Rabu, 22 April 2015

Janji Hati Beta

(part 1)
What a long long long day. Sejak saya memberi kiss sayang pada si buah hati sebelum brangkat dari rumah di Ambon saat dia masih tertidur pulas, lalu lebih kurang 5 jam perjalanan dengan feri menuju Nusalaut, peninjauan proyek di Negeri Titawaai dan akhirnya kembali ke Rumah Tua di Abubu... saat senja mulai memudar....rasanya panjaaaang sekali hari ini.

Dan akhirnya saya bisa bercengkerama bersama sanak saudara di teras mungil penghias sudut depan rumah. Semilir sisa angin laut menyejukkan kegerahan tubuh. Temparaturnya turun bersama merambahnya malam. Tapi kehangatan cengkerama berisi topic-topik diskusi menarik menghalau dingin, menghangatkan hati,

Semua orang dewasa yang lalu lalang di depan rumah melepas sapa karib. Kadang kami tertawa melihat reaksi terkaget dengan kedatangan saya yang tiba-tiba. Tidak sedikit yang menghias sapanya dengan candaan rindu. Keramahan khas orang negeri. Orang-orangku terkasih!
Dari cengkerama ini saya jadi tahu berbagai perkembangan sosial yang terjadi di sini. Saya jadi tahu, generasi saya adalah ruling generation saat ini baik dalam pemerintahan negeri juga dalam institusi-institusi  adat. Saya pun mengetahui bagaimana pemerintahan yang kini didominasi generasi saya ini membuat perencanaan pembangunan negeri tahun ini. Yang juga menarik buat saya adalah informasi tentang peraturan-peraturan negeri yang dibuat oleh Bapak Raja (sebutan untuk kepala Desa  tradisional di Maluku). Protes dan omelan meresponi peraturan-peraturan itu bertaburan di atas penuturan yang seru. Mereka telah memiliki perspektif yang baik dan kritis.

Ada juga cerita tentang dusun-dusun yang tidak produktif dan malah ada yang kosong. Lalu dikaitkan dengan tantangan membesarkan anak cucu yang terus bertumbuh, bagaimana memberikan pendidikan yang layak, dan tantangan lainnya. Saya menyimak sambil mengagumi saudara-saudara saya ini. Mereka para pejuang kehidupan. Mereka sangat menginspirasi.

Saya sedikit tersentak dengan menangkap kesan adanya outoritarian dalam pemerintahan negeri dan tidak sensitifnya pemerintah negri terhadap kepentingan terbaik perempuan. Ahhh! Beta harus balik lagi nanti untuk mendalami informasi-informasi ini. Itu janji hati beta.

Malam bae basudara!

-----------------------

(part 2)
Saya melewati malam yang sangat tenang. Tenang yang sungguh hening. Tiada suara orang bercerita di jalanan depan rumah ataupun gonggongan anjing yang biasanya membuat telinga saya sakit dan memunculkan kekesalan karena susah tidur atau harus sering terjaga. Saya baru terjaga dengan kokokkan pertama ayam-ayam kampung.

Dari pembaringan sayup terdengar suara debur ombak yang pecah di tubir-tubir nahano, barisan karang separator daerah pasang dan surut. Tenangnya hatinya.  

"slamat pagi ina..." sapaan dari seorang perempuan paruh baya di sebelah rumah kepada saya, mengingatkan pada almarhumah ibu baptis saya. Harum aroma mintanggor menusuk rongga dada, terasa lapang. Segar sekujur tubuh.

Perempuan mulai sibuk dengan pekerjaan domestik sebagaimana rutinnya. Atas talud menjadi tempat mencuci alat makan dan dapur. Bocah-bocah sempatkan mengorek-ngorek karang mencari ikan kecil dan siput sebelum berangkat sekolah. Bertelanjang kaki tanpa takut tergores atau terluka. Anak - anak alam! Masa depan negeri!

Dulu, semasa kecil saya di sini, talud belum dibangun. Kami masih bebas duduk bersantai dan bermain di sepanjang pesisir pantai, saudara-saudara saya dari Holland bisa rebahan untuk sub bathing, hanya beberapa langkah di belakang dapur.

Sekarang tidak lagi. Saya bahkan tidak bisa lagi melihat putihnya pasir pantai. Apa boleh dikata. Kita tidak bisa mengelak dari dampak pembangunan tak berwawasan lingkungan.

Dari atas talud saya sampaikan pada alam negeri ini, selamat pagi Abubu. Semoga angin utara yang berputar dari arah Pohon Batu meneruskan sapa salam ku ke semesta negeri, ke hati para penduduk negeri ini yang telah memulai hari dengan cara mereka, di belakang-belakang dapur, di dusun-dusun, di bibir pantai, di meti, di penjuru kampung tercinta.

Satu dua jam lagi beta harus bilang amato voor samua. Maar ini janji hati beta: beta pasti bale!




Negeri Kakerisa Amapatti, 15 April 2015