
Hari ini saya menerima tantangan dari beberapa kawan baik saya
untuk menayangkan foto keindahan alam Maluku di facebook dan instagram. Sudah
sering saya mendapatkan tantangan seperti ini, namun tidak pernah tertarik
menerimanya. Sekali ini okay. Saya menerimanya dengan alasan sederhana, bahwa
saya pun ingin membiasakan diri berinternet sehat di tahun 2017 ini.
Syukur-syukur kalau ada kawan yang
mengikutinya. Perubahan kan dimulai dari diri kita sendiri
J J J.
Saya memulai dengan menayangkan gambar yang saya ambil
sendiri di Abubu, kampung asal saya, di Pulau Nusalaut. Gambar itu special bagi
saya, karena berkisah tentang dua moment penting dalam hidup saya pribadi dan
keluarga, yang terjadi di akhir November 2016 kemarin.

Kenangan yang pertama adalah untuk pertama kalinya
mengantarkan Dave, si jantung hati saya ke kampung asalnya. Berlibur ke kampung
halaman adalah kerinduan yang cukup lama dipendamnya. Bersyukur sekali saya bias mendapatkan waktu
yang tepat untuk mewujudkan kerinduannya itu. Bercengkerama dengan kaum
keluarga, menikmati alam dari laut dan pantai hingga menjelajah tepi hutan
bersama saudara sekampung yang sebaya, semua dijalani dengan penuh antusiasme
dan gembira. Di gambar yang ditayang, dia duduk di sebuah perahu milik opa
Laban. Ketika itu senja hampir berganti malam dan air laut mulai surut,
sehingga para lelaki yang hendak melaut pada malamnya dengan perahu harus
membawa perahu mereka ke batas pasang-surut. Dave melihat Opa Laban sedang
menyiapkan perahunya, spontan dia berlari turun dari halaman belakang rumah
kami ke arah Opa Laban dan menanyakan apakah dia bias meminjamkan perahu Opa
untuk bermain sebentar. Opa mengijinkan. Sontak, Dave naik duduk di dalam
perahu, mengambil kayuh dan mulailah petualangannya. Celotehnya yang sungguh
manis bagi kami yang memandangnya dari pantai: “dave pi mangael dolo
e…mudah-mudahan dapa ikan banya…” (maksudnya: Dave pergi mengail ikan dulu yah,
mudah-mudahan bisa mendapatkan ikan yang banyak). Opa Laban yang baik hati berjalan
di belakang perahunya mengantar Dave yang mengayuh ke arah batas pasang-surut,
sambil sekali-kali mesti membantu membenarkan posisi haluan perahu. Lumayan
jauh karena luasnya area surut di kampung kami. Begitu selesai, Opa Laban
membopong Dave di pundaknya, kembali ke pesisir pantai. Begitulah manisnya
hidup orang bersaudara di kampung yang ikut tersimpan manis di gambar itu.
Kenangan yang kedua adalah mengantarkan Nona, adik bungsu
yang baru saja ditabishkan menjadi seorang pendeta, untuk pertama kalinya
melayani umat Tuhan dalam ibadah minggu. Hari minggu, tanggal 27 November 2016
menjadi hari bersejarah dalam hidup Nona dan juga keluarga kami. Di hari itu,
untuk pertama kalinya dia mengenakan pakaian kebesaran seorang Hamba Tuhan di
Gereja Protestan dan memimpin ibadah minggu. Pertama kali dia menyampaikan
Firman Tuhan dan mengangkat tangannya memberkati umat Tuhan dari mimbar gereja,
dan itu terjadi di gedung Gereja Irene, Jemaat
GPM Abubu. Sebagai kakak sulungnya, saya bersyukur diberi Tuhan
kesempatan untuk menjadi bagian dari sejarah itu. Kenangan yang tak terlupakan
dan akan selalu disyukuri.
Setelah ditayang, beberapa kawan memberikan komentar tentang
keindahan pemandangannya. “…seperti lukisan” kata Lili bin Soleman. Bagi saya
gambar itu tidak hanya indah. Dia juga sangat special, karena menyimpan rapi
dua kenangan tadi.
Penayangan gambar ini pun menjadi awal dari aktualisasi
salah satu niat hati di tahun 2017 ini, untuk menjadi pengguna media social yang
baik. Tidak ingin menggunakan media social untuk menyebarkan hal-hal buruk atau
hate speech, tidak akan menyebarkan hoax dan tidak akan mengekspose privacy
baik diri sendiri maupun orang lain. Masih ada lebih dari 350 hari ke depan hingga 2017
ini berakhir , mungkin akan sulit untuk konsisten dengan niat hati ini, namun
saya mau belajar memiliki konsistensi itu. Bukankah asal ada kemauan pasti ada
jalan?
Untuk tantangan selama 7 hari ini, saya memilih untuk tidak
mengikuti petunjuk penanyangan itu sepenuhnya, saya akan membuat refleksi
singkat pada setiap gambar yang saya tayangkan, kemudian menggunakan tanda
tagar pribadi saya sendiri yaitu
#itslusi dan #mydave dan tanda tagar yang menerangkan lokasi gambar yang saya
pilih. Tanda tagar umum yang diminta dipasang pada setiap penayangan tidak akan
saya pakai semuanya, mungkin hanya “#damaiidarimaluku” dan “#provokatordamai”.
Semoga kawan-kawan yang memberikan tantangan ataupun (apalagi) yang
menginisiasinya tidak kecewa dengan pilihan saya ini.
Salam internet sehat 2017.
Soya, 10 Januari 2017