Sabtu, 08 April 2017

Spirit Perjuangan Ina Ata Tidak Pernah Mati

(Catatan #1 menyongsong perayaan 2 abad perjuangan Pahlawan Nasional Indonesia Martha Christina Tijahahu, 2018)

Ina Ata adalah panggilan hormat kepada salah satu pahlawan nasional Indonesia asal Maluku, seorang perempuan kabaresi, yaitu Martha Christina Tiahahu. Keterlibatan Ina Ata dalam medan perang bersama kaum laki-laki menunjukan bahwa spirit heroik kuat berakar dalam dirinya. Tidak peduli akan usianya yang masih sangat belia, usia remaja. Sejarah gerakan rakyat melawan kolonialisme di Maluku mencatat bahwa dialah satu-satunya anak perempuan yang masuk medan perang. Dialah perempuan yang lahir dari hasil perkawinan seorang perempuan Titawaai (Marlau) dan laki-laki Abubu (Paulus Tujahahu). Ina Ata telah menjadi pelopor partisipasi perempuan dalam pemberontakan kaum protelar melawan class oppression yang dimaksudkan oleh Marx dan Engel.

Hidup di pulau kecil di tengah Laut Banda itu menjadi tantangan dan bahkan menjadi bentuk oppression yang lain bagi perempuan Nusalaut.  Tetapi mereka survive. Mereka berjuang memberi penghidupan yang baik bagi dirinya dan juga keluarganya di musim-musim paceklik karena pulau kecil itu diterpa angin ombak laut banda dan hujan selama berbulan-bulan.

Menjelang datangnya musim penghujan atau musim timur itu, dulu biasanya di akhir April perempuan (ibu-ibu) sudah harus menyiapkan persediaan makanan yang cukup. Paling tidak makanan sumber karbohidrat dari hutan termasuk sagu mentah dan sagu kering dan ikan julung kering sudah harus tersedia secara memadai untuk seluruh konsumsi anggota keluarganya sepanjang musim itu. Di belakang-belakang dapur, sudah tersedia kayu bakar yang banyak sebagai penunjang tugasnya masak-memasak selama musim.

Dulu, belum ada Puskesmas dan tenaga perawat di negeri-negeri, perempuan harus cerdas merawat anak ketika sakit dengan segala kearifan. Ketika akan melahirkan, harus bisa selamat dalam proses persalinan, harus cerdas mengurus dirinya dan bayinya selama masa nifas.

Akses ke sumber air bersih pun menjadi tantangan tersendiri di pulau anyo-anyo yang berdiri di atas batu karang itu. Di dalam negeri belum tersedia sarana air bersih untuk mencuci dan memasak, perempuan harus pergi ke hutan dimana terdapat mata air, mengangkut air di kepalanya bawa pulang ke rumah untuk keperluan keluarga. Begitu juga dengan kebutuhan mencuci pakaian, perempuan harus mengangkut cuciannya ke hutan dimana tersedian aliran air sungai. Masih tersimpan rapi di memori ingatan saya, kenangan masa kecil di kampung. Ketika itu, 1980 – 1981, saya sempat tinggal di Abubu dalam segala keterbatasan fasilitas hidup, dibandingkan dengan di Merauke (sebelumnya saya mengikuti ayah yang bertugas di Merauke selama 8 tahun). Sekali-kali saya harus membantu ibu dan uwak saya untuk mencuci pakaian di sungai kecil yang berjarak kira-kira 3 kilometer dari rumah ke arah gunung (hutan). Hidup di alam yang sangat menantang itu, membentuk mereka menjadi perempuan yang tangguh.

Di luar wilayah domestic, perempuan Nusalaut telah banyak bergerak untuk perjuangan masyarakat. Dari Negeri Abubu, di awal kemerdekaan, ada seorang perempuan yang aktif sebagai guru injil. Beliau adalah Nenek Buyut (Oyang) saya yang namanya diberikan kepada saya: Lusia. Sejarah hidup beliau memang masih perlu dipelajari lebih jauh. Namun dari penuturan beberapa orang tua tentang beliau, pada usia 20an tahun beliau keluar dari kampung untuk mengajarkan injil di papua dan timor. Kabarnya beliau pun wafat di tanah Timor.

Bagi saya, perempuan Nusalaut adalah perempuan pejuang untuk hidup. Hidup anak-anak, hidup komunitasnya. Aura kabaresi Ina Ata terasa di sini, yaitu bahwa spirit pejuangnya tidak mati, masih terus hidup. Spirit itu hingga kini malah mengalami reproduksi dalam berbagai bentuk. Catatan pendek  ini menjadi titik awal bagi penelusuran sejarah perjuangan hidup perempuan dari negeri lain di Nusalaut.