“Tanah, air dan hutan membentuk mereka menjadi guru-guru
kehidupan. Hormat dan salut sama mereka”. Dua hari lalu saya mengupdate status
facebook saya dengan sepotong kalimat tersebut, yang sesungguhnya adalah caption
pada 2 foto pilihan tentang perempuan adat Suku Nuaulu. Kedua foto itu merupakan hasil jepretan candid camera dari handphone
saya. Gambarnya diambil pada saat para modelnya sedang benar-benar melakukan
aktivitasnya. Alami dan tanpa acting. Status dan foto tersebut adalah bagian
dari proses pembelajaran secara mendalam akan kehidupan perempuan Nuaulu,
menerapkan konsep etnografi yang saya miliki.
Pada tulisan ini saya hanya ingin bertutur tentang salah
satu gambarnya, yaitu gambar seorang perempuan muda yang sedang duduk menjahit
pinggiran kain merah. Gambar itu diambil di Negeri Nua Nea. Perempuan cantik
digambar itu berasal dari marga Soumory menikah dengan marga Matoke dan telah
memiliki 3 anak. Biasanya dia disapa Torane-inai atau Hatu-inai atau Saite-Inai
(Torane, Hatu dan Saite) adalah nama 3 anaknya; perempuan Nuaulu yang sudah
menikah dan memiliki anak biasanya dipanggil dengan menggunakan nama anak
(salah satu) anak ditambah kata “inai” yang berarti “ibu dari”. Saya lebih
Sering menyapanya Torane-inai (ibunya Torane).
Kain yang sedang Ia jahit di foto ini, adalah salah satu perlengkapan
penting untuk upacara adat yang mesti dikenakan oleh suaminya yang akan
menerima kenaikan pangkat dalam strata adat-istiadat mereka. Itu adalah kain penutup cawat, berukuran
50 x 50 cm. Sesungguhnya kain tersebut bisa
saja dia bawa ke pasar lalu penjahit memberinya jahitan aplikasi merapikan
pinggirannya. Namun, dia memilih taat pada aturan adat, menjahitkannya sendiri
secara manual.
Hasilnya sungguh-sungguh membuat saya terkagum-kagum, oleh karena jahitan tangannya yang begitu rapi. Lipatan kain, arah benang bersimpul, jarak antar simpul begitu rapi dan teratur. Saya mencermati setiap simpul untuk menemukan sedikit saja cacad,
namun saya tidak berhasil menemukannya. Selama tiga hari dia mengerjakannya
sedikit demi sedikit disela-sela kesibukan rutinnya mengurus pekerjaan-pekerjaan
domestic.
Ketika saya bertanya, tidak dibawa ke tukang jahit di pasar,
Torane-inai menjawab: “seng boleh, adat larang”. Sederhana sekali cara
berpikirnya yaitu tidak ingin melanggar aturan adat. Torane-inai mengajarkan
pentingnya ketaatan pada aturan adat yaitu menghindari modernitas dalam upacara
adat. Kesederhanaan itu diperkuat dengan kemampuannya untuk telaten dan sabar
membuat satu simpul ke simpul berikutnya hingga seluruh keliling kain itu
terjahit sempurna. Ada satu kata sebetulnya yang ia ajarkan di sini, yaitu
dedikasi. Kesungguhan dalam mendedikasikan hidup pada adat.
Perempuan yang menjadi menantu dari marga Matoke memiliki kewajiban
dan tanggungjawab adat yang cukup banyak, dan lebih rigid dibandingkan dengan
menantu marga lainnya di Suku Nuaulu. Ada sejumlah aturan adat yang wajib
ditaati, misalnya aturan yang dibuat oleh leluhur yang melarang menantu Matoke
untuk tidak melewati air Sungai Noa. Torane-inai dan ina – ina menantu marga
Matoke lainnya memiliki ketaatan yang sungguh luar biasa, lag-lagi, untuk satu
kata: dedikasi. Dedikasi sebagai perempuan adat Suku Nuaulu.
Pembelajaran yang sangat berharga. Saya sungguh hormat dan
salut pada mereka. Tabea.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar