Sabtu, 12 September 2015

Rindu namanya


Wajah bundar benderang, rembulan namanya,
Senyum pada ku di sini…
Kian kami bertatapan, kian kuat muncul satu rasa…
Rindu namanya
Hmmmm…. dia mengajariku merindu

Rindu itu pada kasih Sang Kuasa,
Yang lalu membawaku duduk di atas dermaga kayu ini
bersama seorang sahabat,
Di bibir pantai Teluk Ambon,
beberapa mil jauhnya dari ujung Tanjung Alang
Kami terbawa takdir kerjakan pelayanan kemanusiaan bagi korban konflik,
Beberapa jauh dari rumah-rumah kami

Kumainkan pena pilot pinjaman dari kawan, 
pada salah satu halaman kosong buku modul pendampingan yang aku buat sendiri,
rangkaikan kata dari rindu

Dia di sampingku diam menatap seberang
mungkin menghitung lampu-lampu yang berjejer dari negeri-negeri
pesisir tanjung Nusaniwe yang membentang sana
tak sedikit pun bergeming ke kiri dimana ada kilauan lampu-lampu di kota Ambon
lurus dan entah apa di kepalanya

Empat kaki menggelantung di hujung dermaga,
tak tersentuh kulit laut, hingga hening….
Tiada bising lalu lalang pengguna jalanan raya
Tiada gaduh musik dari rumah penduduk
Tiada berisik tingkah bocah bermain girang ataupun menangis merajuk
Tiada semua
Hanya hening... yang teramat sepi...
Dalam, merasuk satuan-satuan sel tubuh
Dan pantulan cahaya rembulan dari kulit laut pun menusuk sampai ke sum-sum


Beberapa meter dari dermaga ini
Ada gedung bersapu cat putih
Di situ mengungsi seratusan keluarga dari Negeri Hila/Kaitetu
Terbersit tanya:
Adakah mereka, para pengungsi, menikmati malam ini seperti kita?
Atau paling tidak, adakah yang sanggup
Menatap wajah bundar sana dan meresapi beningnya

Wajah bundar mengajariku dari atas sana,
tentang sebuah rasa tuk rasai susah mereka…. sesamaku, yang pasti
Rindu pada benderang asa akan esok cerah
Rindu pada beningnya hati dalam damai
Rindu pada heningnya desah tanpa susah
Yah…. namanya rindu, tinggal merindu


Goresan: Lusi, Ekkaleo Charismata Team

Malam purnama di Hatiwe Besar, 10 Oktober 1999