Sabtu, 21 Februari 2015

Terus Belajar



Kesempatan mengikut kegiatan Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kajian Gender (PSKG) Universitas Indonesia tanggal 10 – 12 Februari 2015 lalu adalah ‘sesuatu banget’. Yang membuatnya demikian adalah bertemu dengan perempuan-perempuan cendekia dan rebellious, berdiksusi tentang pergerakan-pergerakan yang dibangun untuk perempuan di daerah  mereka masing-masing untuk berbagai isu. So inspiring.

Perempuan yang bergelut dengan perlawanan perempuan desa menentang Multi-national Coorporate dengan industri-industri extractive di Bengkulu, Jambi dan Kalimantan Barat; perempuan yang memperjuangkan keadilan untuk kaum marjinal dan rentan secara ekonomi; perjuangan mendapatkan keadilan gender  dalam berbagai persoalan sosial berbasis kultur, agama dan realita pluralism lainnya di berbagai tempat di negara tercinta ini; hingga perjuangan perempuan memperjuangkan kesetaraan hak dalam politik lokal di Sumatra Barat dan Maluku maupun dalam konteks nasional. Fakta-fakta perjuangan atau gerakan perempuan itu dibahasakan secara ilmiah dengan berbagai pendekatan teoritis.


Di situpun kami berkesempatan mendengar dua menteri kabinetnya Presiden Jokowi berbicara tentang kebijakan pemerintah untuk keadilan dan kesetaraan gender. Ada Menteri Agama yang sangat smart mempresentasikan pikiran-pikiran pemerintah dan merespon tantangan-tantangan forum, juga bu Menteri Sosial yang luar biasa dalam penguasaannya terhadap konteks kebutuhan keadilan sosial oleh perempuan Indonesia dalam pluralisme.

 



Empat hari berbicara tentang membangun kolaborasi dan jaringan antara pegiat-pegiat kajian gender yang berada di kampus dan yang di lembaga-lembaga kajian di luar kampus mempertegas pentingnya membangun mekanisme produksi pengetahuan berbasis kerja-kerja pergerakan di komunitas, sebaliknya penting juga mendesign pola-pola pergerakan perempuan berbasis kajian-kajian ilmiah. Saya jadi ingat almamater saya di DenHaag, Holland, yang menanamkan falsafah pergerakan modern bahwa Aktivis LSM mesti mempergunakan kesempatan-kesempatan kerja langsung dengan komunitas untuk memproduksi ilmu pengetahun. Itulah yang menginspirasi saya untuk belajar – belajar dan belajar terus, walau saya bukan “orang kampus”. Dan saya akan terus belajar…


Konon katanya …yang terus belajar, akan lebih akademis dari pada orang kampus yang malas belajar apalagi tidak produktif menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru J