuhkan oleh kebejatan moral. Apa gerangan penyebab keruntuhan itu? Salah satu sebabnya menurut saya, adalah kepercayaan kita yang berlebihan, yah... boleh juga dikata kita terlalu polos dan tulus bagi orang sekitar. Saking polos dan tulusnya, kita tidak menduga ada bahaya yang mengancam keluarga (anak) kita.

Upaya Preventif – beri beban kepada lelaki
Para pegiat perempuan dan perlindungan anak telah banyak melakukan aksi-aksi preventif disamping tentu langkah-langkah advokasi. Sosialisasi ancaman dan bahaya kekerasan seksual maupun pendidikan reproduksi ke sekolah-sekolah tanpa lelah dilakukan oleh kawan-kawan pegiat. Semuanya menargetkan kaum remaja perempuan dan siswa SMP –SMA. Harus diakui, itu saja belum cukup. Kalau ternyata fakta menunjukan kasus semakin marak dan korban terus berjatuhan, saatnya kini dipikirkan strategi pencegahan yang lebih kontekstual dan mumpuni. Kegiatan-kegiatan seperti saya gambarkan tadi sudah mesti dialihkan targetnya kepada kaum lelaki atau potensial pelaku. Strategi lebih mengarah ke upaya membangun kesadaran dan tanggung jawab sosial kelompok yang berisi potensi pelaku yaitu kaum lelaki.
Strategi seperti tidak hanya menjadi media edukasi tetapi, yang terutama, juga mengubah pandangan masyarakat bahwa kasus pelecehan dan kekerasan seksual lainnya terjadi justru karena kelemahan yang dimiliki kaum perempuan, apalagi bocah dan gadis-gadis remaja. Perspektif seperti ini pada tingkatan tertentu menjadi beban tersendiri bagi korban dan juga keluarganya. Korban kemudian menanggung beban berlapis-lapis (multi-layer burdened). Dengan mengalihkan upaya pencegahan pada kaum laki-laki, kita memberikan justifikasi bahwa mereka adalah penyebab, orang-orang yang hanya bisa memanfaatkan kelemahan perempuan, sehingga kebejatan mereka mesti dicegah. Dengan begitu sekaligus kita memberikan beban tanggungjawab sosial dan moriil kepada mereka.
Ini soal moral dan ahklak. Maka lembaga-lembaga pembinaan umat berbasis agama mesti diminta pertanggungjawabannya. Sejauh mana upaya pembinaan yang dilakukan bisa member efek sadar bagi lelaki sebelum melakukan tindak kekerasan. Pihak-pihak ini mesti pula digandeng dalam upaya-upaya preventif.
Sejalan dengan itu, upaya proteksi dari keluarga mesti tetap dibangun. Orang tua jangan sampai lengah. Perketat sistim pendampingan terhadap anak dan perlu kiranya mewaspadai gelagat tiap lelaki dewasa yang berada di dalam dan di sekitar rumah.

Semoga kaum perempuan, khususnya anak-anak penerus kehidupan keluarga dan bangsa ini terlindungi serta menikmati pertumbuhan dan perkembangan sebagaimana haknya.

sudut kota, 22 Mei 2013

Kamis, 20 November 2014

Tuhan selalu punya cara

(catatan inspirasi dari refleksi spiritual)

“Kau slalu punya cara, untuk menolongku… Kau slalu punya jalan keajaiban-MU… Kau dasyat dalam segala perbuatan-MU… Dan ku tenang di dalam cara-MU...” (penggalan lagu dari seorang remaja: Engel Pieters)

Hidup adalah sebuah perjalanan menyusuri lorong-lorong waktu dan tempat. Manusia yang menjalaninya diciptakan dengan satu sistim kehidupan yang utuh, termasuk sistim sosial dimana manusia membutuhkan relasi-relasi sosial dengan sesamanya. Itu cara Tuhan yang sangat Ilahi mengatur hidup kita. Tidak seorang pun dapat menjalani hidupnya tanpa orang lain. Siapa yang dapat membantah pernyataan ini. Tidak ada! Orang lahir ke dunia ini pun sebagai buah cinta dan hubungan biologis antara dua makluk, laki-laki dan perempuan. Jadi sudah benar memang apa yang diajarkan waktu kita SD dulu, manusia adalah makluk sosial. Sejak lahir, sampai nanti meninggalkan dunia, tidak dapat terlepas dari ketergantungan pada hubungan sosial.

