Judulnya memang membingungkan. Ini hanya sebuah catatan
pinggiran tentang perempuan dan keputusan menikah.
Entah lah. Merinding saja jika mengetahui ada orang yang mau
menikah. Rasanya seluruh sendi tubuhku melonggar dan lepas pada titik-titik
ikatnya. Apalagi kalau yang mau menikah itu saya kenal sebagai perempuan cerdas,
punya obsesi dan peluang menganyam karier cemerlang.
Sejumlah pertanyaan
lalu melintas dalam takutku. Sudahkan ia mengenal pasangannya sedalam mungkin? Sudahkan
visi hidup pribadi mereka masing-masing dihadap-hadapkan dan memang dapat
dipadukan tanpa harus dilebur. Kalaupun harus dilebur, apakah segala
konsekwensi telah dikalkulasikan secara matang. Duh…!
Ketakutan itu lahir dari jalan hidup yang pernah saya lalui
dengan kesalahan besar di dalamnya. Kebodohan terbesar dari diriku. Kepicikan
yang membawaku tersesat dalam pekatnya rimba.
Melangkah mengikat janji suci dengan sejuta angan dan
impian. Namun tidak semudah itu mewujudkannya. Kejutan demi kejutan datang memukul
diri dari segala penjuru. “Manisnya hanya sesaat” kata syair lagu lawas, lupa
judul dan penyanyinya.
Tak ingin ada perempuan lain melewati jalan salah yang telah
aku lalui. Jangan sampai deh. Sebelum melangkah, timbang segalanya seteliti
mungkin. Pastikan tuntas mengenali diri dan menggodok visi, tuntas dengan
segala yang perlu disepakati. Pastikan tidak akan ada pihak yang mampu merubah
apa sudah disepakati. Pastikan kau akan nyaman senyaman-nyamannya bersamanya.
Karena… ketika sudah terlanjur masuk ke rimba pekat bernama pernikahan, akan habis energi dan usiamu untuk membersihkan belukar-belukar duri untuk mendapatkan jalan keluar demi sebuah kemerdekaan diri.
Karena… ketika sudah terlanjur masuk ke rimba pekat bernama pernikahan, akan habis energi dan usiamu untuk membersihkan belukar-belukar duri untuk mendapatkan jalan keluar demi sebuah kemerdekaan diri.
Catatan akhir Januari,
Perempuan di kaki gunung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar