Jumat, 05 Desember 2014

Menelisik Kekerasan Sebaya Murid SD di Kota Ambon



Apa yang terlihat dari gambar ini? Aktivitas sekelompok murid SD pada jam sekolah, di dalam lingkungan sekolah? Benar.

Kemudian coba anda perhatikan bagian yang di dalam lingkaran hijau.  Mudah-mudahan gambarnya jelas terlihat dan dapat memberikan gambaran tentang apa yang sedang terjadi saat gambar diambil. Tentang apakah sebenarnya gambar ini?

Ini tentang perkelahian dua orang murid SD Negeri 2 Ambon di sekolahnya pada Selasa 02/12/2014. Gambar ini saya ambil sendiri, ketika sedang mengantarkan anak saya sekolah, yang pada saat itu kebagian shift siang.

Sekolah anak saya letaknya satu kompleks dengan sekolah tempat kejadian kasus pada gambar ini.
Yang terlibat perkelahian adalah satu murid kelas V dan satu adiknya kelas III. Bagaimana kejadian ini bisa terpotret? Kebetulan ketika itu saya sedang memotret anak saya yang sedang bersenda gurau dengan kawan sekelasnya di halaman tempat uparaca senin dan praktek olahraga maupun latihan pramuka biasa dilakukan. Mendengar sorak-sorak dari kerumunan murid di corridor sekolah itu, saya membalikkan camera ke arah kelompok murid itu, iseng saja, siapa tau ada yang menarik. Dan ternyata ada kejadian yang sangat menarik perhatiansaya.

Memang ada dua murid yang saling dorong, dan yang lainnya menyorak-nyoraki. Saya mengira mereka lagi bercanda. Biasalah…. anak-anak sehabis penat belajar. Tetapi malah ada yang dibanting ke lantai. Kaget saya. Hanya sempat melakukan 1 jepretan, lalu berlari ke arah kerumunan, melerai.
Ternyata itu bukan candaan. Si kakak kelas membanting adiknya ke lantai dan menghantam dengan pukulan bertubi-tubi karena marah. Kawan-kawan lain ikut menyoraki dan ada 1 kawan perempuan yang  ikut bukan hanya menyoraki tetapi juga ikut mendorong kepala si adik ke lantai beberapa kali. Mereka baru berhenti dengan hardikkan saya. Sorak-sorak dari tadi itu ternyata untuk memanas-manasi si kakak. Tidak ada seorang pun dari mereka yang membela si adik.

Respon kawan
Banyak hasil penelitian tentang kekerasan sebaya dan bullying pada anak menggambarkan bahwa dalam setiap kasus kekerasan sebaya khususnya pada anak SD, respon yang diperlihatkan oleh kawan-kawan sebaya adalah: bystander  yaitu menyoraki, ikut melakukan artinya ikut memukul atau menghantam dan membela korban. Respon terbanyak adalah bystander.

Yang saya saksikan adalah, hampir semua murid yang berkerumum untuk menyaksikan kejadian itu merespon sebagai bystander; persis seperti yang ditemui oleh para researcher dalam berbagai kasus dan tempat. Setelah ditelusuri, mereka yang berdiri sebagai bystander adalah kakak kelas (murid kelas VI), juga kawan sekelas dan adik-adik kelas (kelas V, IV dan III). Selain bystander, ada juga yang ikut memukul si adik pada saat terjerembab ke lantai, termasuk si gadis bertubuh pendek. Gadis itu ternyata teman sekelas dari murid yang sudah terjerembab itu. Tidak satu pun yang bertindak membela yang dipukul atau melerai. Bahkan kakak kelas VI yang ada di situ pun tidak. Mereka masuk sebagai kelompok bystander. Miris yah. Tetapi itulah realita. Dari sini kita bisa memotret wajah nyata dunia pendidikan kita.

Pendidikan masih belum cukup kuat
Baru pada awal Oktober lalu kita dikejutkan dengan beredarnya video di youtube tentang kejadian kasus kekerasan terhadap seorang perempuan murid SD Perwari Bukut TInggi di Sumatra Barat, yang dilakukan oleh kawan-kawan kelasnya pada tanggal 18 September (videanya masih bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=BabV7fjfJyI). Di awal Mei tahun ini juga ada satu kasus yang lebih miris lagi yaitu meninggalnya Renggo (berusia 11 tahun) yang adalah murid SD Negeri 09 Makassar – Jakarta karena dianiyaya oleh kakak kelasnya di akhir April (lihat http://www.jpnn.com/read/2014/05/05/232432/Siswa-SD-Tewas-Dihajar-Kakak-Kelas-). Pertengahan November lalu, satu kawan sekelas anak saya menikam bagian belakang kepala dari kawan perempuan yang duduk tepat di sampingnya dengan menggunakan pencil hingga keluar darah. Pasti masih banyak kasus lainnya baik yang diketahui publik maupun tersembunyi di balik dinding-dinding kelas atau sekolah; dan kasus yang saya share di sini menambah panjang daftarnya.