Kadang ketergantung itu terlihat biasa. Tetapi ada saat-saat dan moment-moment tertentu kita merasa seorang yang hadir dalam hidup kita terlalu bermakna, kita tidak dapat mengelak dari berkata: “oh God, terima kasih untuk mengirimkan dia menjadi sahabat saya”. Seseorang yang hadir sebagai sahabat menyentuh wilayah emosional dari kepribadian kita. Hal ini biasanya terjadi pada saat dimana kita sedang pada lorong waktu yang kelam, yaitu saat kita sedang menghadapi cobaan yang sangat berat. 

Ketika mulai melangkah masuk lorong kelam, spiritualitas kita tergoncang hingga rongga batiniah kita pun terasa penuh sesak dengan berjuta gumam atau bahkan gerutu kepada Tuhan, seperti: “Tuhan, Engkau ada dalam hidupku, bukan? Engkau sanggup menolongku, bukan? Tolonglah Aku ya Tuhan.” Dan Tuhan pun punya banyak cara untuk menolong kita. Satu diantaranya adalah, mengirim sahabat datang berdiri di sisi kita. Waktunya selalu tepat ketika kita butuh, sehingga lorong kelam pun tak ragu kita lewati karena kita tidak sendiri. Kita jadi kuat melangkah.

Kemarin adalah lorong waktu yang cukup kelam buat saya. Tetapi saya bersyukur,  di Bawaslu saya punya sahabat. Tuhan mengirimkan seorang ‘Ida’ tepat pada waktu yang saya butuhkan. Kehadiran Ida menambah jumlah malaikat penolong yang DIA hadirkan dlam hidup saya, selain papi, buah hati semata wayangku, adik-adik dan dia yang mencintaiku.  Saat malaikat-malaikat ini menolongku dari jauh, ada Ida yang dikirimNYA ke tempat dimana aku melangkah menyusuri lorong itu, kemarin.

Mungkin kita bisa menganggap, kehadiran sahabat di sisi kita pada saat demikian adalah satu kebetulan. Bisa saja. Tapi saya punya anggapan terbalik dan sudah menjadi pemahaman imani saya bahwa tidak ada yang kebetulan terjadi dalam hidup ini. Saya yakin ada satu common believe, apapun agama kita, bahwa hidup kita ada yang mengatur, yaitu Tuhan Sang Pemilik hidup.

DIA mengatur hidup ini sungguh luar biasa, memberi kekuatan kepada umatNYA untuk menyusuri lorong-lorong waktu dengan caraNYA yang sungguh ajaib, tak terselami dengan pikiran manusia. 
Mari jalani hidup dalam kepasrahan dan iman. Ikuti saja bagaimana DIA mengatur dan menuntun kita. Yakini bahwa kebahagiaan dan keselamatan ada di hujung setiap lorong waktu. Amin!







Sabtu, 15 November 2014

Orang Ambon tidak identik dengan kekerasan (kritik terhadap generalisasi label yang keliru)

(tulisan ini adalah tulisan lama, ditulis pada bulan November 2011 dan langsung diposting di http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/21/orang-ambon-tidak-identik-dengan-kekerasan-kritik-terhadap-generalisasi-label-yang-keliru-414316.html )

Benarkah orang Ambon identik dengan kekerasan? Pertanyaan ini muncul di halamannya Grup Diskusi ASK di facebook dan cukup ramai didiskusikan kawan-kawanku di sana. Berbeda dengan ASK ( lihat http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/17/gerakan-itu-bernama-ask/ ) yang anggotanya hampir menembus angka 2000, Diskusi ASK hanya terdiri dari 50an orang, karena grup kecil ini dimaksudkan sebagai wadah untuk mendiskusikan rencana-rencana aksi untuk berhijrah dari dunia maya ke dunia nyata dari orang-orang yang commited to a non-violence world.

Kembali ke topik tadi. Sebagian orang memang mengamininya sebagai sebuah kebenaran bahwa orang Ambon identik dengan kekerasan (Scope kekerasan di sini adalah pada perilaku atau sikap dan gaya  berbicara) bahkan hal itu dianggap sebagai fitrahnya orang Ambon. Kebenaran yang kemudian melahirkan stereotype yang melekat langsung dengan diri orang Ambon. Tetapi benarkan begitu? Hmmm… saya pribadi tidak setuju sama sekali.

Baru sebulan yang lalu, saya dan beberapa staf Dinas Pendidikan Kota Ambon mendampingi seorang professor dari Hiroshima Unversity di Jepang dalam mengsosialsasi pendidikan damai praktis kepada seluruh warga sekolah SMP Negeri 10 Ambon. Seorang bapak dengan lantangnya mengajukan pendapatnya pada sesi tanya jawab; Begini: “ibu, serunya kepada sang professor, saya pesimis bahwa orang Ambon bisa mempraktekkan apa yang baru saja ibu sampaikan. Karakter kami orang Maluku tidak sama dengan orang Jepang. Kami tidak punya kebiasaan berbicara yang lemah lembut…” panjang lebar si bapak, sebut saja Pak Sasar, ini memberikan argumennya yang hanya merupakan perbantahan terhadap apa yang baru saja disampaikan oleh sang professor tentang bagaimana proses memutuskan rantai kekerasan; yaitu dengan memulainya sekarang di rumah. Orang tua mesti menjadi pelaku utama, memberi contoh dalam bagaimana berbicara yang ramah, mengontrol emosi terhadap anak, apa dampaknya terhadap pertumbuhan pribadi termasuk karakter anak bila ia dididik dalam kekerasan; Kalau marah jangan lebih dari 1 menit. Demikian beberapa hal yang dapat disimpulkan dari penjelasannya. Kuping si bapak Sasar gatal rupanya, mendengar penjelasan professor. Menurutnya orang Ambon akan terlihat seperti badut, bisa berperilaku seperti itu.

Dari tempat duduk yang berhadapan dengan peserta pertemuan, saya mengamati satu per satu wajah peserta pertemuan yang lain… ternyata tidak semua orang setuju dengan apa yang disampaikan oleh Pak Sasar. Seorang ibu paruh baya ketika mendapatkan kesempatan berbicara, dia sekalian menanggapi apa yang disampaikan oleh Pak Sasar tadi. “tidak semua orang Ambon begitu, pak. Buktinya guru-guru kami di sini…..! Tak kalah panjang dan lebar dia mengulas pendapatnya. Dan saya 100% setuju dengan dia. Bagian yang paling menarik adalah “tidak semua orang Ambon begitu”.

Jelas bahwa ada sebagian orang Ambon yang memiliki kebiasaan berbicara dengan nada yang kasar ataupun dengan volume suara yang keras.…. Kedengaran seperti sedang melampiaskan kemarahan dengan kata-kata, padahal sebetulnya tidak. Gaya berucapnya yang memang kasar. Di keluarga saya, ayah saya memiliki kebiasaan berbicara demikian. Kami anak-anaknya sendiri tidak nyaman dengan gayanya itu dan beliau selalu membela diri: “maklumlah papi besar di pinggir pantai di bibir Laut Banda, selalu beradu dengan ombak sehingga ngomong harus keras biar kedengaran”. Ternyata kebiasaan beliau berbicara  seperti itu dibentuk oleh alam.

Sejak kecil saya paham bahwa orang Ambon, khususnya yang berasal dari daerah di pesisir pantai pasti memiliki ciri berbicara  dengan dialek bergelombang, aksen yang tegas dan volume yang tinggi. Ada pula yang berbicara dengan mimik yang tidak sejalan dengan perkataan; lagi ngomong yang manis-manis tetapi wajah seperti sedang marahan. Hal ini mungkin juga didukung oleh bentuk wajah orang Ambon yang menampakkan kesan kasar atau sangar. Apalagi yang lelaki dengan kumis hitam tebal, rambut keriting, tatapan mata yang tajam, warna kulit yang gelap membungkus tubuh yang kekar… lengkaplah! Makin kuat alasan orang untuk mengidentikkan orang Ambon dengan kekerasan.

