Kamis, 08 Januari 2015

Tersulut di Bethania



Seperti kebanyakan orang lain, saya percaya tidak ada yang kebetulan terjadi dalam hidup ini. Atas dasar itu, saya pun meyakini bahwa ketika Tuhan menuntun ayah saya yang seorang pendeta pada Gereja Protestan Maluku (GPM) melayani sebagai penghentar jemaat GPM Bethania Klasis Kota Ambon sejak tahun 1996, itu bukan satu kebetulan pula. Semua terjadi dalam rencana dan pengaturanNYA.

Pusat pelayanan Jemaat Bethania adalah di Gereja Bethania yang terletak di Jalan Jend. Ahmad Yani, di antara Markas Besar Polisi Daerah (Polda) Maluku dan Komando Daerah Militer (Kodam) Pattimura. Secara geografis daerah Jalan Ahmad Yani berada di bagian belakang daerah pusat Kota Ambon tepat di kaki Gunung Sirimau (Lihat Peta). Selama konflik, Jalan Ahmad Yani menjadi jalan utama bagi komunitas Kristen sedangkan gereja Bethania menjadi satu-satunya gereja yang ‘aman’ dan mudah dijangkau oleh komunitas Kristen dari wilayah-wilayah perbatasan di dalam kota. Gereja Bethania kemudian menjadi tempat pengungsian terdepan bagi umat Kristen utamanya dari daerah Sedap Malam, Pardeis, Soa-Ema dan Ponegoro. Selain itu, karena posisinya yang demikian, Gereja Bethania juga menjadi tempat berkumpulnya para lelaki yang siap untuk maju daerah-daerah perbatasan atau daerah-daerah dimana terjadi “kekacauan”.

Fungsi sebagai tempat pengungsian sekaligus terminal pasukan penjaga keamanan kelompok Kristen, terjadi sejak hari pertama pecahnya kerusuhan yaitu pada malam hari 19 Januari 1999. Ayah saya pun lebih banyak menghabiskan waktunya di gereja. Saya sangat sering membantu beliau di sana.

Pada hari pertama itu, menjelang magrib, keadaan kota Ambon mulai mencekam karena terjadi pembakaran di daerah perbatasan Mardika dan Batu Merah, ayah mengajak saya dan ibu menemani beliau di gereja, bersama dengan beberapa pelayan dan warga jemaat sekitar gereja. Dengan begitu saya menyaksikan setiap kejadian berkumpulnya para lelaki sejak hari mulai gelap dan kira-kira sekitar pukul 21.00 ada dua orang muda masuk ke kantor gereja membawa satu ball kain merah untuk dipotong-potong seperti kain berang dan diberikan kepada setiap lelaki yang mau maju ke daerah perbatasan. Saya pun mendengar sendiri seorang bapak mengarahkan mereka untuk menggunakan sandi. Menurut si bapak yang memberikan arahan itu, mereka harus bisa membedakan kawan dari lawan di daerah perbatasan, sehingga harus gunakan sandi.

Seperti sebuah scenario drama yang telah ditulis dan orang-orang itu tinggal melakoni peran-perannya dengan strategi yang sudah ada. Saya hanya bisa terperangah menyaksikan semua yang terjadi begitu tiba-tiba di malam pertama itu. Seperti lagi bermimpi! Saya sempat bertanya dengan nada protes kepada ayah saya, siapa mereka, dari mana kain itu, dari mana instruksi penggunaan sandi itu? Dimana sinode? Mengapa sinode membiarkan semua ini terjadi, bukan mencegat dan menenangkan umat?  apakah di kelompok muslim pun terjadi hal yang sama? Dimana MUI? Mengapa MUI juga membiarkan? Pertentangan mulut dengan ayah saya tidak terelakkan. Pertentangan batin dalam diri saya lebih lagi berkecamuk.

Bersamaan dengan proses “persiapan” para lelaki itu, masuk para pengungsi. Perhatian saya pun beralih ke saudara-saudara yang datang itu lalu bersama dengan ibu dan beberapa jemaat perempuan menyiapkan ruang dalam gereja untuk mereka. Kami pun bergerak mengumpulkan makanan seadanya untuk mereka pada malam itu.

Itulah awal kerja kemanusiaan saya. Sejak itu saya terus bergerak bersama dengan kawan pemuda di Bethania memberikan pelayanan-pelayanan psikologis atau pastoralia ke beberapa kamp pengungsian secara volunteer. Bersama bung Jemi Mailoa, Ade Ohello dan beberapa kawan lainnya, kami membentuk tim pelayanan yang diberinama Ekkaleo Charismata yang berarti terpanggil keluar untuk perlabakan karunia. Tim yang sungguh sangat menginspirasi dan mengobarkan spirit kerelawanan untuk kemanusiaan yang luar biasa pada fase emergensi. Setelah lewat fase itu, spirit gerakan kemudian terus menggiring saya bergelut pada wilayah-wilayah manajemen konflik dan perdamaian; juga anak, perempuan dan perdamaian. Dengan up and downnya, focus gerakan terus berkembang seiring perkembangan kondisi sosial kemasyarakatan dan dinamika gerakan masyarakat sipil di daerah dan negara tercinta ini. 

Spirit gerakan humanitarian tersulut di Gereja (Jemaat) Bethania, di tanggal 19 Januari 16 tahun lalu dan untuk selamanya akan terus berkobar menghidupkan hidup, melalui berbagai peran. Selalu!


(tulisan ini adalah semacam reminder untuk memulai penulisan buku dokumentasi pengalaman kerja untuk perdamaian berbasis komunitas di Ambon)



Senin, 05 Januari 2015

Belajar Dari Kepahitan Hidup Seorang Perempuan Tangguh



Awan hitam yang menggantung menghalangi pancaran terik matahari ke lereng Gunung Sirimau Kota Ambon, hingga tengah hari ini terasa sejuk. Rupanya alam ikut merasakan sedihnya hati seorang perempuan meninggalkan anak perempuan semata wayangnya yang baru barusia 4 tahun. Sebentar lagi dia (maaf namanya dirahasiakan), perempuan tangguh ini dimakamkan. Dia seorang ibu muda, istri seorang prajurit polisi. Padahal tanggal 31 Januari nanti usianya genap 30 tahun.

Sejak beberapa bulan lalu dia menderita sakit, sempat dirawat berpindah-pindah di 3 rumah sakit di Kota Ambon. Keluarga tak mengerti apa penyakit yang dideritanya karena  menurut mereka, dokter pun mengatakan bahwa tidak ada penyakit yang dideritanya. Subuh 31 Desember 2014, akhirnya dia tutup usia dengan erangan sakit di bagian dadanya. beberapa saat setelah jenazahnya siap untuk diletakkan ke dalam peti, mengalir air dari mata yang telah kaku. Di sini awal terungkap kepada saya, kepahitan hidup yang dialaminya semasa berumah tangga, dituturkan oleh kerabat dekatnya.

Apa yang mereka tuturkan menggambarkan betapa tangguhnya dia memikul penderitaan lahir batin karena perlakuan ibu mertua dan suami sejak berumah tangga. Tenaganya diperas habis-habisan untuk mengerjakan pekerjaan di rumah maupun kegiatan ekonomi untuk membantu mencari uang bagi keluarga suami. Perempuan yang berasal dari pulau yang jauh dari Ambon, harus mampu menyuling minuman alcohol tradisional (sopi) khas Maluku, sampai menjual buah-buahan di pasar yang uangnya mesti disetor utuh ke sang ibu mertua. Caci-maki…. tak terbilang berapa banyak yang pernah keluar dari mulut ibu mertua kepadanya. Dalam keadaan diperlakukan tidak manusiawi seperti demikian, bapak mertua dan suaminya tidak mengambil langkah-langkah untuk melindungi dia. Malah, suaminya tertanya adalah pelaku kekerasan terhadap dia. Beberapa kali dia dipukul oleh suami di tempat umum. Dia tabah menjalani hidupnya, tak ubahnya seorang budak. Perempuan tangguh itu tidak pernah membantah. Dia pendam semuanya sendiri dan hanya sesekali menceritakan penggalan-penggalan tertentu dari kisahnya kepada kerabat dekat yang dia percayai.

Mungkin karena pengalaman-pengalaman pahit itu, dalam keadaan kesakitan dia terlihat lebih nyaman dilayani oleh kerabat dekat lain selain suami dan mertuanya sendiri. Itulah pula sebabnya, jenazahnya pun tidak disemayamkan di rumah mertua sendiri dimana selama ini dia tinggal, tetapi di “rumah tua” keluarganya.

Sayang sekali….kisah hidup yang sungguh memilukan ini terungkap ketika dia telah tiada. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Ketika duduk dalam ibadah pemakamannya, saya menyaksikan bagaimana si ibu mertua meratap di samping jenazahnya.  Entah apa arti ratapan itu, setelah semua yang dilakukannya. Saya menulis di status BBM saya hari ini: “tenanglah di sisi Tuhanmu. Ijinkan perempuan lainnya belajar dari kepahitan hidupmu”.

Hanya ini yang dapat kami lakukan sekarang, setelah ketiadaannya, yaitu menjadikan kisahnya ini sebagai pembelajaran penting bagi perempuan lain, tentu dengan seijin kerabatnya.
Semua perempuan, sama halnya dengan manusia lainnya, berhak hidup bebas dari berbagai bentuk tindak kekerasan. Apalagi negara kita sudah punya sistim hukum yang melindungi hak-hak perempuan. Ada Undang-undang 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (P-KDRT).

Saya pun belajar dari kisah ini bahwa pegiat hak perempuan harus lebih bergiat, menjangkau lebih banyak perempuan untuk memberikan pendidikan sadar hukum dan keadilan bagi perempuan. Paling tidak sosialisasi tentang UU P-KDRT itu harus lebih banyak dilakukan. Perempuan muda harus diberdayakan untuk sadar akan haknya yang dilindungi oleh hukum, sehingga jangan diam saat diperlakukan tidak manusiawi oleh ibu mertua atau siapaun dalam rumah tangga. Bersamaan dengan itu, para ibu mertua diberikan warning bahwa ada hukum yang dapat menjeratnya bila semena-mena terhadap mantunya.  Ibu mertua harus diajar untuk menghargai hak asasi mantunya, yang notabene adalah sesama perempuan. Komunitas harus diberdayakan untuk sadar pula akan tanggung jawabnya ikut mengawal penegakan hak-hak asasi perempuan, untuk bebas dari perbagai tindak kekerasan.

Di Kota Ambon ini pegiat hak perempuan berlusin-lusin, tetapi masih ada korban seperti ini, berarti ada yang perlu dibenahi. Sudah waktunya dipikirkan untuk membangun mekanisme penanganan korban KDRT berbasis komunitas. Ini pun inspirasi lain yang diperoleh dari kisah pahit perempuan tangguh ini.


Semoga di tahun 2015 keadaan perempuan jauh lebih baik, lebih berkeadilan…. Amin.


Soya Bawah, 2 Januari 2015

Tahun Baru, Harapan Baru, Penguatan Komitmen



Beberapa waktu menjelang berakhirnya tahun 2014, NVSC group di BBM ramai mendiskusikan resolusi pribadi untuk tahun 2015. Saya juga ikut nimbrung. Yang muncul sebagai resolusi adalah…. mendapatkan  scholarship untuk study S3, 1 artikel terpublikasi di jurnal akademik Indonesia, sukses menamatkan study sarjana setelah tertunda beberapa tahun, menyelesaikan tesis, dan lainnya.

Terus terang ini untuk pertama kalinya saya terpikir untuk secara serius membuat resolusi. Sebelumnya saya lebih senang mengamati bagaimana orang lain ber-resolusi ria. Tapi tentu, selalu saya masuk tahun baru dengan harapan-harapan baru yang saya sampaikan kepada Tuhan dalam doa, dan biasanya itu simple. Kali ini, saya ingin mengawali tahun ini dengan cara yang sedikit berbeda yaitu merencanakan jalan-jalan saya ke depan dengan sedikit lebih smart atau lebih modern lah!

Terlalu banyak yang ingin dilakukan dan ingin dicapai di tahun baru ini. Keingingan-keinginan itu bisa bikin bingung dan tidak jarang pusing tujuh keliling. Bisa jadi saya hanya punya impian yang muluk-muluk. Berpikir smart membantu saya untuk menterjemahkan sekian banyak keinginan yang ada menjadi tujuan-tujuan hidup dan kerja saya di tahun ini dengn lebih rasional. Saya jadi ingat pikirannya Peter Drucker tentang kriteria SMART dalam menentukan satu objectives. Specific, Measurable, Achievable, Realistic dan Targeted! Hmmmm…. Setidaknya di hari pertama tahun baru ini saya bersyukur punya ruang dan waktu untuk berbicara dengan diri saya sendiri tentang harapan-harapan baru... tentang sekelumit komitmen hidup yang telah lama dimiliki dan kini hanya perlu diperkuat. 

Tahun ini mestilah berbeda dari tahun-tahun lalu.. Di tahun ini saya harus menjadi ibu yang lebih baik bagi buah hati, hidup harus lebih sehat lahir batin. Tahun ini harus menjadi tahun yang produktif untuk karya-karya pendokumentasian pengalaman kerja, pengembangan knowledge dan pengelolaan intuisi. Tahun ini pun harus penuh dengan proses penajaman sensitifitas dan daya kritis sosial politik.
Hal-hal ini tentu masih sangat abstrak. Tetapi di dalam yang abstrak itu tersimpan inspirasi-inspirasi sederhana namun hebat untuk perwujudan resolusi 2015 yang saya punyai. Tinggal dituangkan dalam sebuah logframe dan kemudian bergerak di dalamnya.

Bagaimana dengan anda? Mari bergerak meraih rahmat-rahmat Tuhan  yang telah disediakan bagi kita di tahun ini. Mari berjuang untuk kehidupan yang lebih baik dari perempuan maupun komunitas yang lebih luas.


Selamat menggores cerita-cerita inspiratif di tahun 2015.


Sudut Kota Ambon, hari pertama 2015