Senin, 20 April 2015

Gemuruh di Atas Feri Samandar menuju Nusalaut

Dunia sedemikian berkembang, hingga saat ini orang punya banyak alternatif untuk membuat perjalanan antar pulau. Pemikiran itulah yang pertama kali muncul di benak saya begitu mengayuhkan langkah masuk Feri Samandar ini. Maklum, ini pertama kalinya saya menggunakan feri untuk menuju Pulau Nusalaut.

Saya terbilang terlambat menikmati perkembangan transportasi antar pulau di Prpinsi Maluku ini, dibandingkan ayah dan semua adik-adik saya yang sudah sangat sering. Dari mereka saya mendengar cerita bahwa perjalanan dengan feri melelahkan dan membosankan karena waktu tempuhnya yang lebih lama dibandingkan dengan Kapal Motor ataupun Speed Boat. Makanya begitu saya harus mengejar feri ini karena terlambat mengejar Speed Boat ke Negeri Titawaai (salah satu dari 7 negeri di Pulau Nusalaut), kelelahan sudah lebih dulu datang menyerang. Namun ternyata, sejam lebih sudah duduk di sini, I feel okay. Saya begitu menikmati perjalanan ini.

----------------


Pelabuhan Negeri Kulur, Pulau Saparua
Kami baru saja menyinggahi pelabuhan feri Negeri Kulur di Pulau Saparua. Saya baru saja menikmati bagaimana uletnya orang-orang muda dari Negeri Kulur ini yang menjajahkan makan siang dalam kemasan sederhana kepada penumpang feri. Nasi Ikan Telur, kami biasa menamainya sesuai isi kemasan. Penumpang seperti saya yang tidak membawa bekal makan siang tentu dangat terbantu. Di antara para penjual makanan ini, ada yang mengagetkan saya yaitu seorang laki-laki, masih muda, sepertinya belum berusia 40an. Ternyata yang menjajahkan makanan di sini bukan hanya perempuan. Laki-laki juga.

Kalau kita lihat di tempat lain, misalnya Kapal Cepat yang melayari Ambon – Masohi atau Kapal Feri Hunimua – Waipirit, dimana penduduk lokal setempat mengkreasikan upaya-upaya ekonomi bagi keluarga dari pelayaran antar pulau yang masuk di negerinya, terlihat ada pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Kaum laki-laki bekerja sebagai buruh (pengangkat) barang sedangkan kaum perempuan berperan sebagai penjajah makanan dan minuman. Pemandangan berbeda saya temui di Kapal Feri ini saat menyinggahi Negeri Kulur. Menurut Anak Buah Kapal (ABK) Feri ini, memang demikian di Kulur, laki-laki juga ikut menggeluti sektor ini. Saya sempat mengajak ngobrol salah seorang pemuda yang menawarkan makanan jualannya kepada saya. Saya memulainya dengan bertanya dengan nada sedikit bercanda: “kenapa bukan maitua yang menjual?” (maitua = istri). “maitua yang mamasa kasih siap, habis itu dia urus kacil di rumah, beta yang jual”, jawab pemuda itu dengan lugasnya.  (maksud pemuda itu: istrinya yang memasak dan menyiapkan makanan, setelah itu istrinya mengurus anak mereka, dialah berjualan ke Feri). Menurutnya, itu kesepakatan mereka. salut sama si abang ini.

Menyepakati pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga dipraktekkan di sana. Padahal, mungkin saja, mereka tidak pernah belajar tentang gender justice. Luar biasa. Dan yang lebih membuat saya kagum lagi adalah kerelaan sang pemuda untuk berjualan, di antara sekian banyak perempuan. Hal yang tidak lazim bagi para lelaki Maluku (atau paling tidak Maluku Tengah). Saya masih ingin ngobrol lagi dengan sang bapak inspiratif itu, namun pluit kapal ini sudah lebih dulu berbunyi menandakan kapal akan segera meninggalkan Negeri Kulur. Mudah-mudahan bisa bertemu dia lagi dalam perjalanan saya berikutnya.

Sekali lagi, saya sangat menikmati perjalanan ini. Mungkin karena ada lappy ini yang membantu saya menghabiskan sebagian waktu dengan ketik – kutak menulis cerita ini; atau mungkin juga ada kamera Canon yang saya beli dari Media Mart di Utrecht – Holland tahun 2004 tetapi sampai sekarang masih mantap dipakai dan saat ini pun sekali-kali saya sibuk jepret sana – sini menyibukan diri dan mengabadikan pengalaman perjalanan ini. Atau mungkin karena ada Stacey, Presley dan Yandri dari Yayasan Titamae yang bersama saya dan sekali-kali mengajak ngobrol. Atau juga karena di sini ada lebih dari 40 mahasiswa UNPATTI, almamater saya, yang sekali-kali saling canda antara mereka dan membuat kami penumpang lain pun keciprat terhibur dengan candaan mereka.