Saya pikir identifikasi semacam ini telah berlangsung selama berabad-abad. Mungkin juga bermula dari masa kolonialisasi oleh para Hollander dulu. Kapitan Jonker, misalnya, yang terkenal sebagai orang perkasa (kasar/keras) secara perawakan maupun karakter sehingga si bangsa penjajah dulu memakainya sebagai pembantu perang VOC melawan koloni-koloninya di Nusantara saat itu (http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitan_Jonker) . Politik bangsa penjajah itu rupanya yang memainkan andil memperkenalkan kepada dunia bahwa orang Ambon adalah orang yang kasar/keras, dan itu terpelihara dari generasi ke generasi hingga kini.

Selama ini yang terbangun adalah generalisasi. Kebiasaan ataupun karakter orang-orang tertentu dalam mayarakat dijadikan sebagai sesuatu yang common dan berlaku umum, untuk semua orang.Padahal masih banyak manusia Ambon yang berbicara dengan petuturan dan gaya bahasa lembut alias santun. Masih banyak orang yang jauh dari perilaku kasar dan yang namanya kekerasan.
Hal yang lebih dapat diterima adalah bahwa orang Ambon memiliki kebiasaan berbicara secara blak-blakan. Senang langsung dikatakan senang. Setuju yah setuju. Kalau tidak setuju, dibuatlah menjadi pertentangan kata-kata sampai mendapat kata sepakat. Bukan mengatakan setuju padahal dalam hati dan pikiran sesungguhnya bertentangan. Dan biasanya untuk maksud “mencari kata sepakat itu”, orang lalu menggunakan intonasi dan volume yang tinggi, sehingga biasanya terdengar seperti sebuah perkelahian atau adu mulut yang hebat. Memang ada yang demikian. Namun ini bukan fitrahnya orang Ambon. Akan lebih tepat kalau dikatakan kebiasaan yang demikian merupakan hasil bentukan sistim sosial kita.

Mari kita lihat sisi lain, bahwa perkembangan pengetahuan dan akses pergaulan yang makin membuka pembauran dengan orang dengan berbagai bentuk karakter dewasa ini telah banyak mereduksi kebiasaan-kebiasaan yang demikian. Saya melihat kebiasaan-kebiasaan yang saya gambarkan tadi masih dengan mudah ditemui di wilayah peripheral (sedikit menggunakan konsep pembagian wilayah dalam studi pembangunan). Semakin ke wilayah core, kebiasaan-kebiasaan itu makin jarang kita temui.  

Dengan demikian, tidak dapat diterima secara sosial kalau masih ada yang memberikan label “kasar” atau “keras” kepada orang Ambon tanpa pandang buluh.

Saya berharap tulisan sederhana ini menjadi pencerahan bagi mereka yang masih ada dalam pemahaman atau anggapan yang keliru tentang kami, Orang Ambon.  Sejalan dengan itu saya pun berharap tulisan ini dibaca oleh orang Ambon sendiri yang masih memegang label “kekerasan” pada dirinya, untuk tidak menganggap itu sebagai label bersama. “Ale pung baju belum tentu pas voor beta” peribahasa yang sering dipakai oleh orang-orang tua kita yang maknanya adalah bahwa tiap-tiap orang terbentuk dengan karakternya sendiri-sendiri, jangan digeneralisir.

Sebelum disudahi, saya harus menjawab dulu pertanyaan yang saya tuliskan sebagai kalimat pembuka artikel ini yang juga adalah pertanyaan kawan di Diskusi ASK: benarkah orang Ambon itu identik dengan kekerasan? Jawaban saya: Tidak!


(Lusi, 21 November 2011)

Sahabat yang Menjadikan Sahabatnya Sempurna


Oleh Julia Novrita*


Janganlah kau tinggalkan diriku,  takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
, kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diriku
Oh sayang, engkau begitu sempurna ... (Andra and The Backbone)

