Selasa, 02 Mei 2017

Kembang dan 2 Mei

Hari ini 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Ada sesuatu yang menjadi kekhasan dan dilakukan rutin setiap tahunnya untuk merayakan hari ini, yaitu pemberian kembang bagi guru, oleh murid atau siswa.  Karena itu,  mulai tanggal 27 April, di pusat-pusat keramaian orang berjualan kembang plastik yang dibungkus cantik dengan plastik khusus. Saya tidak tau, ini kebiasaan di Kota Ambon saja ataukah di kota-kota lain pula. Orang tua akan sibuk menyiapkan kembang bagi anaknya untuk dihadiahkan kepada gurunya.

Saya, ibu dari seorang murid kelas III SD. Sebelum ke SD, anak saya menjalani pendidikan TK selama 1 tahun. Artinya ini tahun keempat anak saya menjadi peserta didik, dididik oleh gurunya di sekolah. Artinya juga, ini tahun keempat anak saya merayakan Hari Pendidikan Nasional. Apakah selama 4 tahun ini memberikan kembang kepada gurunya?

Saya tidak. Saya punya prinsip yang berbeda. Saya tidak ingin ikut-ikutan melestarikan kebiasaan yang tidak bermanfaat.

Saya tidak pernah menyiapkan kembang untuk anak saya bawa ke sekolah hadiahkan kepada gurunya. Bukan saya tidak bisa membeli. Alasan saya adalah, saya tidak melihat adanya relevansi antara memberikan kembang dan perayaan hari ini, paling tidak, apabila itu dilakukan secara  arah.

Kembang, kadang dihadiahkan sebagai ekspresi cinta kasih, ekspresi kebahagiaan, sampai kepada ekspresi motivasi atau dorongan untuk sukses melakukan sesuatu. Kalau seperti itu, rasanya tidak tepat di hari pendidikan nasional, seorang siswa kemudian memberikan kembang kepada gurunya. Menurut saya itu lebih tepat dilakukan pada saat gurunya berulang tahun atau pada perayaan hari guru.

Pada momentum hari pendidikan ini, sekali lagi menurut saya, lebih tepat jika pemberian kembang itu datang dari guru kepada siswanya. Itu kemudian menjadi ekspresi cinta kasih guru pada siswanya, ekspresi harapan guru agar siswanya bisa belajar dengan lebih giat, ekspresi cintanya guru pada pengabdiannya bagi dunia pendidikan.


Saya kira, jika dilakukan dengan arah dari guru ke siswa, berbeda dengan yang lazim selama ini, akan lebih menyentuh nurani guru sendiri, juga siswa dan orang tua siswa. Guru sendiri mengekspresikan cinta ke siswa, siswa tersentuh, apalagi orang tua. Hal ini tentu akan berdampak pada tercipta dan terbangunnya nuansa cinta kasih di kelas ataupun di sekolah. Sekolah pun menjadi wilayah yang ramah dan nyaman bagi siswa.**

Sabtu, 08 April 2017

Spirit Perjuangan Ina Ata Tidak Pernah Mati

(Catatan #1 menyongsong perayaan 2 abad perjuangan Pahlawan Nasional Indonesia Martha Christina Tijahahu, 2018)

Ina Ata adalah panggilan hormat kepada salah satu pahlawan nasional Indonesia asal Maluku, seorang perempuan kabaresi, yaitu Martha Christina Tiahahu. Keterlibatan Ina Ata dalam medan perang bersama kaum laki-laki menunjukan bahwa spirit heroik kuat berakar dalam dirinya. Tidak peduli akan usianya yang masih sangat belia, usia remaja. Sejarah gerakan rakyat melawan kolonialisme di Maluku mencatat bahwa dialah satu-satunya anak perempuan yang masuk medan perang. Dialah perempuan yang lahir dari hasil perkawinan seorang perempuan Titawaai (Marlau) dan laki-laki Abubu (Paulus Tujahahu). Ina Ata telah menjadi pelopor partisipasi perempuan dalam pemberontakan kaum protelar melawan class oppression yang dimaksudkan oleh Marx dan Engel.

Hidup di pulau kecil di tengah Laut Banda itu menjadi tantangan dan bahkan menjadi bentuk oppression yang lain bagi perempuan Nusalaut.  Tetapi mereka survive. Mereka berjuang memberi penghidupan yang baik bagi dirinya dan juga keluarganya di musim-musim paceklik karena pulau kecil itu diterpa angin ombak laut banda dan hujan selama berbulan-bulan.

Menjelang datangnya musim penghujan atau musim timur itu, dulu biasanya di akhir April perempuan (ibu-ibu) sudah harus menyiapkan persediaan makanan yang cukup. Paling tidak makanan sumber karbohidrat dari hutan termasuk sagu mentah dan sagu kering dan ikan julung kering sudah harus tersedia secara memadai untuk seluruh konsumsi anggota keluarganya sepanjang musim itu. Di belakang-belakang dapur, sudah tersedia kayu bakar yang banyak sebagai penunjang tugasnya masak-memasak selama musim.

