(Lusi Peilouw, Sebuah prosa pengiring prosesi penyalaan candle of hope di Malam Solidaritas, IWD 2015, 9 Maret 2015; ditutup dengan doa oleh 2 Perempuan: ulama Muslim dan Kristen)
Perempuan tercipta untuk hidup berpendampingan dengan
laki-laki... di tempatkan sebagai mitra sejajar laki-laki
di bumi yang satu...
Perempuan diberi
amanah dari sang Pencipta sebagai pembawa kehidupan, menghadirkan
kehidupan-kehidupan baru di bumi, lalu bersama dengan laki-laki diamanatkan
merawat kehidupan dalam semangat kemitraan dan kesetaraan... setara dalam pemenuhan dan penikmatan hak asasi...
Peradaban kemudian
membongkar-bangkir amanat mulia itu....
Perempuan menjadi
makluk nomor dua,
Jadilah penindasan berkedok kodrati…,
Pemasungan kebebasan atas
nama martabat dan kehormatan, kriminalisasi dan eksploitasi
tubuh atas nama pengabdian bagi keluarga, terbelenggu kemiskinan dan terlindas kemajuan
zaman atas nama kodrat, pemerkosaan demi nafsu bejad....,
Perempuan Maluku... tidak sedikit
yang jadi korban kekejaman peradaban itu!
Ratusan perempuan dan anak perempuan menanggung derita tindak
kekerasan dalam rumah tangga...
Pembantu Rumah Tangga menjalani keras perjuangan di balik kebengisan majikan
Perempuan-perempuan yang tak mampu benyawa, malah bergerak bak robot dalam ruang-ruang publik dan politik,
Perempuan-perempuan
adat di pulau Aru, Romang, Seram dan pulau-pulau lain dalam perjuangan mempertahankan wilayah petuanan sumber penghidupan, mereka yang cuma bisa pasrah menerima masuknya industry ekstraktif,
Perempuan di
pulau-pulau kecil yang jauh dengan tantangan keterisolasian, yang harus
kehilangan bayi bahkan kehilangan nyawaya sendiri karena ketiadaan pertolongan saat
bersalin, kehilangan harapan hidup
lebih baik karena ketiadaan layanan pendidikan,
Perempuan-perempuan
adat di Seram dan Buru dalam belenggu keterbelakangan,
Perempuan-perempuan
dengan HIV/AIDS tanpa dukungan,
Perempuan usia belia
yang harus terhimpit persoalan rumahtangga karena kawin paksa atas nama budaya ataupun kepentingan ekonomi,
Dan masih begitu
banyak realita penindasan hak-hak asasi sesama kita di negeri seribu pulau ini, helai-helai realita beraroma budaya, sosial, ekonomi dan politik,
ta’karuan dan kusut melilit
sang zaman,
Malam ini, di momentum peringatan Hari Perempuan Internasional
ini, saatnya kita mengurai satu per satu benang kusut
itu...
Kita harus
bangkit... bantu sesama kita untuk
keluar dari kekelaman penindasan
Beri cahaya...agar
terhalau kekelaman itu.
Genggam lilin di
tangan kanan.... nyalakan... berikan cahaya ke sekitarmu
Tatap cahaya lilin di
tanganmu dalam-dalam... sambil lafalkan setiap asa... urai setiap asa itu ke semesta
Tutup matamu, bayangkan perempuan di laur sana yang dalam kekelaman…. lafalkan sebuah tekad untuk mereka, untuk
kita....
Bergerak... saling
mendukung... untuk pembebasan asasi... untuk keadilan dan kedamaian hidup
perempuan... bulatkan tekad itu dalam dirimu...
Perempuan Maluku harus
bebas dari segala bentuk kekerasan di dalam rumah tangganya, di tempat
kerjanya, di ruang-ruang publik.... perempuan Maluku mesti menikmati akses pelayanan sosial dan ekonomi dalam keadilan hakiki, mengakses
posisi-posisi publik dalam kesetaraan
Yakinlah... alam raya semesta ini tergugah
dengan desah lafal asa dan tekad kita... semesta alam ini akan mengayam dengan rapi
satu per satu helai asa dan tekad kita semua...
dan sekarang... mari satukan hati...sekali lagi lafalkan asa dan tekadmu,
tetapi kali ini, lafalkanlah untuk Sang Pencipta, Sang Maha Pencipta laki-laki dan perempuan...
mari berdoa untuk perempuan Maluku....
