Wajah
bundar benderang, rembulan namanya,
Senyum
pada ku di sini…
Kian
kami bertatapan, kian kuat muncul satu rasa…
Rindu
namanya
Hmmmm….
dia mengajariku merindu
Rindu
itu pada kasih Sang Kuasa,
Yang
lalu membawaku duduk di atas dermaga kayu ini
bersama
seorang sahabat,
Di
bibir pantai Teluk Ambon,
beberapa
mil jauhnya dari ujung Tanjung Alang
Kami
terbawa takdir kerjakan pelayanan kemanusiaan bagi korban konflik,
Beberapa
jauh dari rumah-rumah kami
Kumainkan
pena pilot pinjaman dari kawan,
pada salah satu halaman kosong buku modul pendampingan yang aku buat sendiri,
pada salah satu halaman kosong buku modul pendampingan yang aku buat sendiri,
rangkaikan kata dari rindu
Dia di sampingku diam menatap seberang
mungkin
menghitung lampu-lampu yang berjejer dari negeri-negeri
pesisir
tanjung Nusaniwe yang membentang sana
tak
sedikit pun bergeming ke kiri dimana ada kilauan lampu-lampu di kota Ambon
lurus
dan entah apa di kepalanya
Empat
kaki menggelantung di hujung dermaga,
tak
tersentuh kulit laut, hingga hening….
Tiada
bising lalu lalang pengguna jalanan raya
Tiada
gaduh musik dari rumah penduduk
Tiada
berisik tingkah bocah bermain girang ataupun menangis merajuk
Tiada
semua
Hanya
hening... yang teramat sepi...
Dalam,
merasuk satuan-satuan sel tubuh
Dan
pantulan cahaya rembulan dari kulit laut pun menusuk sampai ke sum-sum
Beberapa
meter dari dermaga ini
Ada
gedung bersapu cat putih
Di
situ mengungsi seratusan keluarga dari Negeri Hila/Kaitetu
Terbersit
tanya:
Adakah
mereka, para pengungsi, menikmati malam ini seperti kita?
Atau
paling tidak, adakah yang sanggup
Menatap
wajah bundar sana dan meresapi beningnya
Wajah
bundar mengajariku dari atas sana,
tentang
sebuah rasa tuk rasai susah mereka…. sesamaku, yang pasti
Rindu
pada benderang asa akan esok cerah
Rindu
pada beningnya hati dalam damai
Rindu
pada heningnya desah tanpa susah
Yah….
namanya rindu, tinggal merindu
Goresan:
Lusi, Ekkaleo Charismata Team
Malam
purnama di Hatiwe Besar, 10 Oktober 1999