Selasa, 10 Maret 2015

Menganyam Asa dan Tekad untuk Perempuan Maluku

(Lusi Peilouw, Sebuah prosa pengiring prosesi penyalaan candle of hope di Malam Solidaritas, IWD 2015, 9 Maret 2015; ditutup dengan doa oleh 2 Perempuan: ulama Muslim dan Kristen)

Perempuan tercipta untuk hidup berpendampingan dengan laki-laki... di tempatkan sebagai mitra sejajar laki-laki di bumi yang satu...
Perempuan diberi amanah dari sang Pencipta sebagai pembawa kehidupan, menghadirkan kehidupan-kehidupan baru di bumi, lalu bersama dengan laki-laki diamanatkan merawat kehidupan dalam semangat kemitraan dan kesetaraan... setara dalam pemenuhan dan penikmatan hak asasi...

Peradaban kemudian membongkar-bangkir amanat mulia itu....

Perempuan menjadi makluk nomor dua,

Jadilah penindasan berkedok kodrati…,

Pemasungan kebebasan atas nama martabat dan kehormatan,  kriminalisasi dan eksploitasi tubuh atas nama pengabdian bagi keluarga, terbelenggu kemiskinan dan terlindas kemajuan zaman atas nama kodrat, pemerkosaan demi nafsu bejad....,

Perempuan Maluku... tidak sedikit yang jadi korban kekejaman peradaban itu!

Ratusan perempuan dan anak perempuan menanggung derita tindak kekerasan dalam rumah tangga...
Pembantu Rumah Tangga menjalani keras perjuangan di balik kebengisan majikan
Perempuan-perempuan yang tak mampu benyawa, malah bergerak bak robot dalam ruang-ruang publik dan politik,
Perempuan-perempuan adat di pulau Aru, Romang, Seram dan pulau-pulau lain dalam perjuangan mempertahankan wilayah petuanan sumber penghidupan, mereka yang cuma bisa pasrah menerima masuknya industry ekstraktif,
Perempuan di pulau-pulau kecil yang jauh dengan tantangan keterisolasian, yang harus kehilangan bayi bahkan kehilangan nyawaya sendiri karena ketiadaan pertolongan saat bersalin, kehilangan harapan hidup lebih baik karena ketiadaan layanan pendidikan,
Perempuan-perempuan adat di Seram dan Buru dalam belenggu keterbelakangan,
Perempuan-perempuan dengan HIV/AIDS tanpa dukungan,
Perempuan usia belia yang harus terhimpit persoalan rumahtangga karena kawin paksa atas nama budaya ataupun kepentingan ekonomi,

Dan masih begitu banyak realita penindasan hak-hak asasi sesama kita di negeri seribu pulau ini, helai-helai realita beraroma budaya, sosial, ekonomi dan politik,
ta’karuan dan kusut melilit sang zaman,

Malam ini, di momentum peringatan Hari Perempuan Internasional ini, saatnya kita mengurai satu per satu benang kusut itu...

Kita harus bangkit...  bantu sesama kita untuk keluar dari kekelaman penindasan
Beri cahaya...agar terhalau kekelaman itu.

Genggam lilin di tangan kanan.... nyalakan... berikan cahaya ke sekitarmu

Tatap cahaya lilin di tanganmu dalam-dalam... sambil lafalkan setiap asa... urai setiap asa itu ke semesta
Tutup matamu, bayangkan perempuan di laur sana yang dalam kekelaman…. lafalkan sebuah tekad untuk mereka, untuk kita....
Bergerak... saling mendukung... untuk pembebasan asasi... untuk keadilan dan kedamaian hidup perempuan... bulatkan tekad itu dalam dirimu...
Perempuan Maluku harus bebas dari segala bentuk kekerasan di dalam rumah tangganya, di tempat kerjanya, di ruang-ruang publik.... perempuan Maluku mesti menikmati akses  pelayanan sosial dan ekonomi dalam keadilan hakiki, mengakses posisi-posisi publik dalam kesetaraan

Yakinlah... alam raya semesta ini tergugah dengan desah lafal asa dan tekad kita... semesta alam ini akan mengayam dengan rapi satu per satu helai asa dan tekad kita semua...

dan sekarang... mari satukan hati...sekali lagi lafalkan asa dan tekadmu,
tetapi kali ini, lafalkanlah untuk Sang Pencipta, Sang Maha Pencipta laki-laki dan perempuan...
mari berdoa untuk perempuan Maluku....