Kesempatan mengikut kegiatan Seminar Nasional yang
diselenggarakan oleh Pusat Studi Kajian Gender (PSKG) Universitas Indonesia tanggal
10 – 12 Februari 2015 lalu adalah ‘sesuatu banget’. Yang membuatnya demikian
adalah bertemu dengan perempuan-perempuan cendekia dan rebellious, berdiksusi
tentang pergerakan-pergerakan yang dibangun untuk perempuan di daerah mereka masing-masing untuk berbagai isu. So inspiring.
Perempuan yang bergelut dengan perlawanan perempuan desa menentang
Multi-national Coorporate dengan industri-industri extractive di Bengkulu,
Jambi dan Kalimantan Barat; perempuan yang memperjuangkan keadilan untuk kaum
marjinal dan rentan secara ekonomi; perjuangan mendapatkan keadilan gender dalam berbagai persoalan sosial berbasis
kultur, agama dan realita pluralism lainnya di berbagai tempat di negara
tercinta ini; hingga perjuangan perempuan memperjuangkan kesetaraan hak dalam
politik lokal di Sumatra Barat dan Maluku maupun dalam konteks nasional. Fakta-fakta
perjuangan atau gerakan perempuan itu dibahasakan secara ilmiah dengan berbagai
pendekatan teoritis.
Di situpun kami berkesempatan mendengar dua menteri kabinetnya Presiden Jokowi berbicara tentang kebijakan pemerintah untuk keadilan dan kesetaraan gender. Ada Menteri Agama yang sangat smart mempresentasikan pikiran-pikiran pemerintah dan merespon tantangan-tantangan forum, juga bu Menteri Sosial yang luar biasa dalam penguasaannya terhadap konteks kebutuhan keadilan sosial oleh perempuan Indonesia dalam pluralisme.
Empat hari berbicara tentang membangun kolaborasi dan
jaringan antara pegiat-pegiat kajian gender yang berada di kampus dan yang di
lembaga-lembaga kajian di luar kampus mempertegas pentingnya membangun
mekanisme produksi pengetahuan berbasis kerja-kerja pergerakan di komunitas,
sebaliknya penting juga mendesign pola-pola pergerakan perempuan berbasis
kajian-kajian ilmiah. Saya jadi ingat almamater saya di DenHaag, Holland, yang
menanamkan falsafah pergerakan modern bahwa Aktivis LSM mesti mempergunakan
kesempatan-kesempatan kerja langsung dengan komunitas untuk memproduksi ilmu
pengetahun. Itulah yang menginspirasi saya untuk belajar – belajar dan belajar
terus, walau saya bukan “orang kampus”. Dan saya akan terus belajar…
Konon katanya …yang terus belajar, akan lebih akademis dari
pada orang kampus yang malas belajar apalagi tidak produktif menghasilkan pengetahuan-pengetahuan
baru J