“In, selamat ya...sudah naik tulisan resensi bukunya, mantap!” demikian isi SMS yang dikirimkan Dev siang ini, yang membuat In langsung melompat kegirangan.  Betapa tidak, sudah berbulan-bulan yang lalu In menjanjikan sang penulis buku, yang kebetulan juga temannya untuk mereview buku terbitan pertamanya.  Dan janji itu turun terus peringkat prioritas untuk dipenuhinya bersamaan dengan bertambahnya tugas-tugas kantor. Ketika akhir pekan tiba, In pun mempunyai alasan lain yaitu tugas bersih-bersih rumah atau keluar kota. Saat waktu luang itu ada, In pun berkilah dengan blank mode on, hingga suatu hari Dev menyinggungnya, “In, ale su mulai tulis resensi buku teman kita itu ka? Come on dear, you can do it...” In pun tersadar, ada janji yang sudah lama belum dia penuhi. In pun segera memotivasi dirinya sendiri, “Temanku sudah menulis buku, dan itu butuh komitmen yang kuat, sedangkan aku, yang cuma buat resensi dari buku yang sudah ditulis saja, tidak selesai-selesai. Semangaaaatttt Innnn..!!!” demikian tekadnya.
Dan hari ini In sangat gembira mengetahui tulisan resensi buku karangan temannya dipublikasikan disalah satu koran lokal di Ambon. “Dev, beta belum lihat, great! Bagaimana seng mantap, Dev yang jadi reviewernya.  Beta paling semangat ini, rasanya mau menembus badai, pengen kasih Dev big hug! This news means a lot to me Dev. Ini tulisan kedua beta yang masuk koran, setelah yang pertama kalau tidak salah tahun 1998 di Hello Magazine.” In membalas panjang SMS-nya Dev sambil tersenyum sangat puas, ditengah derasnya suara hujan yang terus mengguyur Ambon dalam beberapa hari terakhir ini.  In dan Dev pun memutuskan untuk bertemu sore ini, menembus deras hujan untuk merayakan pencapaiannya dan brainstorming untuk memulai proyek tulisan kreatif berikutnya, ditemani pisang goreng kenari dan saraba di warung langganan mereka.
Setelah melepas kegembiraannya, In mulai mengenang proses yang telah dilaluinya hingga akhirnya tulisan itu bisa dibaca oleh masyarakat Ambon. Tulisan yang In yakin akan membuat temannya, sang penulis senang sekali, mengetahui bukunya diperkenalkan juga melalui koran lokal di Ambon, tidak hanya sebatas posting di Facebook dengan mentag namanya. In menyadari, tanpa Dev yang mengingatkan dan memotivasinya, mungkin dia tidak akan segera mulai menulis. Bahkan lebih dari itu, kritikan Dev yang sangat konstruktif untuk draf tulisannya telah memotivasi In untuk menyempurnakannya. In menyadari, sebelum Dev memberi feedbacknya, tulisan itu sendiri sudah cukup bagus. Jika analoginya ini adalah tugas kuliah, maka In akan memperoleh nilai B dan menurut In, itu sudah cukup mengingat dia mengerjakannya disela-sela kesibukan lain yang lumayan menyita waktu. In tahu ada pesan lain yang ingin disampaikan temannya melalui bukunya, jika ia mau menggali lebih dalam dan itu tentu saja akan membuat hasil resensinya lebih berkualitas. In sangat tahu itu, namun ia seperti sudah pasrah dengan kualitas nilai B itu, hingga In membaca feedback dari Dev yang isinya persis seperti yang In pikirkan sebelumnya, yang intinya ia harus menyempurnakan bagian yang hilang itu. Feedback dari Dev itulah yang menjadi semangat bagi In untuk meluangkan waktu kembali bagi penyempurnaan tulisannya. Dan hasil akhirnya, tulisannya pun terkesan menjadi lebih kaya dan lebih dalam pesannya, yang In sendiri tak bosan membacanya.  Jika kembali lagi ke analogi diatas, In pasti akan mendapat nilai A untuk tulisannya yang sudah dia sempurnakan ini,  dan A+ untuk keberhasilannya menambah daftar tulisan yang dipublikasi setelah lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Seperti halnya In, terkadang kita berhenti berusaha melakukan yang terbaik yang kita bisa untuk mencapai target tertentu, bahkan yang lebih parah berhenti sebelum memulainya sama sekali. Jadi masih sebatas niat baik saja. Mungkin ada yang berhasil memulainya tapi kemudian terhenti ketika baru mencapai seperempat bagian saja atau setengah bagian saja dari target tersebut. Intinya target tidak tercapai dan hasil yang setengah-setengah tentu tidak akan membuat perbedaan, bahkan mungkin bisa berakibat fatal.  