Selasa, 31 Januari 2017

Judulnya Takut

Judulnya memang membingungkan. Ini hanya sebuah catatan pinggiran tentang perempuan dan keputusan menikah.

Entah lah. Merinding saja jika mengetahui ada orang yang mau menikah. Rasanya seluruh sendi tubuhku melonggar dan lepas pada titik-titik ikatnya. Apalagi kalau yang mau menikah itu saya kenal sebagai perempuan cerdas, punya obsesi dan peluang menganyam karier cemerlang.

Sejumlah pertanyaan lalu melintas dalam takutku. Sudahkan ia mengenal pasangannya sedalam mungkin? Sudahkan visi hidup pribadi mereka masing-masing dihadap-hadapkan dan memang dapat dipadukan tanpa harus dilebur. Kalaupun harus dilebur, apakah segala konsekwensi telah dikalkulasikan secara matang. Duh…!

Ketakutan itu lahir dari jalan hidup yang pernah saya lalui dengan kesalahan besar di dalamnya. Kebodohan terbesar dari diriku. Kepicikan yang membawaku tersesat dalam pekatnya rimba.
Melangkah mengikat janji suci dengan sejuta angan dan impian. Namun tidak semudah itu mewujudkannya. Kejutan demi kejutan datang memukul diri dari segala penjuru. “Manisnya hanya sesaat” kata syair lagu lawas, lupa judul dan penyanyinya.

Tak ingin ada perempuan lain melewati jalan salah yang telah aku lalui. Jangan sampai deh. Sebelum melangkah, timbang segalanya seteliti mungkin. Pastikan tuntas mengenali diri dan menggodok visi, tuntas dengan segala yang perlu disepakati. Pastikan tidak akan ada pihak yang mampu merubah apa sudah disepakati. Pastikan kau akan nyaman senyaman-nyamannya bersamanya.
Karena… ketika sudah terlanjur masuk ke rimba pekat bernama pernikahan, akan habis energi dan usiamu untuk membersihkan belukar-belukar duri untuk mendapatkan jalan keluar demi sebuah kemerdekaan diri.



Catatan akhir Januari,
Perempuan di kaki gunung

Jumat, 13 Januari 2017

Menayang kenangan di awal aktualisasi komitmen menjadi pengguna medsos yang baik

Hari ini saya menerima tantangan dari beberapa kawan baik saya untuk menayangkan foto keindahan alam Maluku di facebook dan instagram. Sudah sering saya mendapatkan tantangan seperti ini, namun tidak pernah tertarik menerimanya. Sekali ini okay. Saya menerimanya dengan alasan sederhana, bahwa saya pun ingin membiasakan diri berinternet sehat di tahun 2017 ini. Syukur-syukur kalau  ada kawan yang mengikutinya. Perubahan kan dimulai dari diri kita sendiri J J J.
Saya memulai dengan menayangkan gambar yang saya ambil sendiri di Abubu, kampung asal saya, di Pulau Nusalaut. Gambar itu special bagi saya, karena berkisah tentang dua moment penting dalam hidup saya pribadi dan keluarga, yang terjadi di akhir November 2016 kemarin.

Kenangan yang pertama adalah untuk pertama kalinya mengantarkan Dave, si jantung hati saya ke kampung asalnya. Berlibur ke kampung halaman adalah kerinduan yang cukup lama dipendamnya.  Bersyukur sekali saya bias mendapatkan waktu yang tepat untuk mewujudkan kerinduannya itu. Bercengkerama dengan kaum keluarga, menikmati alam dari laut dan pantai hingga menjelajah tepi hutan bersama saudara sekampung yang sebaya, semua dijalani dengan penuh antusiasme dan gembira. Di gambar yang ditayang, dia duduk di sebuah perahu milik opa Laban. Ketika itu senja hampir berganti malam dan air laut mulai surut, sehingga para lelaki yang hendak melaut pada malamnya dengan perahu harus membawa perahu mereka ke batas pasang-surut. Dave melihat Opa Laban sedang menyiapkan perahunya, spontan dia berlari turun dari halaman belakang rumah kami ke arah Opa Laban dan menanyakan apakah dia bias meminjamkan perahu Opa untuk bermain sebentar. Opa mengijinkan. Sontak, Dave naik duduk di dalam perahu, mengambil kayuh dan mulailah petualangannya. Celotehnya yang sungguh manis bagi kami yang memandangnya dari pantai: “dave pi mangael dolo e…mudah-mudahan dapa ikan banya…” (maksudnya: Dave pergi mengail ikan dulu yah, mudah-mudahan bisa mendapatkan ikan yang banyak). Opa Laban yang baik hati berjalan di belakang perahunya mengantar Dave yang mengayuh ke arah batas pasang-surut, sambil sekali-kali mesti membantu membenarkan posisi haluan perahu. Lumayan jauh karena luasnya area surut di kampung kami. Begitu selesai, Opa Laban membopong Dave di pundaknya, kembali ke pesisir pantai. Begitulah manisnya hidup orang bersaudara di kampung yang ikut tersimpan manis di gambar itu.

Kenangan yang kedua adalah mengantarkan Nona, adik bungsu yang baru saja ditabishkan menjadi seorang pendeta, untuk pertama kalinya melayani umat Tuhan dalam ibadah minggu. Hari minggu, tanggal 27 November 2016 menjadi hari bersejarah dalam hidup Nona dan juga keluarga kami. Di hari itu, untuk pertama kalinya dia mengenakan pakaian kebesaran seorang Hamba Tuhan di Gereja Protestan dan memimpin ibadah minggu. Pertama kali dia menyampaikan Firman Tuhan dan mengangkat tangannya memberkati umat Tuhan dari mimbar gereja, dan itu terjadi di gedung Gereja Irene, Jemaat  GPM Abubu. Sebagai kakak sulungnya, saya bersyukur diberi Tuhan kesempatan untuk menjadi bagian dari sejarah itu. Kenangan yang tak terlupakan dan akan selalu disyukuri.
Setelah ditayang, beberapa kawan memberikan komentar tentang keindahan pemandangannya. “…seperti lukisan” kata Lili bin Soleman. Bagi saya gambar itu tidak hanya indah. Dia juga sangat special, karena menyimpan rapi dua kenangan tadi.  

Penayangan gambar ini pun menjadi awal dari aktualisasi salah satu niat hati di tahun 2017 ini, untuk menjadi pengguna media social yang baik. Tidak ingin menggunakan media social untuk menyebarkan hal-hal buruk atau hate speech, tidak akan menyebarkan hoax dan tidak akan mengekspose privacy baik diri sendiri maupun orang lain. Masih ada lebih dari 350 hari ke depan hingga 2017 ini berakhir , mungkin akan sulit untuk konsisten dengan niat hati ini, namun saya mau belajar memiliki konsistensi itu. Bukankah asal ada kemauan pasti ada jalan?


Untuk tantangan selama 7 hari ini, saya memilih untuk tidak mengikuti petunjuk penanyangan itu sepenuhnya, saya akan membuat refleksi singkat pada setiap gambar yang saya tayangkan, kemudian menggunakan tanda tagar pribadi saya sendiri  yaitu #itslusi dan #mydave dan tanda tagar yang menerangkan lokasi gambar yang saya pilih. Tanda tagar umum yang diminta dipasang pada setiap penayangan tidak akan saya pakai semuanya, mungkin hanya “#damaiidarimaluku” dan “#provokatordamai”. Semoga kawan-kawan yang memberikan tantangan ataupun (apalagi) yang menginisiasinya tidak kecewa dengan pilihan saya ini.


Salam internet sehat 2017.



Soya, 10 Januari 2017

Senin, 17 Oktober 2016

Belajar Hidup dari Torane-inai; sepenggal catatan etnografi Perempuan Adat Suku Nuaulu


“Tanah, air dan hutan membentuk mereka menjadi guru-guru kehidupan. Hormat dan salut sama mereka”. Dua hari lalu saya mengupdate status facebook saya dengan sepotong kalimat tersebut, yang sesungguhnya adalah caption pada 2 foto pilihan tentang perempuan adat Suku Nuaulu. Kedua  foto itu merupakan  hasil jepretan candid camera dari handphone saya. Gambarnya diambil pada saat para modelnya sedang benar-benar melakukan aktivitasnya. Alami dan tanpa acting. Status dan foto tersebut adalah bagian dari proses pembelajaran secara mendalam akan kehidupan perempuan Nuaulu, menerapkan konsep etnografi yang saya miliki.

Pada tulisan ini saya hanya ingin bertutur tentang salah satu gambarnya, yaitu gambar seorang perempuan muda yang sedang duduk menjahit pinggiran kain merah. Gambar itu diambil di Negeri Nua Nea. Perempuan cantik digambar itu berasal dari marga Soumory menikah dengan marga Matoke dan telah memiliki 3 anak. Biasanya dia disapa Torane-inai atau Hatu-inai atau Saite-Inai (Torane, Hatu dan Saite) adalah nama 3 anaknya; perempuan Nuaulu yang sudah menikah dan memiliki anak biasanya dipanggil dengan menggunakan nama anak (salah satu) anak ditambah kata “inai” yang berarti “ibu dari”. Saya lebih Sering menyapanya Torane-inai (ibunya Torane).


Kain yang sedang Ia jahit di foto ini, adalah salah satu perlengkapan penting untuk upacara adat yang mesti dikenakan oleh suaminya yang akan menerima kenaikan pangkat dalam strata adat-istiadat mereka.  Itu adalah kain penutup cawat, berukuran 50  x 50 cm. Sesungguhnya kain tersebut bisa saja dia bawa ke pasar lalu penjahit memberinya jahitan aplikasi merapikan pinggirannya. Namun, dia memilih taat pada aturan adat, menjahitkannya sendiri secara manual.

Hasilnya sungguh-sungguh membuat saya terkagum-kagum, oleh karena jahitan tangannya yang begitu rapi. Lipatan kain, arah benang bersimpul, jarak antar simpul begitu rapi dan teratur. Saya mencermati setiap simpul untuk menemukan sedikit saja cacad, namun saya tidak berhasil menemukannya. Selama tiga hari dia mengerjakannya sedikit demi sedikit disela-sela kesibukan rutinnya mengurus pekerjaan-pekerjaan domestic.

Ketika saya bertanya, tidak dibawa ke tukang jahit di pasar, Torane-inai menjawab: “seng boleh, adat larang”. Sederhana sekali cara berpikirnya yaitu tidak ingin melanggar aturan adat. Torane-inai mengajarkan pentingnya ketaatan pada aturan adat yaitu menghindari modernitas dalam upacara adat. Kesederhanaan itu diperkuat dengan kemampuannya untuk telaten dan sabar membuat satu simpul ke simpul berikutnya hingga seluruh keliling kain itu terjahit sempurna. Ada satu kata sebetulnya yang ia ajarkan di sini, yaitu dedikasi. Kesungguhan dalam mendedikasikan hidup pada adat.  

Perempuan yang menjadi menantu dari marga Matoke memiliki kewajiban dan tanggungjawab adat yang cukup banyak, dan lebih rigid dibandingkan dengan menantu marga lainnya di Suku Nuaulu. Ada sejumlah aturan adat yang wajib ditaati, misalnya aturan yang dibuat oleh leluhur yang melarang menantu Matoke untuk tidak melewati air Sungai Noa. Torane-inai dan ina – ina menantu marga Matoke lainnya memiliki ketaatan yang sungguh luar biasa, lag-lagi, untuk satu kata: dedikasi. Dedikasi sebagai perempuan adat Suku Nuaulu.

Pembelajaran yang sangat berharga. Saya sungguh hormat dan salut pada mereka. Tabea.