Dulu, belum ada Puskesmas dan tenaga perawat di negeri-negeri, perempuan harus cerdas merawat anak ketika sakit dengan segala kearifan. Ketika akan melahirkan, harus bisa selamat dalam proses persalinan, harus cerdas mengurus dirinya dan bayinya selama masa nifas.

Akses ke sumber air bersih pun menjadi tantangan tersendiri di pulau anyo-anyo yang berdiri di atas batu karang itu. Di dalam negeri belum tersedia sarana air bersih untuk mencuci dan memasak, perempuan harus pergi ke hutan dimana terdapat mata air, mengangkut air di kepalanya bawa pulang ke rumah untuk keperluan keluarga. Begitu juga dengan kebutuhan mencuci pakaian, perempuan harus mengangkut cuciannya ke hutan dimana tersedian aliran air sungai. Masih tersimpan rapi di memori ingatan saya, kenangan masa kecil di kampung. Ketika itu, 1980 – 1981, saya sempat tinggal di Abubu dalam segala keterbatasan fasilitas hidup, dibandingkan dengan di Merauke (sebelumnya saya mengikuti ayah yang bertugas di Merauke selama 8 tahun). Sekali-kali saya harus membantu ibu dan uwak saya untuk mencuci pakaian di sungai kecil yang berjarak kira-kira 3 kilometer dari rumah ke arah gunung (hutan). Hidup di alam yang sangat menantang itu, membentuk mereka menjadi perempuan yang tangguh.

Di luar wilayah domestic, perempuan Nusalaut telah banyak bergerak untuk perjuangan masyarakat. Dari Negeri Abubu, di awal kemerdekaan, ada seorang perempuan yang aktif sebagai guru injil. Beliau adalah Nenek Buyut (Oyang) saya yang namanya diberikan kepada saya: Lusia. Sejarah hidup beliau memang masih perlu dipelajari lebih jauh. Namun dari penuturan beberapa orang tua tentang beliau, pada usia 20an tahun beliau keluar dari kampung untuk mengajarkan injil di papua dan timor. Kabarnya beliau pun wafat di tanah Timor.

Bagi saya, perempuan Nusalaut adalah perempuan pejuang untuk hidup. Hidup anak-anak, hidup komunitasnya. Aura kabaresi Ina Ata terasa di sini, yaitu bahwa spirit pejuangnya tidak mati, masih terus hidup. Spirit itu hingga kini malah mengalami reproduksi dalam berbagai bentuk. Catatan pendek  ini menjadi titik awal bagi penelusuran sejarah perjuangan hidup perempuan dari negeri lain di Nusalaut.


Selasa, 31 Januari 2017

Judulnya Takut

Judulnya memang membingungkan. Ini hanya sebuah catatan pinggiran tentang perempuan dan keputusan menikah.

Entah lah. Merinding saja jika mengetahui ada orang yang mau menikah. Rasanya seluruh sendi tubuhku melonggar dan lepas pada titik-titik ikatnya. Apalagi kalau yang mau menikah itu saya kenal sebagai perempuan cerdas, punya obsesi dan peluang menganyam karier cemerlang.

Sejumlah pertanyaan lalu melintas dalam takutku. Sudahkan ia mengenal pasangannya sedalam mungkin? Sudahkan visi hidup pribadi mereka masing-masing dihadap-hadapkan dan memang dapat dipadukan tanpa harus dilebur. Kalaupun harus dilebur, apakah segala konsekwensi telah dikalkulasikan secara matang. Duh…!

Ketakutan itu lahir dari jalan hidup yang pernah saya lalui dengan kesalahan besar di dalamnya. Kebodohan terbesar dari diriku. Kepicikan yang membawaku tersesat dalam pekatnya rimba.
Melangkah mengikat janji suci dengan sejuta angan dan impian. Namun tidak semudah itu mewujudkannya. Kejutan demi kejutan datang memukul diri dari segala penjuru. “Manisnya hanya sesaat” kata syair lagu lawas, lupa judul dan penyanyinya.

Tak ingin ada perempuan lain melewati jalan salah yang telah aku lalui. Jangan sampai deh. Sebelum melangkah, timbang segalanya seteliti mungkin. Pastikan tuntas mengenali diri dan menggodok visi, tuntas dengan segala yang perlu disepakati. Pastikan tidak akan ada pihak yang mampu merubah apa sudah disepakati. Pastikan kau akan nyaman senyaman-nyamannya bersamanya.
Karena… ketika sudah terlanjur masuk ke rimba pekat bernama pernikahan, akan habis energi dan usiamu untuk membersihkan belukar-belukar duri untuk mendapatkan jalan keluar demi sebuah kemerdekaan diri.



Catatan akhir Januari,
Perempuan di kaki gunung

Jumat, 13 Januari 2017

Menayang kenangan di awal aktualisasi komitmen menjadi pengguna medsos yang baik

Hari ini saya menerima tantangan dari beberapa kawan baik saya untuk menayangkan foto keindahan alam Maluku di facebook dan instagram. Sudah sering saya mendapatkan tantangan seperti ini, namun tidak pernah tertarik menerimanya. Sekali ini okay. Saya menerimanya dengan alasan sederhana, bahwa saya pun ingin membiasakan diri berinternet sehat di tahun 2017 ini. Syukur-syukur kalau  ada kawan yang mengikutinya. Perubahan kan dimulai dari diri kita sendiri J J J.
Saya memulai dengan menayangkan gambar yang saya ambil sendiri di Abubu, kampung asal saya, di Pulau Nusalaut. Gambar itu special bagi saya, karena berkisah tentang dua moment penting dalam hidup saya pribadi dan keluarga, yang terjadi di akhir November 2016 kemarin.

Kenangan yang pertama adalah untuk pertama kalinya mengantarkan Dave, si jantung hati saya ke kampung asalnya. Berlibur ke kampung halaman adalah kerinduan yang cukup lama dipendamnya.  Bersyukur sekali saya bias mendapatkan waktu yang tepat untuk mewujudkan kerinduannya itu. Bercengkerama dengan kaum keluarga, menikmati alam dari laut dan pantai hingga menjelajah tepi hutan bersama saudara sekampung yang sebaya, semua dijalani dengan penuh antusiasme dan gembira. Di gambar yang ditayang, dia duduk di sebuah perahu milik opa Laban. Ketika itu senja hampir berganti malam dan air laut mulai surut, sehingga para lelaki yang hendak melaut pada malamnya dengan perahu harus membawa perahu mereka ke batas pasang-surut. Dave melihat Opa Laban sedang menyiapkan perahunya, spontan dia berlari turun dari halaman belakang rumah kami ke arah Opa Laban dan menanyakan apakah dia bias meminjamkan perahu Opa untuk bermain sebentar. Opa mengijinkan. Sontak, Dave naik duduk di dalam perahu, mengambil kayuh dan mulailah petualangannya. Celotehnya yang sungguh manis bagi kami yang memandangnya dari pantai: “dave pi mangael dolo e…mudah-mudahan dapa ikan banya…” (maksudnya: Dave pergi mengail ikan dulu yah, mudah-mudahan bisa mendapatkan ikan yang banyak). Opa Laban yang baik hati berjalan di belakang perahunya mengantar Dave yang mengayuh ke arah batas pasang-surut, sambil sekali-kali mesti membantu membenarkan posisi haluan perahu. Lumayan jauh karena luasnya area surut di kampung kami. Begitu selesai, Opa Laban membopong Dave di pundaknya, kembali ke pesisir pantai. Begitulah manisnya hidup orang bersaudara di kampung yang ikut tersimpan manis di gambar itu.

Kenangan yang kedua adalah mengantarkan Nona, adik bungsu yang baru saja ditabishkan menjadi seorang pendeta, untuk pertama kalinya melayani umat Tuhan dalam ibadah minggu. Hari minggu, tanggal 27 November 2016 menjadi hari bersejarah dalam hidup Nona dan juga keluarga kami. Di hari itu, untuk pertama kalinya dia mengenakan pakaian kebesaran seorang Hamba Tuhan di Gereja Protestan dan memimpin ibadah minggu. Pertama kali dia menyampaikan Firman Tuhan dan mengangkat tangannya memberkati umat Tuhan dari mimbar gereja, dan itu terjadi di gedung Gereja Irene, Jemaat  GPM Abubu. Sebagai kakak sulungnya, saya bersyukur diberi Tuhan kesempatan untuk menjadi bagian dari sejarah itu. Kenangan yang tak terlupakan dan akan selalu disyukuri.
Setelah ditayang, beberapa kawan memberikan komentar tentang keindahan pemandangannya. “…seperti lukisan” kata Lili bin Soleman. Bagi saya gambar itu tidak hanya indah. Dia juga sangat special, karena menyimpan rapi dua kenangan tadi.  

Penayangan gambar ini pun menjadi awal dari aktualisasi salah satu niat hati di tahun 2017 ini, untuk menjadi pengguna media social yang baik. Tidak ingin menggunakan media social untuk menyebarkan hal-hal buruk atau hate speech, tidak akan menyebarkan hoax dan tidak akan mengekspose privacy baik diri sendiri maupun orang lain. Masih ada lebih dari 350 hari ke depan hingga 2017 ini berakhir , mungkin akan sulit untuk konsisten dengan niat hati ini, namun saya mau belajar memiliki konsistensi itu. Bukankah asal ada kemauan pasti ada jalan?


Untuk tantangan selama 7 hari ini, saya memilih untuk tidak mengikuti petunjuk penanyangan itu sepenuhnya, saya akan membuat refleksi singkat pada setiap gambar yang saya tayangkan, kemudian menggunakan tanda tagar pribadi saya sendiri  yaitu #itslusi dan #mydave dan tanda tagar yang menerangkan lokasi gambar yang saya pilih. Tanda tagar umum yang diminta dipasang pada setiap penayangan tidak akan saya pakai semuanya, mungkin hanya “#damaiidarimaluku” dan “#provokatordamai”. Semoga kawan-kawan yang memberikan tantangan ataupun (apalagi) yang menginisiasinya tidak kecewa dengan pilihan saya ini.


Salam internet sehat 2017.



Soya, 10 Januari 2017