Bagi mereka yang berhenti saat mencapai dua pertiga bagian dari yang ditargetkan seperti yang sempat dialami oleh In, itu sudah cukup baik.  Namun tentu saja akan jauh berbeda jika kita tidak berhenti berusaha melakukan yang terbaik hingga hal yang kita targetkan tercapai sepenuhnya, bahkan jika mungkin melampaui target tersebut. Jika hal terakhir ini yang terjadi, maka kita akan membuat diri kita sendiri dan  orang lain terkesan dengan capaian tersebut dan itu akan menambah keyakinan diri bahwa kita bisa menghasilkan karya, apapun itu, dengan kualitas yang terbaik. Namun kualitas terbaik itu akan sulit sekali dicapai jika proses pencapaiannya dijalani seorang diri. 
Ada banyak hal yang terjadi disekeliling kita yang menjadi rintangan untuk berbuat yang terbaik.  Adakalanya rintangan itu bisa kita atasi sendiri, namun interupsi lain pun datang mengalihkan perhatian.  Akhirnya kita sering terjebak dalam excuses yang kita besar-besarkan sebagai pembenaran mengapa kita putuskan berhenti sebelum target itu tercapai sempurna, dan mengerjakan segala sesuatunya dengan asal jadi.  Jadi tidak pantaslah kita terkejut ketika kemudian melihat sekeliling  lalu menemukan begitu banyak hal yang kualitasnya diragukan.  Kitapun menjadi tersadar bahwa kualitas hidup kita juga telah ikut dipertanyakan, yang kita sendiri sebenarnya sudah tahu jawabannya, yaitu berhenti sebelum waktunya.
Kita butuh sahabat, yang setia memberikan kritikan konstruktif dan motivasi untuk tidak pernah berhenti hingga kualitas terbaik itu kita capai.  Karena kesempurnaan itu datang setelah kritik yang sehat itu membuka jalan. Kenyataan yang memprihatinkan saat ini adalah tidak banyak dari kita yang memiliki persahabatan seperti yang dimiliki oleh In dan Dev, yaitu memiliki sahabat yang mampu menjadikan sahabatnya sempurna.  Situs BePenFriends.com dalam salah satu artikelnya tentang hubungan persahabatan menyebutkan bahwa persahabatan sejati itu mengandung keinginan atau hasrat untuk saling mendukung sehingga kedua belah pihak merasa diuntungkan dan biasanya memiliki kesamaan dalam beberapa hal.  Namun yang terpenting dalam persahabatan itu adalah rasa saling menyayangi dan saling memberi perhatian sebagai wujud keinginan seorang sahabat untuk melihat sahabatnya yang lain tumbuh dan berkembang serta pengharapan untuk kesuksesannya. Ditambahkan juga, persahabatan sejati melibatkan aksi atau tindakan yang dilakukan untuk orang lain tanpa mengharapkan balasan, yang berarti keikhlasan; berbagi pandangan dan perasaan-perasaan tanpa ada rasa takut akan dihakimi atau mendapat kritikan-kritikan yang tidak sehat. Kejujuran, kesetiaan dan kepercayaan merupakan pondasi dasar dalam persahabatan. 
            Apa yang harus kita lakukan untuk menemukan seorang sahabat sejati dalam hidup kita? Jerry Lopper, penulis artikel-artikel tentang pengembangan pribadi dalam situs Suite101.com, menyarankan bahwa kita sendiri yang harus menjadi modelnya. Dalam artian sikap dan tindakan kita haruslah mencerminkan karakteristik persahabatan sejati yang sedang kita cari. Menurut Lopper, saat kita menjadi model bagi persahabatan sejati itu sendiri, orang-orang yang tidak sepakat dengan nilai-nilai, sikap serta tindakan yang kita tampilkan akan merasa tidak nyaman dan pergi dengan sendirinya.  Ada rasa kehilangan untuk sementara, yang tentunya tidak mengenakkan hati, tapi Lopper berpendapat, hal ini diperlukan untuk membuat suatu ruang dalam hidup kita yang akan diisi oleh sahabat-sahabat sejati yang yang sebenarnya, yang sesuai dengan harapan kita. 
Dari satu episode kisah hubungan persahabatan antara In dan Dev diatas, dan ulasan tentang karakteristik persahabatan sejati serta bagaimana menemukannya, dapatlah kita simpulkan bahwa persahabatan sejati itu dihasilkan dari sebuah proses hubungan interaksi kita dengan orang lain, yang mana nilai-nilai, sikap dan tindakan kita sendirilah yang akan menentukan apakah kita akan dapat menemukan sahabat sejati, sahabat yang mampu menjadikan sahabatnya sempurna.

