Dunia sedemikian berkembang, hingga saat ini orang punya
banyak alternatif untuk membuat perjalanan antar pulau. Pemikiran itulah yang
pertama kali muncul di benak saya begitu mengayuhkan langkah masuk Feri
Samandar ini. Maklum, ini pertama kalinya saya menggunakan feri untuk menuju
Pulau Nusalaut.
Saya terbilang terlambat menikmati perkembangan transportasi
antar pulau di Prpinsi Maluku ini, dibandingkan ayah dan semua adik-adik saya
yang sudah sangat sering. Dari mereka saya mendengar cerita bahwa perjalanan
dengan feri melelahkan dan membosankan karena waktu tempuhnya yang lebih lama
dibandingkan dengan Kapal Motor ataupun Speed Boat. Makanya begitu saya harus
mengejar feri ini karena terlambat mengejar Speed Boat ke Negeri Titawaai
(salah satu dari 7 negeri di Pulau Nusalaut), kelelahan sudah lebih dulu datang
menyerang. Namun ternyata, sejam lebih sudah duduk di sini, I feel okay. Saya begitu menikmati
perjalanan ini.
----------------
![]() |
| Pelabuhan Negeri Kulur, Pulau Saparua |
Kami baru saja menyinggahi pelabuhan feri Negeri Kulur di
Pulau Saparua. Saya baru saja menikmati bagaimana uletnya orang-orang muda dari
Negeri Kulur ini yang menjajahkan makan siang dalam kemasan sederhana kepada
penumpang feri. Nasi Ikan Telur, kami biasa menamainya sesuai isi kemasan. Penumpang
seperti saya yang tidak membawa bekal makan siang tentu dangat terbantu. Di
antara para penjual makanan ini, ada yang mengagetkan saya yaitu seorang
laki-laki, masih muda, sepertinya belum berusia 40an. Ternyata yang menjajahkan
makanan di sini bukan hanya perempuan. Laki-laki juga.
Kalau kita lihat di tempat lain, misalnya Kapal Cepat yang melayari Ambon – Masohi
atau Kapal Feri Hunimua – Waipirit, dimana penduduk lokal setempat mengkreasikan
upaya-upaya ekonomi bagi keluarga dari pelayaran antar pulau yang masuk di negerinya, terlihat ada pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Kaum
laki-laki bekerja sebagai buruh (pengangkat) barang sedangkan kaum perempuan berperan
sebagai penjajah makanan dan minuman. Pemandangan berbeda saya temui di Kapal
Feri ini saat menyinggahi Negeri Kulur. Menurut Anak Buah Kapal (ABK) Feri ini,
memang demikian di Kulur, laki-laki juga ikut menggeluti sektor ini. Saya
sempat mengajak ngobrol salah seorang pemuda yang menawarkan makanan jualannya
kepada saya. Saya memulainya dengan bertanya dengan nada sedikit bercanda: “kenapa
bukan maitua yang menjual?” (maitua = istri). “maitua yang mamasa kasih siap, habis itu dia urus kacil di rumah,
beta yang jual”, jawab pemuda itu dengan lugasnya. (maksud pemuda itu: istrinya yang memasak dan
menyiapkan makanan, setelah itu istrinya mengurus anak mereka, dialah berjualan
ke Feri). Menurutnya, itu kesepakatan mereka. salut sama si abang ini.
Menyepakati pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam
keluarga dipraktekkan di sana. Padahal, mungkin saja, mereka tidak pernah belajar tentang gender justice. Luar biasa. Dan yang lebih membuat saya kagum
lagi adalah kerelaan sang pemuda untuk berjualan, di antara sekian banyak
perempuan. Hal yang tidak lazim bagi para lelaki Maluku (atau paling tidak Maluku
Tengah). Saya masih ingin ngobrol lagi dengan sang bapak inspiratif itu, namun
pluit kapal ini sudah lebih dulu berbunyi menandakan kapal akan segera
meninggalkan Negeri Kulur. Mudah-mudahan bisa bertemu dia lagi dalam perjalanan
saya berikutnya.
Sekali lagi, saya sangat menikmati perjalanan ini. Mungkin
karena ada lappy ini yang membantu saya menghabiskan sebagian waktu dengan
ketik – kutak menulis cerita ini; atau mungkin juga ada kamera Canon yang saya
beli dari Media Mart di Utrecht – Holland tahun 2004 tetapi sampai sekarang
masih mantap dipakai dan saat ini pun sekali-kali saya sibuk jepret sana – sini
menyibukan diri dan mengabadikan pengalaman perjalanan ini. Atau mungkin karena
ada Stacey, Presley dan Yandri dari Yayasan Titamae yang bersama saya dan sekali-kali
mengajak ngobrol. Atau juga karena di sini ada lebih dari 40 mahasiswa UNPATTI,
almamater saya, yang sekali-kali saling canda antara mereka dan membuat kami
penumpang lain pun keciprat terhibur dengan candaan mereka.
Oh iya. 40 Mahasiswa ini menuju Kota Masohi, ibukota
Kabupaten Maluku Tengah di Pulau Seram. Mereka akan menjalani masa Kuliah Kerja
Nyata (KKN) di berbagai desa di Masohi. Menuju ke lokasi KKN ini mereka
ditemani beberapa dosen pembimbing atau instruktur. Semua mereka datang dengan
mengendarai sepeda motor. Ada yang membawa motor punya sendirri, ada boncengan
dengan teman. Bagi saya, mereka cukup cerdas memanfaatkan kemajuan pembangunan
transportasi antar pulau yang saya maksudkan di atas. Sebetulnya ada juga jalur
lintas pulau Seram yang bisa mereka tempuh dengan mengendarai Sepeda Motor dan
dengan menumpangi Kapal Feri juga, yaitu dari Pelabuhan Hunimua ke Waipirit.
Tetapi perjalanan lintas darat itu tentu lebih melelahkan dibandingkan lintas
laut, dengan perbedaan waktu yang tidak begitu jauh. Ide yang sangat cemerlang.
Dibandingkan dengan masa saya KKN di pertengahan 1990an,
adik-adik ini jauh lebih well-facilitated oleh kemajuan zaman. Lokasi KKN saya
juga di Pulau Seram. Kami diantar oleh instruktur dengan menumpang kapal tua Los
Angles yang butuh waktu lebih dari 3 jam untuk masuk pelabuhan Amahai dari
Pelabuhan Tulehu. Begitulah zaman yang rodanya terus berputar maju dan maju.
------------------
![]() |
| Pulau Anyo-anyo dari jauh |
Pulau Anyo-anyo (sebutan untuk Pulau Nusalaut) mulai
membayang di kejauhan. Pikiran saya mulai terasa sesak dengan bermunculnannya
berbagai kenangan.
Di pulau sana saya pernah menghabiskan kurang lebih setahun
dari masa kecil saya. Ketika itu keluarga saya pindah dari Merauke (Papua) ke
Elat (Kei Besar – Maluku Tenggara) dan dalam masa transisi kepindahan itu, saya
mesti bersekolah sementara waktu di Abubu, sambil menunggu ayah dan ibu saya
menyiapkan segala sesuatunya di Elat. Ketika itu saya duduk di bangku kelas V
SD. Walau tak sampai setahun, saya sempat mengumpulkan pengalaman yang luar biasa mengikuti
beberapa lomba antar sekolah se Pulau Nusalaut dan kegiatan-kegiatan
gereja dari negeri ke negeri.
Saya pernah punya kenangan manis masa kecil di Ameth, yaitu terpilih mewakili SD Negeri Abubu untuk ikut perayaan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei se Pulau Nusalaut. Kami berkemah di lapangan Ameth selama seminggu. Di masa kecil itu juga saya beberapa kali ikut kebaktian Sekolah Minggu antar jemaat yang dinamai Kring. Titawaai, lebih sering lagi saya kunjungi karena di sana ada almarhum ayah baptis saya. Beberapa kali ron pulu (berjalan mengitari pulau), belajar mengenal tiap negeri walau tidak mendalam. Apakabar negeri-negeri ini sekarang??? Apakabar pulau yang secara adminsitratif pemerintahan telah menjadi satu kecamatan lepas dari Saparua ini???
Saya pernah punya kenangan manis masa kecil di Ameth, yaitu terpilih mewakili SD Negeri Abubu untuk ikut perayaan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei se Pulau Nusalaut. Kami berkemah di lapangan Ameth selama seminggu. Di masa kecil itu juga saya beberapa kali ikut kebaktian Sekolah Minggu antar jemaat yang dinamai Kring. Titawaai, lebih sering lagi saya kunjungi karena di sana ada almarhum ayah baptis saya. Beberapa kali ron pulu (berjalan mengitari pulau), belajar mengenal tiap negeri walau tidak mendalam. Apakabar negeri-negeri ini sekarang??? Apakabar pulau yang secara adminsitratif pemerintahan telah menjadi satu kecamatan lepas dari Saparua ini???
Saya bisa punya gelar sarjana dari Ambon dan master dari
luar negeri… itu juga karena saya pernah mengeyam pendidikan di sana, belajar
berbagai hal dari negeri ke negeri. Di sana ada banyak kenangan…. bermain di Ume, keku
pakiang di loyang for cuci di aer utang basar, cari kenari di Ula, petik bunga cengkeh di dusun-dusun
milik ayah pada musimnya….dan lainnya. Ada kenangan bersama almarhum Opa Sau
dan Opa Olof, dan orang tatua basudara
lainnya. Sebentar lagi saya akan jumpa dengan orang tatua, basudara dan
kawan-kawan masa kecil yang memilih tinggal di negeri menjaga warisan leluhur. Setelah remaja dan
dewasa beberapa kali pulang juga ke sana. Kepulangan kali ini tentu berbeda. Akankah
lahir di sana, komitmen-komitmen baru….entahlah.
----------------
Ahhhhhhh….!!!!! Pulau Anyo-anyo mulai tampak jelas dari balik
jendela ruang VIP Feri (KMP) Samandar ini. Beberapa menit lagi saya tiba di
sana. Dada terasa kian bergemuruh, berbanding terbalik dengan keadaan alam saat
ini yang sungguh amat tenang. Saya akan singgah di Negeri Ameth, kemudian
menumpang ojek menuju Titawaai. Saya akan ambil jalur Akoon agar bisa mampir
sebentar di Abubu, negeri asal beta.
Gemuruh di dada makin menjadi karena sebentar
lagi… pertama kali setelah lebih dari 10 tahun tidak ke sana….!
Muka Pulau Anyo-anyo, 14 April 2015

