(Catatan #1 menyongsong
perayaan 2 abad perjuangan Pahlawan Nasional Indonesia Martha Christina
Tijahahu, 2018)
Ina Ata adalah panggilan hormat kepada salah satu pahlawan nasional Indonesia asal Maluku, seorang perempuan kabaresi, yaitu Martha Christina Tiahahu. Keterlibatan Ina Ata dalam medan perang bersama kaum laki-laki menunjukan bahwa spirit heroik kuat
berakar dalam dirinya. Tidak peduli akan usianya yang masih sangat belia, usia
remaja. Sejarah gerakan rakyat melawan kolonialisme di Maluku mencatat bahwa
dialah satu-satunya anak perempuan yang masuk medan perang. Dialah perempuan
yang lahir dari hasil perkawinan seorang perempuan Titawaai (Marlau) dan laki-laki
Abubu (Paulus Tujahahu). Ina Ata telah menjadi pelopor partisipasi
perempuan dalam pemberontakan kaum protelar melawan class oppression yang dimaksudkan oleh Marx dan Engel.
Hidup di pulau kecil di tengah
Laut Banda itu menjadi tantangan dan bahkan menjadi bentuk oppression yang lain
bagi perempuan Nusalaut. Tetapi mereka
survive. Mereka berjuang memberi penghidupan yang baik bagi dirinya dan juga
keluarganya di musim-musim paceklik karena pulau kecil itu diterpa angin ombak
laut banda dan hujan selama berbulan-bulan.
Menjelang datangnya musim
penghujan atau musim timur itu, dulu biasanya di akhir April perempuan
(ibu-ibu) sudah harus menyiapkan persediaan makanan yang cukup. Paling tidak
makanan sumber karbohidrat dari hutan termasuk sagu mentah dan sagu kering dan
ikan julung kering sudah harus tersedia secara memadai untuk seluruh konsumsi
anggota keluarganya sepanjang musim itu. Di belakang-belakang dapur, sudah
tersedia kayu bakar yang banyak sebagai penunjang tugasnya masak-memasak selama
musim.
Dulu, belum ada Puskesmas dan
tenaga perawat di negeri-negeri, perempuan harus cerdas merawat anak ketika
sakit dengan segala kearifan. Ketika akan melahirkan, harus bisa selamat dalam
proses persalinan, harus cerdas mengurus dirinya dan bayinya selama masa nifas.
Akses ke sumber air bersih pun
menjadi tantangan tersendiri di pulau anyo-anyo yang berdiri di atas batu karang itu. Di dalam negeri belum tersedia sarana air bersih
untuk mencuci dan memasak, perempuan harus pergi ke hutan dimana terdapat mata
air, mengangkut air di kepalanya bawa pulang ke rumah untuk keperluan keluarga.
Begitu juga dengan kebutuhan mencuci pakaian, perempuan harus mengangkut
cuciannya ke hutan dimana tersedian aliran air sungai. Masih tersimpan rapi di
memori ingatan saya, kenangan masa kecil di kampung. Ketika itu, 1980 – 1981,
saya sempat tinggal di Abubu dalam segala keterbatasan fasilitas hidup,
dibandingkan dengan di Merauke (sebelumnya saya mengikuti ayah yang bertugas di
Merauke selama 8 tahun). Sekali-kali saya harus membantu ibu dan uwak saya
untuk mencuci pakaian di sungai kecil yang berjarak kira-kira 3 kilometer dari
rumah ke arah gunung (hutan). Hidup di alam yang sangat menantang itu,
membentuk mereka menjadi perempuan yang tangguh.
Di luar wilayah domestic,
perempuan Nusalaut telah banyak bergerak untuk perjuangan masyarakat. Dari
Negeri Abubu, di awal kemerdekaan, ada seorang perempuan yang aktif sebagai
guru injil. Beliau adalah Nenek Buyut (Oyang) saya yang namanya diberikan
kepada saya: Lusia. Sejarah hidup beliau memang masih perlu dipelajari lebih
jauh. Namun dari penuturan beberapa orang tua tentang beliau, pada usia 20an
tahun beliau keluar dari kampung untuk mengajarkan injil di papua dan timor.
Kabarnya beliau pun wafat di tanah Timor.
Bagi saya, perempuan Nusalaut
adalah perempuan pejuang untuk hidup. Hidup anak-anak, hidup komunitasnya. Aura
kabaresi Ina Ata terasa di sini, yaitu bahwa spirit pejuangnya tidak mati,
masih terus hidup. Spirit itu hingga kini malah mengalami reproduksi dalam berbagai
bentuk. Catatan pendek ini menjadi titik
awal bagi penelusuran sejarah perjuangan hidup perempuan dari negeri lain di
Nusalaut.