*Penulis adalah Alumni IFP The Ford Foundation dan salah satu pendiri Organisasi InDev. 


(Tulisan inspiring ini ditulis oleh penuisnya  pada Agustus 2011. Sudah lama juga. Saya temukan di salah satu folder kumpulan tulisan InDev. Menemukannya membuat saya kangen se kangen-kangennya sama penulisnya yang skarang lagi study di US... dia sahabat sejati yang membuatku merasa sempurna ketika mengurai benang-benang kusut di sebagian perjalanan hidup saya)




Jumat, 14 November 2014

Inspirasi Maluku: Kriminalisasi Perempuan (dan orang muda) dalam pol...

Inspirasi Maluku: Kriminalisasi Perempuan (dan orang muda) dalam pol...: Kata kriminalisasi berasal dari kata criminal. Wikipedia menjelaskan bahwa dalam perkembangan penggunaannya, kriminalisasi mengalami   neol...

Kriminalisasi Perempuan (dan orang muda) dalam politik

Kata kriminalisasi berasal dari kata criminal. Wikipedia menjelaskan bahwa dalam perkembangan penggunaannya, kriminalisasi mengalami neologisme, yaitu menjadi sebuah keadaan saat seseorang dapat dinyatakan sebagai pelaku kejahatan atau penjahat hanya karena adanya sebuah pemaksaan interpretasi atas perundang-undangan melalui anggapan mengenai penafsiran terhadap perlakuan sebagai kriminalisasi formal dalam peraturan perundang-undangan. Sebagai contoh dalam perseteruan KPK dan polisi, kata kriminalisasi digunakan media untuk mendefinisikan upaya polisi menjerat pemimpin KPK. Sebagai orang awam, saya memahami “kriminalisasi” dengan gaya saya sendiri, yaitu satu upaya menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan criminal padahal secara sadar dia sendiri tidak melakukannya. Dengan  gaya pemahaman yang lain, saya dapat mendefinikan kriminalisasi sebagai perbuatan menimpakan perbuatan kriminal tertentu kepada seseorang seolah-olah dialah yang melakukan perbuatan tersebut; hanya oleh penafsiran yang berlebihan ataupun menjebak.

Siapapun memiliki kerentanan untuk mengalami kriminalisasi. Yang paling rentan adalah mereka yang tidak cukup peka atau mungkin juga terlalu lugu terhadap potensi-potensi pelanggaran hukum bersifat kriminal, sehingga lalu dimanfaatkan oleh orang berkepentingan. Dalam bingkai pemikiran ini, kriminalisasi terlihat sebagai salah satu bentuk eksploitasi sisi lemah seseorang.
Dalam ranah perpolitikan di negara kita ini, eksploitasi pun sering terjadi, terutama bagi kaum perempuan. Fakta-fakta seperti perempuan dimasukkan dalam Daftar Calon Tetap (DCT) hanya sebagai pemenuhan syarat administrasi yang harus dipenuhi oleh Partai Politik peserta pemilu atau hanya sebagai pengumpul suara bagi partai politik, adalah bentuk eksploitasi dan berpotensi menjerumuskan perempuan ke dalam kriminalisasi politik.

Ada satu kasus, nyata, yang saat ini sangat meresahkan seorang perempuan (sebut saja dia dengan nama samaran Rienta). Singkat ceritanya, pada pemilihan umum legislative tahun 2009, nama Rienta dimasukkan dalam Partai X, tanpa sepengetahuan dirinya. Baru pada pertengahan tahun 2014, ketika  Rienta sedang dalam posisi dan jabatan yang menuntut dia harus non-partisan, hal itu terungkap. Sementara, pada kenyataannya  Rienta adalah pekerja social masyarakat yang sangat alergi dengan sesuatu berbau politik praktis. Tidak pernah masuk dalam partai politik mana pun, walaupun sudah sejak era reformasi dimulai banyak mendapat ajakan dari partai-partai besar untuk bergabung sebagai kader. Apalagi di antara 2007 – 2009 itu Rienta bekerja pada salah satu International NGO yang secaraimplisit mengisyaratan non-partisan untuk menjamin netralitas dalam pekerjaannya. Lagi pula di tahun 2008 – 2009, Rienta sibuk bolak-balik luar negeri untuk keperluan pekerjaan. Tidak pernah terjadi Rienta masuk sebagai anggota maupun (apalagi) sebagai pengurus partai mana pun.
Bagaimana Rienta bisa sampai masuk ke dalam DCT Partai X itu adalah konspirasi  orang-orang saudara. Keluarga dekatnya mengatur segala sesuatunya dengan memanfaatkan dokumen-dokumen pribadi Rienta. 

