Seperti kebanyakan orang lain, saya percaya tidak ada yang
kebetulan terjadi dalam hidup ini. Atas dasar itu, saya pun meyakini bahwa
ketika Tuhan menuntun ayah saya yang seorang pendeta pada Gereja Protestan
Maluku (GPM) melayani sebagai penghentar jemaat GPM Bethania Klasis Kota Ambon
sejak tahun 1996, itu bukan satu kebetulan pula. Semua terjadi dalam rencana
dan pengaturanNYA.
Pusat pelayanan Jemaat Bethania adalah di Gereja Bethania
yang terletak di Jalan Jend. Ahmad Yani, di antara Markas Besar Polisi Daerah
(Polda) Maluku dan Komando Daerah Militer (Kodam) Pattimura. Secara geografis
daerah Jalan Ahmad Yani berada di bagian belakang daerah pusat Kota Ambon tepat
di kaki Gunung Sirimau (Lihat Peta). Selama konflik, Jalan Ahmad Yani menjadi
jalan utama bagi komunitas Kristen sedangkan gereja Bethania menjadi satu-satunya
gereja yang ‘aman’ dan mudah dijangkau oleh komunitas Kristen dari wilayah-wilayah
perbatasan di dalam kota. Gereja Bethania kemudian menjadi tempat pengungsian terdepan
bagi umat Kristen utamanya dari daerah Sedap Malam, Pardeis, Soa-Ema dan
Ponegoro. Selain itu, karena posisinya yang demikian, Gereja Bethania juga
menjadi tempat berkumpulnya para lelaki yang siap untuk maju daerah-daerah
perbatasan atau daerah-daerah dimana terjadi “kekacauan”.
Fungsi sebagai tempat pengungsian sekaligus terminal pasukan
penjaga keamanan kelompok Kristen, terjadi sejak hari pertama pecahnya
kerusuhan yaitu pada malam hari 19 Januari 1999. Ayah saya pun lebih banyak
menghabiskan waktunya di gereja. Saya sangat sering membantu beliau di sana.
Pada hari pertama itu, menjelang magrib, keadaan kota Ambon
mulai mencekam karena terjadi pembakaran di daerah perbatasan Mardika dan Batu
Merah, ayah mengajak saya dan ibu menemani beliau di gereja, bersama dengan
beberapa pelayan dan warga jemaat sekitar gereja. Dengan begitu saya
menyaksikan setiap kejadian berkumpulnya para lelaki sejak hari mulai gelap dan
kira-kira sekitar pukul 21.00 ada dua orang muda masuk ke kantor gereja membawa
satu ball kain merah untuk dipotong-potong seperti kain berang dan diberikan
kepada setiap lelaki yang mau maju ke daerah perbatasan. Saya pun mendengar
sendiri seorang bapak mengarahkan mereka untuk menggunakan sandi. Menurut si
bapak yang memberikan arahan itu, mereka harus bisa membedakan kawan dari lawan
di daerah perbatasan, sehingga harus gunakan sandi.
Seperti sebuah scenario drama yang telah ditulis dan
orang-orang itu tinggal melakoni peran-perannya dengan strategi yang sudah ada.
Saya hanya bisa terperangah menyaksikan semua yang terjadi begitu tiba-tiba di
malam pertama itu. Seperti lagi bermimpi! Saya sempat bertanya dengan nada
protes kepada ayah saya, siapa mereka, dari mana kain itu, dari mana instruksi
penggunaan sandi itu? Dimana sinode? Mengapa sinode membiarkan semua ini
terjadi, bukan mencegat dan menenangkan umat? apakah di kelompok muslim pun terjadi hal yang
sama? Dimana MUI? Mengapa MUI juga membiarkan? Pertentangan mulut dengan ayah
saya tidak terelakkan. Pertentangan batin dalam diri saya lebih lagi
berkecamuk.
Bersamaan dengan proses “persiapan” para lelaki itu, masuk para
pengungsi. Perhatian saya pun beralih ke saudara-saudara yang datang itu lalu
bersama dengan ibu dan beberapa jemaat perempuan menyiapkan ruang dalam gereja
untuk mereka. Kami pun bergerak mengumpulkan makanan seadanya untuk mereka pada
malam itu.
Itulah awal kerja kemanusiaan saya. Sejak itu saya terus bergerak bersama dengan kawan pemuda di
Bethania memberikan pelayanan-pelayanan psikologis atau pastoralia ke beberapa
kamp pengungsian secara volunteer. Bersama bung Jemi Mailoa, Ade Ohello dan
beberapa kawan lainnya, kami membentuk tim pelayanan yang diberinama Ekkaleo
Charismata yang berarti terpanggil keluar untuk perlabakan karunia. Tim yang sungguh
sangat menginspirasi dan mengobarkan spirit kerelawanan untuk kemanusiaan yang
luar biasa pada fase emergensi. Setelah lewat fase itu, spirit gerakan kemudian
terus menggiring saya bergelut pada wilayah-wilayah manajemen konflik dan
perdamaian; juga anak, perempuan dan perdamaian. Dengan up and downnya, focus gerakan terus berkembang seiring perkembangan
kondisi sosial kemasyarakatan dan dinamika gerakan masyarakat sipil di daerah dan
negara tercinta ini.
Spirit gerakan humanitarian tersulut di Gereja (Jemaat) Bethania, di tanggal 19 Januari 16 tahun lalu dan untuk selamanya akan terus berkobar menghidupkan hidup, melalui berbagai peran. Selalu!
(tulisan ini adalah semacam reminder untuk memulai penulisan buku dokumentasi pengalaman kerja untuk perdamaian berbasis komunitas di Ambon)