Oh iya. 40 Mahasiswa ini menuju Kota Masohi, ibukota Kabupaten Maluku Tengah di Pulau Seram. Mereka akan menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di berbagai desa di Masohi. Menuju ke lokasi KKN ini mereka ditemani beberapa dosen pembimbing atau instruktur. Semua mereka datang dengan mengendarai sepeda motor. Ada yang membawa motor punya sendirri, ada boncengan dengan teman. Bagi saya, mereka cukup cerdas memanfaatkan kemajuan pembangunan transportasi antar pulau yang saya maksudkan di atas. Sebetulnya ada juga jalur lintas pulau Seram yang bisa mereka tempuh dengan mengendarai Sepeda Motor dan dengan menumpangi Kapal Feri juga, yaitu dari Pelabuhan Hunimua ke Waipirit. Tetapi perjalanan lintas darat itu tentu lebih melelahkan dibandingkan lintas laut, dengan perbedaan waktu yang tidak begitu jauh. Ide yang sangat cemerlang.

Dibandingkan dengan masa saya KKN di pertengahan 1990an, adik-adik ini jauh lebih well-facilitated oleh kemajuan zaman. Lokasi KKN saya juga di Pulau Seram. Kami diantar oleh instruktur dengan menumpang kapal tua Los Angles yang butuh waktu lebih dari 3 jam untuk masuk pelabuhan Amahai dari Pelabuhan Tulehu. Begitulah zaman yang rodanya terus berputar maju dan maju.

------------------


Pulau Anyo-anyo dari jauh
Pulau Anyo-anyo (sebutan untuk Pulau Nusalaut) mulai membayang di kejauhan. Pikiran saya mulai terasa sesak dengan bermunculnannya berbagai kenangan.

Di pulau sana saya pernah menghabiskan kurang lebih setahun dari masa kecil saya. Ketika itu keluarga saya pindah dari Merauke (Papua) ke Elat (Kei Besar – Maluku Tenggara) dan dalam masa transisi kepindahan itu, saya mesti bersekolah sementara waktu di Abubu, sambil menunggu ayah dan ibu saya menyiapkan segala sesuatunya di Elat. Ketika itu saya duduk di bangku kelas V SD. Walau tak sampai setahun, saya sempat mengumpulkan pengalaman yang luar biasa mengikuti beberapa lomba antar sekolah se Pulau Nusalaut dan kegiatan-kegiatan gereja dari negeri ke negeri.

Saya pernah punya kenangan manis masa kecil di Ameth, yaitu terpilih mewakili SD Negeri Abubu untuk ikut perayaan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei se Pulau Nusalaut. Kami berkemah di lapangan Ameth selama seminggu. Di masa kecil itu juga saya beberapa kali ikut kebaktian Sekolah Minggu antar jemaat yang dinamai Kring. Titawaai, lebih sering lagi saya kunjungi karena di sana ada almarhum ayah baptis saya.  Beberapa kali ron pulu (berjalan mengitari pulau), belajar mengenal tiap negeri walau tidak mendalam. Apakabar negeri-negeri ini sekarang??? Apakabar pulau yang secara adminsitratif pemerintahan telah menjadi satu kecamatan lepas dari Saparua ini???

Saya bisa punya gelar sarjana dari Ambon dan master dari luar negeri… itu juga karena saya pernah mengeyam pendidikan di sana, belajar berbagai hal dari negeri ke negeri. Di sana ada banyak kenangan…. bermain di Ume, keku pakiang di loyang for cuci di aer utang basar, cari kenari di Ula, petik bunga cengkeh di dusun-dusun milik ayah pada musimnya….dan lainnya. Ada kenangan bersama almarhum Opa Sau dan Opa Olof, dan orang tatua basudara lainnya. Sebentar lagi saya akan jumpa dengan orang tatua, basudara dan kawan-kawan masa kecil yang memilih tinggal di negeri menjaga warisan leluhur. Setelah remaja dan dewasa beberapa kali pulang juga ke sana. Kepulangan kali ini tentu berbeda. Akankah lahir di sana, komitmen-komitmen baru….entahlah.

----------------

Ahhhhhhh….!!!!! Pulau Anyo-anyo mulai tampak jelas dari balik jendela ruang VIP Feri (KMP) Samandar ini. Beberapa menit lagi saya tiba di sana. Dada terasa kian bergemuruh, berbanding terbalik dengan keadaan alam saat ini yang sungguh amat tenang. Saya akan singgah di Negeri Ameth, kemudian menumpang ojek menuju Titawaai. Saya akan ambil jalur Akoon agar bisa mampir sebentar di Abubu, negeri asal beta

Gemuruh di dada makin menjadi karena sebentar lagi… pertama kali setelah lebih dari 10 tahun tidak ke sana….!




Muka Pulau Anyo-anyo, 14 April 2015