Dia dieksploitasi. Dia menjadi korban. Setelah terungkap, pecahlah konflik antara dengan beberapa kerabatnya yang terkait kasus itu. Kalau bukan karena kewajiban menjaga hubungan baik antara orang basudara, Rienta pasti telah menggiring persoalan itu ke penegakan hukum.
Pihak lain yang punya dendam-dendam politik terhadap Rienta pun memanfaatkan kelemahan masa lalu Rienta ini sebagai alat untuk mengusik ketenangan Rienta. Bentuk kriminalisasi lain pun muncul. Rienta digiring seolah-olah telah melakukan perbuatan criminal dengan menutup-nutupi kasus itu. Padahal dia sendiri adalah korban.  Yang lebih menyakitkan lagi adalah para pengganggu atau pendendam yang memanfaatkan kelemahan Rienta itu sesungguhnya adalah pejahat-penjahat politik, pelaku jual beli suara rakyat, pelaku pemalsuan dokumen-dokumen perhitungan suara rakyat dalam beberapa pemilu lokal maupun nasional yang pernah berlangsung di Maluku.

Kasus Rienta ini kemudian melahirkan refleksi penting bagi perempuan, dan juga orang-orang muda (pada tahun 2009 Rienta masih sangat belia secara usia maupun pengalaman), bahwa dunia ini penuh dengan intrik dan ranjau kriminal politik yang dapat menjerat kalian ketika kalian lengah. Semoga cerita tentang Rienta ini juga menginspirasi kalian untuk belajar menjadi “awas” dalam setiap relasi.

Kamis, 13 November 2014

Siapa tau bisa mengispirasi...

Semalam saya "mojok" sama 7 anak muda hebat dari grup Non Violence Study Circle (NVSC), di salah satu sudut Cafe KFC Kakialy, Kadewatan, Ambon. Seru...heboh! Itulah kami semalam. Maklum, lama tak jumpa. Apalagi ketika Firman yang baru kembali dari Indonesian Youth Forum 2014 di Jakarta berbagi pengalamannya.

Banyak yang kami cakapkan dari yang santai dengan cerita-cerita lucu sampai yang serius menegangkan saraf... kayak memikirkan bagaimana perubahan dapat dilakukan oleh orang-orang muda di Kampus Universitas Pattimura. Satu dari beberapa point kesepahaman kami adalah bahwa kita harus menulis! "Hanya tulisan bisa berbicara tentang sejarah", kata Tirta. (besok-besok nanti saya akan menampilkan profil mereka satu per satu di sini).

Blog ini lahir dari situ. Saya sadar, menulis dan mendokumentasikan adalah hal yang sangat penting. Selama ini ada banyak hal yang dikerjakan untuk sesama, walaupun dalam bentuk kecil dan itu bisa jadi pelajaran berharga buat generasi setelah saya, bahkan bisa menjadi sejarah, kalau didokumentasikan dengan baik. Ada banyak hal di negeri seribu pulau ini yang bisa menginspirasi dunia. Bilanglah...gerakan-gerakan sosial yang dikerjakan oleh komunitas perempuan, komunitas orang-orang muda, dan lainnya. Sayangnya masih terbatas ruang untuk mendokumentasikan.

Tirta dan kawan-kawan NVSC benar, kita mesti mulai menulis. Hhmmm!. Teringat, menulis dan mempublikasi sering saya lakukan, tetapi tidak rutin, tidak rajin, tergantung mood, dst. Akhirnya hilang. Syukur-syukur kalau memory bagus, bisa tersimpan di otak dan sewaktu-waktu bisa diceritakan, itu pun kalau ada ruang. Yah, finally, jadilah blog ini.

Di sini saya ingin kita berbagi pengetahuan, pengalaman, harapan atau apa saja inspirasi kita. Siapa tau kita bisa menginspirasi dunia. Amin.