Beragam alasan yangmenyebabkan munculnya perilaku kekerasan sebaya. (Alasan berkelahinya dua murid yang saya ceritakan ini akan saya bahas terpisah kemudian). Apapun alasannya, perilaku itu pasti mencengangkan dan tentu tidak dapat dibenarkan.

Orang akan menyalahkan dunia pendidikan, baik pendidikan yang secara formal berlangsung sekolah maupun yang dijalankan di rumah dan masyarakat. Tidak salah memang. Dari beberapa guru yang sempat saya ajak ngonrol di waktu terpisah, ada yang berpendapat bahwa kekerasan fisik antar murid SD merupakan akibat buruk dari sinetron – sinetron laga yang marak di televisi. Pendapat ini mungkin ada benarnya juga. Tetapi menurut saya pendidikanlah yang paling pantas dipersalahkan dan tidak pantas mereka (insan pendidik) menyalahkan pihak lain lagi. Tamparlah muka sendiri.

Apapun yang ditayangkan ataupun disuguhkan media elektronik, buku dan lainnya tidak akan memberi pengaruh buruk bila murid-murid atau siswa-siswa memiliki kemampuan untuk menguasai dan mengelola potensi kekerasan dalam dirinya. Sistim prevensi dan proteksi ini yang belum cukup dibangun oleh sistim pendidikan formal kita. Hal ini diperburuk tentu dengan lemahnya mekanisme pendampingan dari keluarga (dan masyarakat).

Sadar atau tidak, anak-anak kita sejak dini sudah harus dibekali dengan pendidikan non-violence. Mereka harus dibesarkan dalam non-violent circle. Faktanya, dunia pendidikan kita terlalu mengarah pada aspek-aspek kognisi semata. Sementara aspek afeksi dan sosial yang bisa menjadi media utama pendidikan non violence tadi menjadi aspek sisipan kalau bukan tambalan. Ini yang melemahkan peran dunia pendidikan dalam hal ini.


Kompromi dengan permainan bernuansa kekerasan di sekolah

Peran pendidikan yang masih lemah tadi, pasti akan terus melemah dengan absennya mekanisme control terhadap aktivitas murid selama jam sekolah. Lihat saja apa yang terjadi saat bel untuk break atau keluar main berbunyi, murid-murid pada berhamburan bebas ke luar kelas dengan rupa-rupa dan beragam gaya mereka.

Apa yang sempat saya amati di sekolah anak saya adalah bahwa mayoritas anak, utamanya laki-laki cenderung memilih permainan fisik bernuansa kekerasan, misalnya yang terlihat pada gambar di samping ini.

Ketika bermain seperti ini, anak-anak ini mungkin saja tidak menyadari akan resiko bahaya dari apa yang mereka mainkan seperti patah tulang, dan lainnya.

Ada satu bentuk kompromistic yang terbangun dalam masyarakat kita, yang ternyata ikut membangun perilaku kekerasan  di kalangan murid SD, yaitu bahwa orang tua harus kompromi dengan model-model bermain dari anak-anak yang bernuansa kekerasan. Wajar bila mereka melakukan permainan-permaianan fisik yang keras dan kasar, agar terbentuk pribadi dengan fisik dan mental “keras” dan tidak yang lembek, sehingga siap menghadapi tantangan dunia yang juga keras dan kasar. (Parahnya lagi, secara umum hal itu hanya diperbolehkan untuk anak laki-laki. Perempuan tidak. Rada-rada mendiskriminasi perempuan).

Apakah memang harus seperti itu? saya tidak setuju. Itulah sumber malapetaka. Awal dari dunia yang penuh dengan tindakan-tindakan kekerasan. Kalau tujuannya adalah membentuk fisik yang keras, berikan latihan “bela diri” yang lebih terarah dan tertanggungjawab. Kalau tujuannya adalah mental yang membaja, berikan atau masukkan pendidikan budi pekerti yang menempa mentalnya dalam berbagai aspek hidupnya.

Lagi-lagi, peran pendidikan mesti diarahkan pada performa dan target yang tepat. Bisakah itu? Mari kita Tanya pada rumput yang bergoyang.

Saya jadi ingat, ketika lagi giat-giatnya mengkampanyekan perlindungan terhadap anak di tahun 1999 – 2003, saya sering menggunakan puisinya Dorothy Law Nolte. Rasa-rasanya puisi itu harus dicetak dan dibingkai manis kemudian dipajang di rumah dan setiap kelas, sebagai pengingat. Dengan puisinya Dorothy Law Nolte menawarkan kepada kita satu pola mendidik yang sebetulnya applicable secara sederhana. Simak puisinya di bawah ini dan semoga menemukan inspirasi bagaimana mendidik anak kita atau anak-anak di sekitar kita untuk kehidupan yang lebih baik, untuk generasi masa depan anti kekerasan.