Senin, 17 Oktober 2016

Belajar Hidup dari Torane-inai; sepenggal catatan etnografi Perempuan Adat Suku Nuaulu


“Tanah, air dan hutan membentuk mereka menjadi guru-guru kehidupan. Hormat dan salut sama mereka”. Dua hari lalu saya mengupdate status facebook saya dengan sepotong kalimat tersebut, yang sesungguhnya adalah caption pada 2 foto pilihan tentang perempuan adat Suku Nuaulu. Kedua  foto itu merupakan  hasil jepretan candid camera dari handphone saya. Gambarnya diambil pada saat para modelnya sedang benar-benar melakukan aktivitasnya. Alami dan tanpa acting. Status dan foto tersebut adalah bagian dari proses pembelajaran secara mendalam akan kehidupan perempuan Nuaulu, menerapkan konsep etnografi yang saya miliki.

Pada tulisan ini saya hanya ingin bertutur tentang salah satu gambarnya, yaitu gambar seorang perempuan muda yang sedang duduk menjahit pinggiran kain merah. Gambar itu diambil di Negeri Nua Nea. Perempuan cantik digambar itu berasal dari marga Soumory menikah dengan marga Matoke dan telah memiliki 3 anak. Biasanya dia disapa Torane-inai atau Hatu-inai atau Saite-Inai (Torane, Hatu dan Saite) adalah nama 3 anaknya; perempuan Nuaulu yang sudah menikah dan memiliki anak biasanya dipanggil dengan menggunakan nama anak (salah satu) anak ditambah kata “inai” yang berarti “ibu dari”. Saya lebih Sering menyapanya Torane-inai (ibunya Torane).


Kain yang sedang Ia jahit di foto ini, adalah salah satu perlengkapan penting untuk upacara adat yang mesti dikenakan oleh suaminya yang akan menerima kenaikan pangkat dalam strata adat-istiadat mereka.  Itu adalah kain penutup cawat, berukuran 50  x 50 cm. Sesungguhnya kain tersebut bisa saja dia bawa ke pasar lalu penjahit memberinya jahitan aplikasi merapikan pinggirannya. Namun, dia memilih taat pada aturan adat, menjahitkannya sendiri secara manual.

Hasilnya sungguh-sungguh membuat saya terkagum-kagum, oleh karena jahitan tangannya yang begitu rapi. Lipatan kain, arah benang bersimpul, jarak antar simpul begitu rapi dan teratur. Saya mencermati setiap simpul untuk menemukan sedikit saja cacad, namun saya tidak berhasil menemukannya. Selama tiga hari dia mengerjakannya sedikit demi sedikit disela-sela kesibukan rutinnya mengurus pekerjaan-pekerjaan domestic.

Ketika saya bertanya, tidak dibawa ke tukang jahit di pasar, Torane-inai menjawab: “seng boleh, adat larang”. Sederhana sekali cara berpikirnya yaitu tidak ingin melanggar aturan adat. Torane-inai mengajarkan pentingnya ketaatan pada aturan adat yaitu menghindari modernitas dalam upacara adat. Kesederhanaan itu diperkuat dengan kemampuannya untuk telaten dan sabar membuat satu simpul ke simpul berikutnya hingga seluruh keliling kain itu terjahit sempurna. Ada satu kata sebetulnya yang ia ajarkan di sini, yaitu dedikasi. Kesungguhan dalam mendedikasikan hidup pada adat.  

Perempuan yang menjadi menantu dari marga Matoke memiliki kewajiban dan tanggungjawab adat yang cukup banyak, dan lebih rigid dibandingkan dengan menantu marga lainnya di Suku Nuaulu. Ada sejumlah aturan adat yang wajib ditaati, misalnya aturan yang dibuat oleh leluhur yang melarang menantu Matoke untuk tidak melewati air Sungai Noa. Torane-inai dan ina – ina menantu marga Matoke lainnya memiliki ketaatan yang sungguh luar biasa, lag-lagi, untuk satu kata: dedikasi. Dedikasi sebagai perempuan adat Suku Nuaulu.

Pembelajaran yang sangat berharga. Saya sungguh hormat dan salut pada mereka. Tabea. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar